Ibu Agung Hj. Andi Depu yang Mendidik dengan Kesetiaan pada Bendera

4 Min Read
Black-and-white portrait of a woman wearing a veil and a medal-decorated dress, facing the camera.
Ibu Agung Hj. Andi Depu menjelang usia senja. (Foto: Bincang Muslimah)

Mabur.co – Jika Ratu Shima mendidik lewat hukuman, Kalinyamat lewat armada, Colliq Pujie lewat aksara, Andi Depu mendidik lewat keberanian meninggalkan istana.

Lahir di Tinambung, Mandar, Sulawesi Barat, 1908, dengan nama Sugiranna Andi Sura, anak bungsu Raja Balanipa ke-50 Laju Kanna Idoro. Kalangan istana akrab memanggilnya Andi Depu.

Pendidikan formalnya hanya Volkschool, sekolah rakyat 3 tahun, tidak tamat karena dipingit sebagai putri.

“Meskipun berasal dari keluarga kerajaan, pendidikan yang ditempuh Andi Depu sangat terbatas. Hal ini justru dijadikan kesempatan bagi Andi Depu untuk menggunakan waktu luangnya dengan bergaul bersama rakyat dan memperdalam agama,” tulis BincangMuslimah, dikutip mabur.co, Senin (12/10/2026).

Umur 12 Tahun Khatam Baca Alquran 30 Juz

Agama ia pelajari bukan dari kelas, tapi dari guru mengaji yang dipanggil ke istana. Umur 12 tahun sudah khatam 30 juz bersama saudara-saudaranya. Kegemarannya memanjat pohon, menunggang kuda, menenun sarung lipa sa’be.

Perempuan dengan style tomboy dari Mandar ini, akhirnya naik tahkta pada 1939 sebagai Mara’dia Balanipa ke-52 (Ratu).

Setahun menikah dengan Andi Baso Pabiseang yang juga raja. Tapi ia lihat Belanda makin kuat. Titik didihnya memuncak.

Pada 1943 Jepang membentuk organisasi perempuan untuk propaganda. Andi Depu ditunjuk jadi ketua di Mandar. Orang lain melihat itu antek Jepang, Andi Depu melihat itu momentum sekolah dan belajar.

“Pada 1944, Hj. Andi Depu mendirikan organisasi Fujinkai, suatu wadah gerakan yang melibatkan wanita, sebagai tempat pelatihan dan penggodokan semangat juang wanita Mandar untuk ikut berperan dalam merebut kemerdekaan,” tulis situs IKPNI merujuk buku resmi Kemendikbud.

Di balik jahitan dan dapur umum, ia ajarkan perempuan Mandar manajemen logistik, pertolongan medis, cara berorganisasi modern.

Ia pinjam panggung penjajah untuk mengajar nasionalisme. Puncak pendidikannya adalah perceraian. 1945 suaminya memilih kooperatif dengan Belanda. Andi Depu memilih turun gunung.

“Demi turun ke medan gerilya, Andi Depu mengambil keputusan yang sangat radikal pada masa itu, beliau memilih untuk bercerai dengan suaminya Andi Baso Pabiseang yang saat itu dianggap lebih condong memihak terhadap Belanda,” tulis Medium.com.

Takhta dan Kemewahan Istana adalah Belenggu

“Bagi beliau, takhta dan kemewahan istana adalah belenggu yang menahannya.” Ia tinggalkan istana, tinggal di rumah panggung kecil bersama putranya Andi Parenrengi yang jadi markas KRIS Muda, Kebangkitan Rahasia Islam Muda, yang ia dirikan 21 Agustus 1945, empat hari setelah merdeka.

Organisasi itu menyebar sampai Bone, Makassar.

Puncaknya 28 Oktober 1945, tentara NICA minta ia turunkan Merah Putih di Istana Balanipa. Ia tolak. Ia ditangkap Desember 1946. Rakyat Mandar menyebutnya Ibu Agung.

Bukan karena ia tinggi, tapi karena ia mengajari bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi untuk memimpin, cukup sekolah keberanian.

“Anak-anak Mandar harus belajar,” katanya, bukan di kelas Belanda, tapi di hutan, di Fujinkai, di dapur umum. Ia wafat 18 Juni 1985, diakui Pahlawan Nasional 2018 lewat Keppres 123/TK/2018.

Salah satu rumah sakit terbesar di Polman-Sulbar kini bernama RSUD Hj Andi Depu, pengingat bahwa ratu ini tidak meninggalkan istana megah, tapi meninggalkan keberanian untuk memilih kelas yang berbeda, kelas keberpihakannya pada rakyat.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar