Mabur.co – Karya visual bertajuk “Berdiri di Ruang Sunyi” merupakan buah kontemplasi mendalam dari perupa Juan Dali, mahasiswa jurusan seni lukis, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Dalam rilis yang diterima mabur.co, Sabtu (17/10/2026) pagi, dijelaskan, lukisan di atas kanvas ini sedang dipamerkan dalam pameran seni rupa Kulon Progo Annual Art 2026 yang berlangsung pada 13–27 Oktober 2026 di Gedung Kesenian Wates, Kulon Progo.
Baca Juga: Pameran Lukisan Kulon Progo Annual Art 2026, Ajak Masyarakat Siaga Hadapi Tantangan Kehidupan
Agenda seni tahunan ini resmi dibuka oleh Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc, M.M., serta dikuratori secara apik oleh duo kurator Drs. Suhardi dan Surajiya, S.Sn.
Dalam pameran tahun ini, Juan Dali menjadi bagian dari 40 seniman lokal yang secara kolektif merespons tema besar Tatag melalui sudut pandang dan tafsiran estetis mereka masing-masing.
Refleksi Keteguhan Batin Manusia
Di tengah keberagaman interpretasi tersebut, karya Juan Dali hadir bukan sekadar sebagai pajangan visual seorang pelukis dengan alat kerjanya, melainkan sebuah ruang refleksi filosofis tentang esensi keteguhan batin manusia.
Menurut Juan Dali, tatag adalah sebuah konsep keteguhan yang melampaui sekadar kata berani. Ia adalah kondisi mental yang tidak gampang terkejut oleh perubahan (tan kagetan), tidak mudah heran oleh keajaiban dunia (tan gumunan), dan tegak berdiri tanpa goyah di tengah badai.
Dalam lukisan ini, potret diri yang berdiri tegak adalah personifikasi hidup dari nilai tatag tersebut. Postur yang lurus menandakan bahwa dalam menjalani keseharian —yang sering kali monoton, melelahkan, atau bahkan menyakitkan— ketegaran hati adalah sebuah keharusan mutlak jika ingin meraih cita-cita.
Dalam amatan mabur.co, di tangan Juan Dali, kuas dan palet digenggam bukan sebagai beban kerja, melainkan sebagai simbol otoritas penuh atas nasib.
“Manusia yang tatag tidak membiarkan keadaan mendikte hidupnya: dialah yang memegang kendali untuk menorehkan warna di atas kanvas takdirnya sendiri,” papar Juan Dali.
Rupanya, filosofi keteguhan ini menemukan pasangannya yang radikal pada tulisan yang tertera di t-shirt figur tersebut: “No Risk, No Story”.
Ini adalah sebuah peringatan keras bagi jiwa-jiwa yang terbuai dalam kenyamanan. Hidup yang terlalu aman, yang selalu menghindar dari ketidakpastian, pada akhirnya akan menjadi sebuah lembaran kosong yang tanpa makna.
Berani Ambil Risiko
Juan Dali memaparkan, manusia yang tidak berani mengambil risiko tidak akan pernah menjadi apa-apa. Tatag tidak berarti kita berjalan tanpa rasa takut, melainkan kesiapan penuh untuk melangkah maju memeluk risiko, menyadari bahwa setiap sakit, luka, dan kegagalan adalah babak cerita yang diperlukan untuk membentuk sebuah mahakarya kehidupan.
Dimensi filosofis ini dipertegas oleh lanskap latar belakang yang mistis dan puitis. Langit di belakang figur tersebut tidak lagi hitam legam, melainkan sehampar warna biru gelap yang sangat dalam (deep blue).
Warna ini memancarkan kedalaman intuisi, kebijaksanaan, sekaligus misteri eksistensial yang mahaluas. Namun, yang membuat ruang ini menjadi magis adalah hadirnya nuansa terang di bagian bawah cakrawala.
Kontras antara biru gelap di atas dan pendar cahaya di bawah ini menciptakan ilusi ruang dimensi yang sangat jauh —sebuah simbol visual yang mengindikasikan batas antara dunia nyata yang kita pijak saat ini dengan masa depan atau cita-cita yang tak terbatas.
Di tengah kedalaman langit itu, beberapa bintang tetap bersinar. Mereka bertindak sebagai pemandu arah, penanda bahwa di dalam ruang sunyi yang paling dalam sekalipun, harapan tidak pernah benar-benar padam bagi mereka yang memiliki keteguhan batin.
Nuansa terang di dimensi yang jauh itu seolah memanggil figur tegap tersebut untuk terus melangkah.
Sebagai salah satu representasi dari 40 suara seniman Kulon Progo, kehadiran karya “Berdiri di Ruang Sunyi” di Gedung Kesenian Wates menjadi jangkar penting bagi para apresiator pameran.
Karya ini mengingatkan bahwa kesunyian bukanlah sebuah kesendirian yang menyedihkan, melainkan laboratorium spiritual tempat nilai tatag ditempa.
Melalui sapuan kuas Juan Dali, publik diajak untuk melihat bahwa hanya manusia yang berani berdamai dengan sunyi dan memeluk risiko yang berhak menuliskan cerita hebat dalam sejarah kehidupannya. ***
