Masuki Tahun ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ini Rangkaian Acaranya

Mabur.co-Setiap peringatan kenaikan tahta sultan, Keraton Yogyakarta selalu memperingati dengan mengadakan rangkaian tradisi Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem. Tahun ini memasuki tahun ke-38, Sri Sultan Hamengku Buwono X naik tahta.  

Upacara sakral ini menjadi momen penting dalam sejarah dan budaya Jawa, menandai peralihan kekuasaan serta penerusan garis keturunan raja yang telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun di Keraton Yogyakarta.

Jumenengan berasal dari kata Jawa “dumeneng” yang berarti berdiri atau naik tahta. Tradisi ini bukan sekadar seremoni politik, melainkan juga mengandung makna spiritual dan simbolik. 

Seorang raja dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Oleh karena itu, prosesi jumenengan dijalankan dengan tata cara adat yang ketat dan penuh makna filosofis.

Tradisi Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem berlangsung selama lima hari berturut-turut di beberapa tempat berbeda sesuai dengan rangkaian tradisi yang sudah ada.

Dilansir mabur.co dari media sosial resmi Keraton Yogyakarta, berikut rangkaian tradisi Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem tahun 2026.

Ngebluk

Tradisi peringatan kenaikan tahta ini diawali dengan prosesi ngebluk. Sebagai persiapan, seluruh peralatan yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu.

Bahan-bahan yang dibutuhkan diproses dan disiapkan, terdiri dari tepung beras, gula, tape singkong, serta air.

Ngebluk merupakan upacara membuat jladren (adonan apem) yang dibagi menjadi dua jenis adonan, yaitu apem mustaka (apem besar) dan apem alit (apem kecil).

Proses ini dilakukan oleh abdi dalem Kerapak di Kagungan Dalem Bangsal Sekar Kedhaton pukul 08.00 sampai 12.00 yang akan dilaksanakan pada Jumat, 16 Januari 2026, dan dilaksanakan secara tertutup.

Ngapem

Jladren (adonan apem) yang sudah mengembang dalam semalam kemudian dimasak menjadi apem.

Ngapem atau proses membuat apem dipimpin oleh GKR Mangkubumi selaku putri sulung sultan, apem yang dibuat adalah apem alit dan apem mustaka. Dalam pembuatan apem, tidak ada andil dari abdi dalem laki-laki.

Ngapem menjadi simbol permohonan maaf atau ampunan kepada Tuhan dan sesama manusia. Proses dilaksanakan sehari setelah Ngebluk pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, dan dilaksanakan secara tertutup.

Sugengan Tingalan Jumenengan Dalem

Memasuki puncak rangkaian Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem, Sugengan Ageng dilaksanakan bertepatan dengan hari penobatan Sri Sultan berdasarkan kalender Jawa. Tahun ini jatuh pada hari Minggu, 18 Januari 2026.

Hidangan yang sudah disiapkan, termasuk apem mustaka dan apem alit yang sudah dibuat oleh abdi dalem ditata di Emper Kagungan Dalem Bangsal Kencana. Upacara Sugengan dilaksanakan untuk membagikan hidangan yang sudah dibuat serta menyiapkan uba rampe Labuhan yang akan dilabuh pada Upacara Labuhan dan dilaksanakan secara tertutup.

Labuhan

Upacara labuhan sebagai puncak rangkaian Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem tahun ini dilakukan di empat tempat berbeda. Uba rampe yang sudah disiapkan akan dibawa ke Pantai Parangkusumo, Lereng Lawu, Gunung Merapi, dan Dlepih.

Dilaksanakan pada Senin, 19 Januari 2026 dan Selasa, 20 Januari 2026. Labuhan ini menyimbolkan upaya memelihara keseimbangan alam serta lingkungan hidup.

Proses ini menjadi penutup dalam tradisi memperingati kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *