Jawa dan Islam: Bukan Cuma Soal Alkulturasi, Tapi Nalar

8 Min Read
Sampul buku Alam Pikiran Jawa-Islam karya Maharsi. Foto: Istimewa

Kalau membicarakan hubungan Islam dan Jawa, biasanya kita akan segera bertemu dengan daftar yang itu-itu saja: Wali Songo, sekaten, wayang, slametan, masjid beratap tumpang, sampai perdebatan panjang tentang apakah tradisi Jawa tertentu sesuai dengan ajaran Islam atau tidak.

Pokoknya, begitu mendengar istilah Islam-Jawa, yang terbayang adalah perjumpaan dua kebudayaan yang kemudian menghasilkan berbagai tradisi khas.

Tentu saja, semua itu penting. Namun, ada pertanyaan yang barangkali lebih menarik: ketika Islam bertemu dengan Jawa, sebenarnya apa yang terjadi di dalam kepala orang Jawa?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana membuat daftar tradisi yang dianggap sebagai hasil akulturasi.

Sebab, kebudayaan bukan hanya soal apa yang dilakukan orang, melainkan juga bagaimana mereka berpikir, memahami dunia, dan memberi makna terhadap kehidupan.

Dua masyarakat bisa melakukan ritual yang mirip, tetapi belum tentu memiliki cara berpikir yang sama. Sebaliknya, dua tradisi yang tampak berbeda bisa saja menyimpan logika yang berdekatan.

Di sinilah π΅π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ πΎπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘œπ‘› menjadi menarik. Naskah kuna ini, dalam kajian Maharsi, filolog dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tampil bukan sekadar cerita tentang raja, silsilah, pergantian kekuasaan, atau peristiwa masa lampau.

Karya ini menyimpan kekayaan pengetahuan tentang cara orang Jawa-Islam memahami Tuhan, alam, manusia, kekuasaan, dan hubungan di antara semuanya.

Dengan kata lain, kalau selama ini kita sibuk bertanya bagaimana Islam masuk ke Jawa, barangkali sekarang kita perlu bertanya bagaimana Islam ikut membentuk cara orang Jawa berpikir tentang dunia? Lalu bagaimana jika hal itu dimuat di dalam sebuah naskah kuna seperti π΅π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ πΎπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘œπ‘›?

π΅π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ πΎπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘œπ‘› tercatat dalam koleksi British Library, London, dengan nomor katalog BM Add. MS. 12320. Mikro filmnya tersimpan di Kawedanan Ageng Punakawan Widya Budaya Keraton Yogyakarta.

Naskah ini ditulis oleh Tumenggung Jayengrat, seorang ulama-pujangga yang makamnya saat ini berada di wilayah administrasi Kradenan, Srumbung, Magelang, Jawa Tengah.

Naskah ini ia tulis atas prakarsa Sultan Hamengku Buwana I, pendiri Kesultanan Yogyakarta, yang tiada lain adalah mertuanya sendiri.

Naskah ini dikaitkan dengan kehidupan intelektual dan kebudayaan keraton pada pertengahan abad ke-18. Dalam penelitian Maharsi, naskah ini dikaji melalui kerja filologi, analisis struktural, dan pendekatan semiotik. Alhasil, jadilah hasil penelitian itu di buku ini.

Tentu, mengkaji naskah tua bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan hanya dengan membaca beberapa halaman, lalu membuat kesimpulan besar tentang kebudayaan Jawa.

Teks klasik bisa mengandung kata yang tidak jelas, bagian yang rusak, atau persoalan penyalinan. Karena itu, kerja filologi yang ditempuh Maharsi mencakup pemeriksaan teks, pembandingan penggunaan kata dengan sumber yang relevan, dan penyuntingan secara kritis.

Barulah setelah urusan teks ditangani, Maharsi masuk ke dalam pertanyaan yang lebih menarik: apa sebenarnya logika yang bekerja di balik cerita-cerita π΅π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ πΎπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘œπ‘› tersebut?

π‚πšπ«πš 𝐁𝐞𝐫𝐩𝐒𝐀𝐒𝐫 π‰πšπ°πš-𝐈𝐬π₯𝐚𝐦

Selama ini, hubungan Jawa dan Islam sering dibicarakan dengan bahasa akulturasi. Istilah ini berguna untuk menjelaskan perjumpaan kebudayaan, tetapi kadang membuat pembahasan berhenti terlalu cepat.

Kita menemukan unsur Jawa dalam tradisi Islam, menemukan unsur Islam dalam kebudayaan Jawa, lalu menyimpulkan bahwa keduanya telah berakulturasi.

Padahal, setelah itu masih ada pekerjaan rumah yang lebih penting. Bagaimana unsur-unsur tersebut dihubungkan? Mengapa suatu simbol diberi makna tertentu?

Bagaimana ajaran agama ditempatkan dalam pandangan masyarakat tentang alam, manusia, dan kekuasaan? Apakah Islam sekadar menambahkan unsur baru ke dalam kebudayaan Jawa, ataukah perjumpaan itu turut mengubah cara orang Jawa memahami hubungan antara berbagai unsur kehidupan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membawa kita dari persoalan akulturasi menuju persoalan nalar. Nalar di sini bukan sekadar kemampuan seseorang untuk berpikir logis seperti sedang mengerjakan soal matematika.

Nalar kebudayaan adalah cara suatu masyarakat menghubungkan berbagai hal, menentukan apa yang dianggap penting, serta menyusun penjelasan tentang dunia yang mereka hidupi.

Manusia Jawa tidak pernah berpikir di ruang hampa. Cara mereka memahami alam, kekuasaan, agama, dan kehidupan sosial dibentuk oleh pengalaman sejarah, bahasa, simbol, dan pengetahuan yang diwariskan.

Ketika suatu masyarakat mengalami perubahan keagamaan, perubahan itu pun tidak selalu berhenti pada pergantian keyakinan. Ia bisa memengaruhi cara mereka menafsirkan tradisi, menyusun hubungan sosial, dan memahami kedudukan manusia di hadapan Tuhan.

Karena itulah, hubungan Jawa dan Islam menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai pertemuan dua tradisi, melainkan sebagai proses pembentukan cara berpikir. Tradisi Jawa menyediakan pengalaman sejarah, bahasa simbolik, dan cara menghubungkan berbagai unsur kehidupan.

Islam menghadirkan ajaran, orientasi ketuhanan, serta kerangka keagamaan yang ikut mengarahkan pemaknaan terhadap kehidupan. Pertemuan keduanya tidak harus berarti bahwa salah satu sepenuhnya menghapus yang lain. Bisa jadi, yang terjadi adalah penataan ulang hubungan antargagasan sehingga terbentuk cara memahami dunia yang khas.

Di situlah kebaruan penelitian Maharsi ini. Ia bukan sekadar menghadirkan pernyataan bahwa Islam dan Jawa telah berinteraksi sejak masa lampau. Hal itu sudah menjadi bagian penting dari pembicaraan sejarah dan kebudayaan Jawa.

Mengulang pernyataan tersebut tentu tidak salah, tetapi belum cukup untuk menjelaskan apa yang ditawarkan penelitian ini. Yang lebih menarik adalah upaya membaca hubungan Jawa-Islam pada tingkat struktur berpikir.

π΅π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ πΎπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘œπ‘› lantas tidak hanya menampilkannya sebagai karya sastra. Ia adalah tempat untuk menelusuri bagaimana masyarakat pada zamannya menghubungkan berbagai unsur kehidupan dan membangun pengertian tentang dunia.

𝐏𝐒π₯𝐒𝐑𝐚𝐧 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠 π‰πšπ°πš p𝐚𝐝𝐚 𝐈𝐬π₯𝐚𝐦


Dengan demikian, kebaruan yang ditawarkan oleh Maharsi terletak pada pergeseran fokus: dari hubungan Jawa-Islam sebagai perjumpaan dua kebudayaan menuju hubungan Jawa-Islam sebagai pembentukan dan penataan cara berpikir. Salah satu contohnya, misalnya, adalah konsep π‘šπ‘Žπ‘›π‘’π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘–π‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘€π‘’π‘™π‘Ž 𝐺𝑒𝑠𝑑𝑖.

Maharsi, di buku ini, berdasarkan kajiannya atas π΅π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ πΎπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘œπ‘›, menunjukkan bahwa wacana dan laku π‘šπ‘Žπ‘›π‘’π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘–π‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘€π‘’π‘™π‘Ž 𝐺𝑒𝑠𝑑𝑖 itu adalah wacana dan laku khas Islam. Mπ‘Žπ‘›π‘’π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘–π‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘€π‘’π‘™π‘Ž 𝐺𝑒𝑠𝑑𝑖 oleh orang Jawa dipahami sebagai β€œzat” yang memerlukan cahaya atau tuntunan dari Allah swt melalui ajaran Islam.

Gambaran ini menarik. Sebab pencapaian spiritual tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Ada perjalanan, ada tujuan, dan ada tuntunan yang mengarahkan perjalanan tersebut agar keselamatan diturunkan. Islam tidak sekadar hadir sebagai tempelan pada pemikiran Jawa. Ia menempati posisi penting dalam susunan makna yang menjelaskan bagaimana manusia seharusnya menempuh perjalanan spiritualnya.

Selain π‘šπ‘Žπ‘›π‘’π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘–π‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘€π‘’π‘™π‘Ž 𝐺𝑒𝑠𝑑𝑖, ada juga konsep keselarasan yang diisyaratkan oleh π΅π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ πΎπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘œπ‘›. Kehidupan yang baik, dalam nalar jagad kebudayaan Jawa-Islam berkaitan dengan tertatanya hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, hubungan sosial, kehidupan rumah tangga, hubungan antara raja dengan rakyatnya. Bahkan, keselarasan juga harus diwujudkan di dalam hubungan antara manusia dengan alam, jin, serta alam tetumbuhan dan alam binatang.

Islam memberikan orientasi pada kekukuhan dan kebakohan konsep ini. Itu baru dua contoh wacana dan laku orang Jawa. Belum contoh-contoh lain. Jika dibabarkan semua, niscaya akan terlihat satu kesimpulan. Bahwa Jawa yang dihidupi hari ini, terutama di lingkungan kebudayaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, merupakan bagian penting dari tampilan Islam dalam wajah yang telah dinalar oleh orang Jawa.

Artinya apa? Ketika orang Jawa memilih Islam, maka itu artinya pilihan itu didasarkan pada tidak hanya kesadaran doktrinal melalui pengucapan kalimat syahadat, melainkan juga kesadaran intelektual.
(*)

TAGGED:
Share This Article
Avatar photo
Dosen UIN Sunan Kalijaga, Peneliti Nisan
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar