Mayat ODGJ Ternyata Jadi Bahan Praktik Mahasiswa Kedokteran - Mabur.co

Mayat ODGJ Ternyata Jadi Bahan Praktik Mahasiswa Kedokteran

Mabur.co – Tahukah kamu bahwa selama ini Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang biasa ditemui di jalan raya, bila meninggal, mayatnya akan dijadikan sebagai alat praktik belajar mahasiswa kedokteran?

Ya, mayat itu biasa disebut dengan kadaver. Kadaver merupakan mayat yang diawetkan, yang digunakan mahasiswa kedokteran sebagai alat praktik anatomi untuk mempelajari struktur dan fungsi organ tubuh manusia.

Kampus-kampus yang memiliki Fakultas Kedokteran, biasanya akan mencari kadaver di sejumlah rumah sakit dengan mengajukan izin tertentu. 

Pihak rumah sakit sendiri biasanya kerap menerima jasad atau jenazah orang meninggal, yang ternyata tidak diklaim  atau tidak diketahui siapa keluarganya. Termasuk diantaranya adalah jenazah ODGJ. Jenazah mereka inilah yang biasanya dijadikan kadaver. 

Hal ini diungkapkan dr. Gia Pratama, seorang dokter IGD yang aktif menulis buku serta memberikan edukasi melalui media sosial. 

Dalam podcastnya bersama Raditya Dika di kanal YouTube, ia mengatakan apabila ada ODGJ yang meninggal di jalan dan jenazahnya tidak diambil oleh keluarga, maka jasad tersebut dapat diberikan kepada fakultas kedokteran untuk keperluan pembelajaran mahasiswa. 

“Biasanya, pihak berwenang akan menunggu hingga dua minggu sebelum jenazah diserahkan. Makanya kita mahasiswa bisa belajar,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam praktiknya, ada kadaver yang diperjualbelikan, namun dengan alasan akademis hal tersebut diperbolehkan.

Sebelum diambil oleh pihak kampus, jenazah bisanya akan diawetkan terlebih dahulu. Dengan cara disuntik menggunakan cairan formalin agar seluruh organ dalamnya awet dan tidak rusak.

Pihak universitas dapat mengajukan permintaan kadaver sesuai kebutuhan, dengan catatan jasad yang diminta tersedia. Setelah menerima jasad tersebut dapat, pihak kampus bisa langsung menggunakannya untuk keperluan pendidikan.

“Saat ini kan jumlah Fakultas Kedokteran di Indonesia hampir mencapai 50-an. Padahal setiap fakultas kedokteran diwajibkan memiliki kadaver sebagai sarana pembelajaran. Sehingga memang banyak (jenazah yang dibutuhkan),” katanya.

Biasanya, praktik penggunaan kadaver dilakukan secara bertahap, mulai dari proses pembedahan, pengambilan organ seperti jantung, paru, dan sebagainya. Prosesi ni dilakukan dengan cara jasad dipotong-potong sampai hanya tersisa tulang. 

Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat memahami bagaimana bentuk dan struktur organ dalam manusia. Mulai dari aorta, katup jantung, hingga organ-organ vital lainnya.

“Gimana kita tahu cara kerjanya kalau kita tidak tahu bendanya,” kata dr. Gia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *