Oker dan Misteri Candi Borobudur, Belum Terpecahkan hingga Saat Ini - Mabur.co

Oker dan Misteri Candi Borobudur, Belum Terpecahkan hingga Saat Ini

Mabur.co – Dibangun sekitar tahun 778 Masehi atau kurang lebih 1250 tahun silam, Candi Borobudur masih menyimpan begitu banyak misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. 

Candi Buddha terbesar dan termegah di dunia ini dihiasi 2.672 panel relief indah serta 504 arca sehingga menjadikannya sebagai keajaiban arsitektur peninggalan leluhur bangsa Indonesia. 

Salah satu misteri pada Candi Borobudur yang hingga kini masih belum bisa terpecahkan dan tetap menjadi perdebatan adalah keberadaan lapisan berwarna kuning pada permukaan relief. 

Jika kita berkeliling ke setiap bangunan dan melihat deretan panel relief Candi Borobudur, kita akan menyaksikan relief tersebut dilapisi warna kuning yang menempel pada batu-batu candi.  Lapisan ini kerap disebut sebagai oker. 

Lalu apakah sebenarnya oker itu? Apa fungsi dan kegunaan lapisan berwarna kuning itu? Kenapa pula lapisan itu masih ditemui sampai saat ini? Lalu bahan apakah yang digunakannya?

Dikutip dari akun resmi museum dan cagar budaya warisan dunia Borobudur, ada banyak teori yang berkembang dan membahas soal oker atau lapisan kuning pada relief Candi Borobudur tersebut. 

Salah satu teori paling populer menyebutkan, bahwa oker atau lapisan kuning itu dibuat untuk kepentingan fotografi. 

Pada masa pemugaran pertama Candi Borobudur sekitar tahun 1907-1911 yang dipimpin oleh Theodoor van Erp, teknologi kamera saat itu masih sulit untuk menangkap detail batu gelap, akibat permukaan batu berwarna hitam.

Karena itu lapisan kuning itu kemudian ditempelkan oleh para arkeolog Belanda pada permukaan relief candi agar kualitas foto yang dihasilkan bisa terlihat dengan jelas. Menampakkan tekstur relief yang sempurna.

Lalu ada pula yang menyebut sisa warna kuning itu adalah bekas bahan untuk membuat cetakan relief yang ditempelkan oleh peneliti-peneliti dari Belanda dengan harapan memiliki tiruan relief tersebut.

Pasalnya, pada sekitar tahun 1899, Von Saher pernah melakukan pencetakan beberapa panel relief yang kemudian digunakan untuk pameran di Paris pada 1900.

Namun, apakah benar hanya sesederhana itu? Padahal jika kita pergi mengunjungi Candi Borobudur, lapisan kuning itu masih tetap ada, dan tersisa hingga saat ini.

Selain itu mengapa sejumlah relief lainnya tidak dilapisi oker, meski juga difoto atau dicetak?

Sebuah teori yang diungkapkan dari hasil penelitian mendalam oleh Meucci (2007) menyebutkan, bahwa terdapat lapisan bening keras di atas lapisan kuning atau oker tersebut.

Struktur ini dikatakan mirip dengan teknik penguatan batu pada bangunan-bangunan monumen Eropa di abad ke-19. 

Sementara itu hasil pengujian laboratorium berdasarkan analisis petrografi menunjukkan bahwa ada lapisan-lapisan jamak (multilayer) dalam relief Candi Borobudur.

Pengujian juga menunjukkan ditemukannya beberapa lapisan pada permukaan batu yang dilapisi oker, termasuk lapisan tanah liat (clay) dan mineral silikat, hingga adanya indikasi kaolin.

Adanya senyawa silikon yang menempel pada sampel batu relief Candi Borobudur ini dikatakan menyerupai bahan penolak air komersial dari kelompok polisiloksan (polysiloxane).

“Lapisan kuning ini kemungkinan bukan sekadar untuk fotografi. Tetapi juga berfungsi sebagai konsolidan atau penguat permukaan batu. Terbuat dari campuran silikat alkali, pigmen, kapur, dan lapisan dasar kaolin,” ungkap akun resmi museum dan cagar budaya warisan dunia Borobudur.

Meski masih sebatas teori, menarik untuk membahas dan meneliti oker atau lapisan kuning pada permukaan relief Candi Borobudur ini.

Jika benar lapisan itu berfungsi untuk menutup pori batu, sehingga mencegah air bisa masuk dan menghindari perusakan pada relief candi, maka betapa luar biasanya ilmu pengetahuan dan kemampuan para leluhur di masa itu, dalam menjaga warisannya agar bisa kita nikmati hingga di masa kini. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *