Hanya 3 di Dunia, Wayang Beber Peninggalan Abad ke-13 Tersimpan di Rumah Dalang Gunungkidul 

6 Min Read
Foto pertunjukan wayang beber Desa Gelaran di rumah Dr. Wahidin Soedirohoesoedo di Yogyakarta diambil Kassian Cephas sekitar tahun 1902. (Foto: Koleksi Museum Leiden Belanda via picryl.com)

Mabur.co – Kabupaten Gunungkidul ternyata menyimpan sebuah wayang beber kuno peninggalan abad ke-13.

Menariknya wayang yang konon hanya tersisa 3 buah di dunia itu tidak disimpan di museum atau ruang arsip pemerintah. Melainkan di sebuah rumah milik warga.

Adalah Wisto Utomo (57) seorang dalang asal Kalurahan Bejiharo, Karangmojo, Gunungkidul sosok yang menyimpan wayang tersebut.

Ia mengaku mendapat wayang itu sebagai pusaka warisan keluarga yang diwarisan turun-temurun dari leluhurnya. Ia sendiri merupakan pewaris dari generasi ke-15.

Wayang Beber Remeng Mangunjaya

Dilansir dari arsip Dinas Kebudayaan DIY, Minggu (11/10/2026), wayang beber yang dimiliki Wisto Utomo merupakan Wayang Beber Remeng Mangunjaya.

Wayang beber ini berbeda dengan wayang kulit. Karena hanya berupa lembaran kertas berbentuk persegi panjang dengan gambar cerita yang bisa digulung.

Menurut penjelasan Wisto, awalnya wayang beber itu dimiliki kakeknya Mbah Dalang Kromosentono. Setelah meninggal, wayang beber kemudian diserahkan kepada anak tertua Sapartono yang merupakan kakak dari ibu Wisto bernama Rubiyem. 

Namun sebagai pewaris benda pusaka, Sapartono tidak bisa merawat benda tersebut dengan baik. Karena tidak “kuat” menjadi pewaris wayang beber, keluarga Sapartono mengalami musibah. 

Pada 2002 Sapartono meninggal dunia dan semenjak saat itu, wayang beber kemudian diwariskan ke ibu dari Wisto yakni Rubiyem yang merupakan anak bungsu dari Kromosentono.

Karena hal itulah wayang beber tersebut sangat dikeramatkan dan disakralkan bahkan menjadi pusaka keluarga yang tidak boleh diwariskan ke sembarang orang. 

Tak hanya itu, untuk sekadar mengeluarkannya dari kotak tempat penyimpanan saja harus ada syarat dan ritual khusus termasuk pantangan yang harus dipenuhi.  

Sejumlah syarat itu antara lain harus menyediakan masakan nasi kenduri. Sementara pantangannya adalah membuka wayang pada hari pasaran Pon dalam hitungan Jawa. Jika pantangan dilanggar, maka dipercaya akan terjadi musibah menimpa keluarga pewaris.

Sepuluh Buah

Masih berdasarkan catatan Dinas Kebudayaan DIY, Wayang Beber Remeng Mangunjaya itu awalnya berjumlah sepuluh buah.

Namun semenjak diterima dari keluarga Sapartomo, gulungan wayang berkurang dua sehingga tinggal delapan. 

Dari selapan gulungan wayang tersisa, terdapat dua gulung wayang beber yang tidak boleh dibuka, sehingga sampai saat ini tidak diketahui isi cerita yang ada di dalamnya.

Sementara itu dari enam gulung wayang beber, empat di antaranya berisi adegan cerita panji. Sedangkan dua gulung wayang beber berisi cerita Jaka Tarub. 

Menurut penjelasan Wisto Utomo, empat gulung wayang beber adegan cerita panji menjadi yang paling sering dimainkan dalam pertunjukan.

Gulungan ini terbuat dari kertas kuno tebal berwarna cokelat yang disebut deluwang. Panjangnya mencapai 4 meter sedangkan lebarnya sekitar 70 cm. Di ujung kertas terdapat kayu bulat setinggi 90 cm yang berfungsi sebagai penggulung.

Gambar karakter pada wayang beber ini dilukis menggunakan teknik lukis tangan. Sedang teknik pewarnaan gambar menggunakan bahan tradisional dengan corak berwarna hitam, biru, merah, putih, cokelat, dan abu-abu.  

Secara visual, ilustrasi lukisan dibatasi dengan garis pada bagian atas dan bawah yang mengingatkan kita pada ukiran panel yang terdapat di candi. Ada gambar yang dibaca dari kanan ke kiri namun ada pula yang dibaca dari kiri ke kanan.

Dilansir Detik, untuk memainkan wayang beber ini Wisto mengaku mendapat keterampilan mendalang dari hasil pengetahuan yang diberikan kakek maupun keluarganya secara turun temurun. 

Tidak ada patokan berapa lama durasi pementasan. Bisa mencapai dua jam, namun tak jarang juga hanya sekitar 10 menit. Lama tidaknya pementasan itu akan ditentukan oleh pihak yang menanggap. 

Wisto mengaku biasa mementaskan wayang beber dengan dibantu dua asisten yang bertugas menggulung dan membuka wayang.

Wayang beber itu kemudian ditancapkan pada gedebok pisang sehingga tidak perlu dipegangi.

Proses penceritaan lakon sendiri dilakukan dengan menggunakan sebuah kayu penunjuk. Wisto sebagai dalang akan menyampaikan cerita sambil menunjuk setiap adegan yang tergambar di wayang beber.

Wisto sendiri mengaku tidak mengetahui secara pasti bagaimana leluhur moyangnya bisa menyimpan wayang beber yang diperkirakan dibuat era 1240-an tersebut. 

Namun ia menyebut bahwa dari cerita turun-temurun wayang itu dibawa ke Gunungkidul saat terjadi Geger Pecinan di Surakarta yang berarti sekitar 1740-an.

Dari 2 kotak berisi wayang beber 1 kotak dibawa ke Gunungkidul sementara 1 kotak lainnya dibawa ke Pacitan. 

Wayang Beber Asli Tersisa Tiga

Hal itu sejalan dengan pernyataan Dinas Kebudayaan (Disbud) Gunungkidul yang menyebut bahwa wayang beber asli yang masih tersisa saat ini hanya ada tiga buah di dunia. 

Satu ada di Gunungkidul (milik Wisto), satu ada di Pacitan, dan satu lagi ada di Museum Leiden Belanda. Yang menarik wayang beber yang ada di Leiden diketahui sangat mirip dengan milik Wisto dan sudah ada di sana sejak 1846.

Sementara wayang beber asal Dusun Gelaran, Gunungkidul, milik Wisto juga diketahui pernah dipentaskan di rumah seorang pahlawan nasional Wahidin Soedirohoesodo pada 1904. 

Hal itu dibuktikan dari foto karya fotografer Keraton Yogyakarta keturunan Indonesia-Belanda, Kassian Chepas, yang menjadi koleksi digital Universitas Leiden, Belanda.

Sayangnya, meski telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada 2024 lalu, menutut catatan Dinas Kebudayaan DIY, sejumlah gulungan wayang beber yang disimpan di rumah Wisto secara umum berada dalam kondisi rapuh dengan kualitas deluwang yang diperkirakan mengalami degradasi kekuatan.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar