Kisah Kesaktian Sri Sultan HB IX, Bisa Berada di Tempat Berbeda Waktu yang Sama

4 Min Read
Portrait of a seated person in traditional attire: green fez, dark jacket with pearls, pink patterned pants, and a decorative shawl draped over the lap; hands folded.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Sri Sultan Hamengku Buwono IX tak hanya dikenal sebagai sosok pemimpin yang bersahaja dan sangat dicintai rakyatnya. 

Lebih dari itu, Sri Sultan HB IX juga dikenal sebagai seorang raja besar trah Mataram yang dipercaya memiliki kemampuan linuwih atau di luar kemampuan nalar manusia. 

Setidaknya itulah yang muncul dalam benak masyarakat Yogyakarta, khususnya mereka yang pernah hidup satu zaman dengan Sultan HB IX.

Bukan Raja Biasa

Seorang tokoh kampung Mergangsan Lor, Wirogunan, Yogyakarta, Romo In, pernah berujar bahwa Sri Sultan HB IX bukan hanya seorang raja biasa.

Diungkapkan kepada mabur.co, Jumat (2/10/2026), ia meyakini bahwa Raja Kesultanan Yogyakarta ke-9 itu memiliki sejumlah ajian atau ilmu kesaktian tingkat tinggi yang biasa dimiliki orang-orang Jawa kuno.

Dari sejumlah kesaktian itu, salah satu yang dimiliki adalah kemampuannya berada di sejumlah lokasi atau tempat berbeda di waktu yang sama.

Kemampuan di luar nalar itu diyakini terkait dengan ajian tingkat tinggi leluhur Jawa untuk membelah raga atau menggandakan diri menjadi beberapa wujud fisik.

Keyakinan akan kesaktian itu muncul karena konon ia pernah menjadi saksi melihat langsung Sri Sultan HB IX di suatu lokasi, meski ternyata ada orang lain yang juga menyaksikannya di lokasi berbeda namun di waktu yang sama.

Kesaksian Romo Tirun

Hal serupa juga pernah disampaikan KRT Jatiningrat atau biasa disapa Romo Tirun, salah satu kerabat sekaligus sesepuh Keraton Yogyakarta.

Beberapa tahun lalu, pernah muncul wawancara tentang Romo Tirun yang merupakan keponakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX itu. Saat itu ia masih menjabat sebagai Pengageng Tepas Dwarapura (lembaga yang menangani kehumasan dan publikasi keraton).

Romo Tirun mengungkapkan, sebuah peristiwa tak masuk akal terkait sosok Sri Sultan Hamengku IX. Ia menyebut peristiwa itu terjadi tepat saat peristiwa bersejarah Serangan Umum 1 Maret 1948 yang terjadi di Yogyakarta. 

Saat itu Kota Yogyakarta yang menjadi ibu kota RI sepenuhnya dikuasai oleh pasukan tentara Belanda, pasca-serangan Agresi Militer II. Sri Sultan HB IX yang merupakan Menteri Pertahanan sekaligus Raja Kesultanan Yogyakarta sangat dibatasi gerak-geriknya.

Ia dijaga dan dilarang bepergian dari kediamannya yang berada di kompleks Keraton Yogyakarta. Hal itu jelas membuatnya tak bisa membantu perjuangan gerilya yang dilakukan pejuang Indonesia. 

“Namun anehnya, meski Sultan HB IX ada di keraton saat peristiwa serangan itu terjadi, banyak kesaksian dari pejuang yang melihat beliau ikut berperang mengangkat senjata di medan laga,” ujar Romo Tirun. 

Menurut Romo Tirun, peristiwa itu jelas tidak masuk akal sehingga masyarakat meyakini Sultan HB IX memiliki kemampuan tak biasa atau ilmu linuwih tersebut.

Selain diyakini bisa berada di tempat berbeda di waktu yang sama, Sultan HB IX juga diyakini memiliki kemampuan linuwih lainnya yang dikaitkan dengan ajian masyarakat Jawa Kuno. 

Seperti ajian yang dapat memunculkan wibawa sangat besar sehingga berhasil mengusir konvoi tank serta pasukan Belanda yang hendak menerobos dan menyerang keraton tanpa harus melawannya.

Hingga kemampuan membelokkan badai besar saat melakukan perjalanan demi melindungi rombongannya.

Terlepas benar atau tidaknya sejumlah hal tersebut, setidaknya seperti itulah anggapan masyarakat Yogyakarta terhadap sosok Sri Sultan HB IX.

Sultan dipercaya memiliki pengaruh sangat besar dan luar biasa bagi rakyatnya. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar