Mabur.co – Lukisan berjudul Bale Sigolo-golo karya seniman Gana ini mencuri perhatian dalam Pameran Kulon Progo Annual Art 2026 yang digelar di Kulon Progo, Selasa (13/10/2026) siang.
Mengangkat lakon kisah wayang kulit tentang tragedi jebakan licik Kurawa untuk membunuh para Pandawa, lukisan akrilik berukuran 100×150 cm ini begitu relevan dengan kondisi saat ini.
Sosok wayang mirip tokoh Bima atau Werkudara terlihat digambarkan tengah berlari sigap menyelamatkan 4 saudaranya dengan cara dibopong menggunakan kedua lengannya.
Di belakangnya, api berkobar dahsyat melalap sebuah bangunan yang telah hangus terbakar bersama hutan di sekelilingnya.
Bulan purnama nampak tak bisa beranjak, terjebak kepungan asap yang memerah di kejauhan.

Seekor hewan mirip garangan putih juga terlihat lari ketakutan di tengah situasi malam yang mencekam itu.
Refleksi Kebakaran Hutan
Lewat selembar lukisan itu, sang pelukis seolah sedang mengingatkan akan peristiwa kebakaran hutan yang tengah melanda Sumatra serta Kalimantan saat ini.
Ancaman kematian para Pandawa, ketakutan hewan-hewan, kesigapan Bima, serta siasat licik Kurawa, menjadi bagian dari kisah yang menggambarkan tragedi tersebut.
Lukisan itu hanyalah satu dari 40 karya yang ditampilkan dalam Pameran Kulon Progo Annual Art 2026 yang digelar hingga 27 Oktober mendatang.
Tahun ini, pameran mengangkat tema “Tatag”, sebuah kata dalam bahasa Jawa yang menggambarkan kesiapan seseorang menghadapi berbagai keadaan dan persoalan dalam kehidupan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito, menjelaskan, tema tersebut dipilih untuk mengajak masyarakat bersiap menghadapi beragam tantangan dalam kehidupan.
Baik itu tantangan dalam bidang politik, hukum, ekonomi, maupun sosial. Kesiapan itu juga diperlukan ketika menghadapi bencana dan berbagai musibah yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Relevan dengan Hari Jadi ke-75 Kulon Progo
Menurut Joko, semangat tersebut relevan dengan momentum hari jadi ke-75 Kulon Progo yang diperingati bulan ini. Ia berharap daerah ini semakin siap menghadapi berbagai tantangan dan terus berkembang menjadi lebih baik.
Dalam pameran tahun ini, pihak penyelenggara membatasi jumlah peserta menjadi 40 seniman dengan total 40 karya yang dikompetisikan.
Hal tersebut diharapkan dapat mendorong seniman menghadirkan karya berkualitas sekaligus memberi ruang bagi gagasan dan pesan yang ingin disampaikan melalui seni.

Untuk menjaga kualitas karya, panitia telah menyiapkan tim kurator guna memberikan rekomendasi mengenai kelayakan karya untuk dipamerkan. Penyelenggara juga menyiapkan apresiasi terhadap karya dan seniman yang terlibat.
Joko menambahkan, sejumlah hotel dan pihak bandara telah mengajukan permintaan agar karya-karya seniman Kulon Progo itu dapat ditampilkan di tempat mereka. Peluang tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan apresiasi, termasuk kepada pengunjung dari luar daerah maupun luar negeri.
Gedung Kesenian Kulon Progo sendiri dipilih sebagai lokasi pameran karena menjadi salah satu ruang seni representatif yang dimiliki Kulon Progo sebelum hadirnya Taman Budaya. Pemanfaatan gedung ini diharapkan dapat mengoptimalkan kembali fungsinya sebagai ruang kegiatan seni dan kebudayaan.
Melalui Pameran Kulon Progo Annual Art 2026, karya seni tidak hanya menjadi objek untuk dinikmati, tetapi juga medium untuk menyampaikan gagasan dan mengajak masyarakat membaca berbagai persoalan kehidupan.
Sejalan dengan tema “Tatag”, pameran ini menempatkan seni sebagai salah satu cara untuk merefleksikan tantangan sekaligus membangun kesiapan menghadapinya.
