Mabur.co – Riak-riak peringatan Hari Santri masih mewarnai media sosial tanah air. Kalau dulu santri identik dengan kitab kuning, kini santri menulis novel, puisi, cerpen, script film, pengajar fisika, matematika, ahli arsitektur, arkeolog, antropolog, memegang kamera, laptop, belajar coding serta teknologi digital lainnya.
Film Pendek
Di Sokaraja Banyumas, Faiz Musyafa santri PP Abdul Djamil Tebuireng 17, membuat film pendek “Ghosob dan Sisa Untukmu.” Keterbatasan alat bukan alasan.
“Kami harus benar-benar memaksimalkan alat yang ada. Situasi ini mengajarkan kami untuk kreatif, bijaksana, dan fokus pada kualitas cerita,” ujar Faiz, dikutip tebuireng.online, setelah ia meraih Juara 2 Skenario Terbaik SANFFEST 2025 Kementerian Kebudayaan RI dan Juara 1 Film Pendek Fiksi Festival Film Santri Nasional 2026.
SANFFEST itu bukan festival kecil. Digagas Neno Warisman bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dengan tema The Verses in Motion.
“Film adalah diplomasi budaya. Dengan narasi yang kuat, santri bisa menjadi duta Islam Indonesia di mata dunia,” kata Fadli Zon, dikutip darunnajah.com.
Dari 42.000 pesantren, lahir bahasa visual baru: bukan dakwah menggurui, tapi cerita tentang ghosob sendal, cinta monokrom, dan sisa makanan yang jadi rezeki.
Dari Santri ke Sastrawan
Novel juga sama. Dari pesantren lahir Abidah El Khalieqy dengan Perempuan Berkalung Sorban, Ahmad Fuadi dengan Negeri 5 Menara, Habiburrahman El Shirazy dengan Ayat-ayat Cinta.
Karya-karya mereka laris manis di layar lebar perfilman tanah air. Mereka bukan sekadar menulis roman, mereka menulis pembaruan.
“Pesantren merupakan panggung kehidupan dengan beragam kisah manusia di dalamnya. Dari cinta, persahabatan, hingga pergulatan identitas,” tulis arina.id dalam ulasan 7 Novel tentang Pesantren.
Pesantren berbasis budaya kini tumbuh. Pesantren Seni Sonobudoyo Bantul, Pesantren Budaya di Sumenep yang ngaji wayang, Tebuireng yang punya studio film.
Budayawan, penyair, atau sastrawan yang berlatar belakang pesantren bertebaran di berbagai media budaya: Emha Ainun Nadjib, Gus Mus, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imran, M. Jadul Maula, Ulfatin Ch, Bustan Basir Maras, M. Faizi, Faisal Kamandobat dan banyak lagi lainnya yang tak mungkin bisa disebut satu per satu di sini karena banyaknya list nama-nama itu. Inilah yang sering dilupakan.
Beasiswa untuk Santri
Jelang Hari Santri 2026, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyerahkan beasiswa kepada 424 mahasantri dan 58 santri penggerak, tulis Espos.id, dikutip mabur.co, Jumat (23/10/2026).
“Hari ini kita serahkan beasiswa terkait program Pesantren Obah. Di antaranya beasiswa Ma’had Aly untuk santri yang kuliah di pesantren serta beasiswa santri penggerak,” kata Luthfi seusai acara di Gradhika Bhakti Praja, Semarang 19 Oktober 2026, dikutip regional.espos.id.
Beasiswa itu Rp1 juta per semester selama 6 semester. Kecil? Tidak bagi santri yang harus mondok sambil kuliah kitab kuning.
“Beasiswa ini merupakan bukti nyata komitmen Pemprov terhadap dunia pesantren. Dukungan ini diharapkan melahirkan generasi santri unggul di bidang akademik dan spiritual,” ujar Luthfi.
Warga di sekitar pesantren merasakan. Pak Darsono, penjaga makam di Tebuireng, bilang, “Santri sekarang pinter-pinter, bikin film, nanti yang nonton cucu saya. Dulu cuma ngaji, sekarang ngaji sambil ngobrol sama dunia.”
Nasehat KH. Hasyim Asy’ari masih relevan: jaga tradisi lama yang baik, ambil baru yang lebih baik.
Seperti syair Ebiet G Ade yang sering dinyanyikan santri di pos ronda: “Kita masih di sini, masih dengan mimpi.”
Santri kini sudah berani, lebih update. Mereka mampu menembus dari mihrab ke layar lebar, dari sarung ke kamera. ***
