Mabur.co – Sejumlah permainan tradisional khas Kalimantan dilombakan dalam ajang Festival Erau yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, akhir pekan ini.
Bertempat di Rumah Lamin Adat, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur, ajang ini digelar sebagai upaya melestarikan sekaligus mengenalkan permainan tradisional kepada generasi muda.
Sejumlah permainan yang dilombakan antara lain lomba menyumpit, begasing, belogo hingga pertandingan ketapel yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Rangkaian Erau Adat Pelas Benua 2026
Dilansir mabur.co dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, Sabtu (10/10/2026), ajang perlombaan permainan tradisional ini sendiri menjadi bagian dari rangkaian Erau Adat Pelas Benua 2026. Festival ini rutin digelar setiap tahun guna menjaga kesinambungan adat dan budaya Kutai.
Saat membuka acara, Bupati Ardiansyah Sulaiman, bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Salehudin II, nampak turut menjajal permainan menyumpit.
Menyumpit ini merupakan permainan yang menggunakan sumpit, berupa alat berbentuk tabung panjang untuk melontarkan peluru berupa anak sumpit agar mengenai sasaran.
Dalam tradisi masyarakat Kalimantan, sumpit pada zaman dahulu kerap dikenakan sebagai alat berburu di hutan. Agar bisa tepat sasaran, setiap pemain wajib fokus dan berkonsentrasi dalam mengatur arah bidikan maupun kekuatan tiupan.
Selain menyumpit permainan tradisional lain yang dilombakan adalah begasing. Permainan begasing sama dengan permainan gasing. Dilakukan dengan cara memutar gasing menggunakan tali yang dililitkan di tepinya. Gasing yang bertahan paling lama berputar akan dinyatakan sebagai pemenang.
Sementara itu belogo merupakan permainan tradisional yang dimainkan menggunakan kepingan pipih biasanya dari batok kelapa yang disebut logo. Serta alat pemukul dari bambu bernama campak.
Sepintas belogo ini mirip permainan tradisional benthik di Jawa. Setiap pemain harus menggerakkan logo hingga meluncur mengenai sasaran dengan cara dipukul menggunakan campak.
Selain harus mengatur arah dengan benar, pemain juga harus mengatur kekuatan pukulan agar logo bisa tepat mengenai sasaran.
Permainan tradisional lainnya adalah ketapel. Permainan ini sama dengan permainan ketapel di daerah lain.
Setiap pemain harus membidik sasaran dengan alat pelontar sederhana yang biasanya terbuat dari ranting kayu bercabang dan berbentuk huruf Y.
Memanfaatkan gaya pegas pada karet, peluru berupa batu kemudian dilontarkan dengan cara menarik lalu melepaskannya. Semakin tepat peluru mengenai sasaran maka ia akan ditetapkan sebagai pemenang.
Bisa Terus Dilestarikan dan Dimainkan Generasi Muda
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, berharap ajang permainan tradisional khas Kalimantan khususnya Kutai ini bisa terus dilestarikan dan dimainkan generasi muda.
Sebab menurutnya warisan budaya tidak hanya hadir dalam bentuk tarian, musik, atau upacara adat saja. Melainkan juga melalui permainan tradisional.
Karena itulah permainan tradisional harus terus diberi ruang untuk tetap tumbuh agar tidak hilang begitu saja.
Terlebih permainan tradisional juga memiliki banyak manfaat mulai dari melatih fisik, konsentrasi, hingga strategi. ***
