Mabur.co – Sejak tahun 2009, UNESCO telah menetapkan batik sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Hal ini tentu bukan hanya karena berbagai motif indah yang dimiliki oleh batik, melainkan terkandung nilai filosofis dari budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Batik merupakan warisan budaya dan salah satu identitas banga yang diwariskan turun-temurun hingga saat ini.
Pendiri Museum Batik Tiga Negeri Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Agni Malagina, mengatakan, batik sangat penting untuk dikurasi.
Misalnya kain batik yang dimiliki dikumpulkan dari segi nilai, kualitas, konteks sejarah, atau kekuatan cerita kurang signifikan. Kurasi bisa membantu ketika memilih.
Signifikansi Sejarah
Kemudian memberikan penilaian terkait nilai signifikansi sejarah. Signifikansi atau nilai penting budaya, nilai penting pendidikan, nilai penting ekonomi dan lain-lain.
“Kita bisa melakukan penilaian semacam itu sebenarnya. Kemudian tujuan dari kurasi ada sistem atau proses pendokumentasian. Karena dengan mengkurasi kita memilih, kita menilai. Pasti kita juga melakukan semacam pendataan. Dengan pendokumentasian, kita tahu kain-kain yang memiliki nilai kurasi signifikan. Adanya kurasi juga penting ketika kita mau menyajikan narasi. Nanti bisa menjadi story telling yang akan menyampaikan visi, misi, dan kenapa kain ini penting untuk dipajang, untuk dipresentasikan. Kurasi pun menjadi bagian dari cara menyajikan batik secara lebih terarah,” ucapnya saat diwawancarai mabur.co via telepon, Selasa (29/9/2026).

Menurut Agni, kain batik selain bisa dilihat sebagai produk tekstil, karena melalui kurasi maka bisa pula menjadi artefak budaya yang memiliki nilai estetika. Nilai pengetahuan, sejarah, bahkan kemudian identitas pun terbentuk dari kain-kain yang terkurasi.
“Kalau ditanya lebih detail kenapa kurasi batik jadi penting. Kalau dalam konteks kami di Museum Batik Lasem atau Museum Batik Tiga Negeri ini, tentu untuk menjaga kualitas dan autentisitas. Sebab kurasi membantu kita, terkait identifikasi kain, teknik pembuatan, bahan, warna, detail motif, dan kualitas pengerjaan.
Mungkin juga berapa lama pengerjaannya sehingga kain yang ditampilkan punya standar yang menurut saya bisa dipertanggungjawabkan. Kerja kurasi adalah juga meriset untuk menjaga kualitas.
Selain itu adalah bisa saja mengungkap cerita, narasi signifikan, terkait kenapa kain dikurasi. Ini sangat penting untuk sejarah, nilai penting untuk budaya, nilai penting untuk pendidikan, nilai penting untuk ekonomi itu tadi.
Bahkan mungkin juga nilai penting untuk keagamaan, ritual, karena bisa mengungkap cerita di balik kain. Misalnya kain itu seru, baik motifnya, tentang warna, tentang teknik, penggunaan kain batik, fungsi sosial, analisa motif-motif dengan filosofi, dan seterusnya.
Bahkan kurasi ini juga mengungkap cerita di balik kain sedalam-dalamnya. Kita bisa membedakan karya yang punya nilai khusus atau keistimewaan. Misalnya terkait kain yang sudah langka tahun pembuatannya. Kain era 1850-an, misalnya. Tentu langka motifnya, teknik pembuatannya yang juga berbeda dari yang ada di masa kini. Usianya beda, kemudian kualitas material, konteks sejarah yang bisa beda juga lalu komunitas pada era kain itu dibuat juga berbeda-beda,” ucapnya.
Membangun Ciri atau Spesifikasi
Menurut Agni pula, sisi penting lain kurasi ketika harus membangun ciri atau spesifikasi. Misalnya di Museum Batik Tiga Negeri. Walaupun basis ceritanya adalah Batik Lasem secara umum, tetapi ada satu yang diunggulkan yaitu cerita Batik Tiga Negeri. Saat ini kain Batik Tiga Negeri sudah jarang sekali dibuat di Pekalongan dan di Solo atau Yogyakarta.
Masih banyak dibuat hanya di Lasem. Oleh sebab itu dalam mengkurasi kain-kain Batik Tiga Negeri juga berbeda. Sebab artisannya bisa saja berbeda. Dengan kata lain, kain-kain yang terkurasi ini mengisahkan cerita Batik Tiga Negeri secara kronologis. Kemudian juga dengan mengkurasi batik kain, bisa melakukan penilaian lalu memberikan apresiasi pada artisan batik dan publik.
Untuk yang dipajang di area Batik Tiga Negeri Lasem, dulu memang bernilai barang komoditas, barang dagangan, tetapi dengan melakukan kurasi di museum, maka bisa dilihat batik tidak cuma sebagai barang dagangan. Tapi juga ada batik sebagai karya dan pengetahuan, sehingga ketika kain ini dipresentasikan, ditampilkan di museum dengan tema Tiga Negeri, pengunjung bisa memahami atau bisa mengetahui bahwa ada keterampilan, waktu, kreativitas, dan pengetahuan yang dituangkan oleh artisan batik yang membuat kain batik yang hadir di depan publik memang mempunyai pertaruhan nilai.
“Kurasi juga bisa membantu sebagai dasar edukasi dan interpretasi. Membangun pengalaman untuk pengunjung, bagaimana menikmati tema-tema tertentu dari hasil kurasi kain kita. Jadi dari batik yang terkurasi juga bisa bikin pameran, katalog, story telling, tur interpretatif, tur edukasi. Bahkan sampai bisa jadi promosi destinasi daya tarik wisata, misalnya wisata budaya,” ucapnya.
Jaring Ekosistem Kehidupan Batik
Agni menandaskan, dari kurasi pula bisa menghubungkan simpul-simpul jaring ekosistem kehidupan batik dan itu artinya ada pertaruhan mengungkap identitas masyarakat, ada identitas daerah. Kain yang dipilih pun bukan hanya karena sekadar indah. Tapi memang mampu mewakili dan menjelaskan satu perjalanan ekosistem batik dari masa ke masa dalam konteks sejarah dan sebagainya tersebut.
Kurasi ini juga dapat memperlihatkan bahwa motif di Batik Lasem bukan sekadar ornamen, tapi ada bagian sejarah perjumpaan, kelindan etnis budaya seperti Tionghoa, Jawa, Muslim, Eropa di daerah pesisir yang ditautkan oleh rantai nilai perdagangan, migrasi, perkembangan kreativitas masyarakat dan konteks sejarah serta politik di mana Batik Lasem itu dibuat.
Berada, tumbuh, dan akan terus tumbuh karena aspek pelestariannya masih ingin identitas batik itu terjaga.
“Saya kira ini tidak jauh beda dengan daerah-daerah lainnya,” ucapnya.
