Yogyakarta — Di tengah kondisi semakin menurunnya penggunaan bahasa Jawa saat ini, ternyata masih ada generasi muda yang aktif mempopulerkan dan mengedukasi bahasa Jawa krama inggil melalui media sosial.
Melalui konten-konten yang diunggah di sejumlah platform, para influencer ataupun konten kreator muda ini seolah menjadi harapan baru upaya pelestarian bahasa daerah di era digital. Melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, mereka tak lelah memperkenalkan bahasa Jawa krama inggil dengan cara yang lebih modern dan mudah diterima.
Salah satu konten kreator yang konsisten mengangkat bahasa Jawa krama inggil adalah Saviera Zulykha Ajeng. Lewat konten singkat yang komunikatif, Ajeng menghadirkan materi kosakata, contoh percakapan, hingga kesalahan umum dalam penggunaan bahasa Jawa.
Lewat kontennya Ajeng kerap menampilkan situasi nyata, seperti percakapan dengan orang tua, guru, atau tokoh masyarakat. Ia juga sering membandingkan bahasa ngoko dan krama inggil agar perbedaannya mudah dipahami.
Menurut Ajeng, krama inggil memiliki peran penting dalam menjaga nilai unggah–ungguh. “Kalau bahasanya hilang, unggah–ungguh-nya juga bisa ikut luntur,” katanya.
Gaya penyampaian Ajeng yang santai dan tidak menggurui membuat kontennya banyak diminati. Apalagi ia memiliki suara yang sangat merdu sehingga mudah masuk ke telinga. Pendekatan tersebut menjadikan bahasa Jawa halus terasa lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Tak sedikit pelajar dan mahasiswa yang menjadikan kontennya sebagai referensi belajar.
Selain aktif di media sosial, Ajeng juga kerap diundang sebagai narasumber dalam kegiatan literasi bahasa dan budaya. Ia terus mendorong generasi muda agar tidak ragu menggunakan bahasa Jawa krama inggil dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya ingin anak muda bangga menggunakan bahasa Jawa, bukan malah merasa kuno,” ujarnya.
Ajeng juga pernah menjadi narasumber dalam webinar Aku Wong Jawa Ketiga, yang membahas strategi konten kreator bahasa Jawa untuk memperluas portofolio digital dan meningkatkan peluang ekonomi. Kehadirannya menunjukkan perannya sebagai kreator yang menggabungkan pelestarian budaya dengan profesionalisme di dunia digital.
Di luar aktivitas konten, Ajeng sendiri dikenal sebagai Moderat Milenial Agen Inspiratif Kementerian Agama RI, presenter di DSN TV, hingga penyiar Radio Pro 4 RRI Yogyakarta, serta Duta Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya dalam menyampaikan pesan bahasa, budaya, dan moderasi beragama.
Kehadiran konten kreator seperti Saviera Ajeng dinilai sangat penting sebagai jembatan antara tradisi dan dunia modern. Media sosial menjadi ruang baru bagi bahasa Jawa untuk tetap hidup dan berkembang.
Melalui dedikasinya, Ajeng membuktikan bahwa bahasa Jawa krama inggil tidak harus kaku dan kuno, tetapi dapat dikemas secara menarik dan relevan di tengah arus digitalisasi.



