Mabur.co- Sebanyak 30 peserta konco menus mengikuti diskusi ‘Merawat Ingatan, Tatas, Titis dan Tetes’ yang digelar di Omah Menus Kotagede bersama M. Yaser Arafat dan Ki Supriyadi Sapta.
Penanggung jawab acara, Satria Anggang Saputra menuturkan, Menceritakan Nusantara adalah sebuah komunitas yang dibuat pada tahun 2019 sebelum Covid. Fokus utamanya nguri–uri kebudayaan di Nusantara, khususnya di Yogyakarta.
“Pada hari ini adalah acara perdana bagi konco menus menggelar diskusi yang mengusung payung besar bertajuk ‘Merawat Ingatan, Tatas, Titis, Tetes’. Upaya kolektif kita untuk memahami sejarah secara tatas (tuntas), menggunakannya secara titis (tepat sasaran) dalam kehidupan hari ini, demi menjemput masa depan yang tetes (berhasil dan membawa berkah),” ucapnya, Rabu (6/5/2026).

Satria mengatakan, dalam budaya Jawa, konteks kematian bukanlah akhir yang kelam, melainkan transisi spiritual luhur bertajuk mulih ing jati, wangsul ing mulya.
Di tengah fenomena anak muda yang kehilangan arah, memahami filosofi kesripahan dan lelayu menjadi ruang refleksi penting.
“Bagi masyarakat Jawa, kematian melibatkan ritual ketat yang sarat makna, dari memandikan jenazah hingga doa bersama sebagai bentuk penghormatan atas penyatuan dimensi fisik dan metafisik yang sakral,” ucapnya.
Satria menjelaskan, manusia berusaha mencari kebenaran melalui mistik, karena mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada, pasti ada yang menciptakan dan ada pula yang menjaga.
“Oleh karena itu, manusia mempercayai hal- hal yang gaib untuk membuat hidupnya bahagia, sejahtera, dan damai,” ucapnya.
Di sisi lain, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, M. Yaser Arafat, M.A, memaparkan, perjalanan arwah diyakini terus berlanjut melalui tradisi selamatan, mulai dari geblag hingga puncaknya pada nyewu (seribu hari).
Ritual ini adalah wujud bakti keluarga guna menjaga harmoni antara dunia lahir dan batin.
“Anak muda hari ini pun kadang bingung jika di dalam keluarga atau saudaranya ada yang meninggal. Harus bagaimana, bagaimana cara memandikan, mengafani, urutan upacaranya apa saja, batik yang digunakan apa, sesaji yang disiapkan apa, hingga bagaimana tata cara peringatan 3 sampai 7 harian serta pemasangan kijing yang semestinya,” ucapnya.

M. Yaser Arafat, menuturkan, kematian dalam adat Jawa biasa disebut kesripahan atau lelayu.
Tradisi seputar kematian dilakukan dengan cara yang khas, berbeda dengan tradisi wilayah satu dengan yang lain.
“Lihat saja masyarakat Jawa biasa menggelar selamatan dari mulai hari kematian hingga bertahun-tahun lamanya,” ujarnya. ***



