Menengok Kembali Peran Penting HB IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949

4 Min Read
War memorial with four bronze soldier statues on a dark stone pedestal, central emblem, and plaques, set against a blue sky and palm trees.
Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Republik Indonesia. Letkol Soeharto (yang kemudian menjadi presiden) dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX serta prajurit dan laskar berperan penting dalam peristiwa tersebut. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Republik Indonesia.

Letkol Soeharto (yang kemudian menjadi presiden) dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta prajurit dan laskar berperan penting dalam peristiwa tersebut.

Di mata dunia, Serangan Umum 1 Maret juga membuka mata negara-negara lain bahwa Indonesia masih ada dan mampu mengusir tentara Belanda. Padahal, kala itu Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir dan tokoh lainnya tengah ditahan oleh Belanda di luar Jawa.

Dilansir dari berbagai sumber, Jumat (2/10/2026), mulanya, Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 ke sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra.

Jenderal Spoor memimpin operasi penyerangan. Belanda melakukan itu lantaran masih tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Belanda Ingkari Perjanjian Renville

Belanda juga tidak menghormati hasil Perjanjian Renville yang mana Yogyakarta merupakan wilayah Republik Indonesia.

Belanda kemudian menduduki Yogyakarta sejak 19 Desember 1948. Mereka menangkap dan mengasingkan sejumlah pimpinan negara Republik Indonesia. Hanya tinggal tentara dan laskar yang berjuang di pedalaman.

Pasca-agresi militer II Belanda, Indonesia yang masih terbilang ‘muda’ saat itu berada dalam keadaan terpojok.

Belanda menyebarkan berita bohong melalui PBB kepada seluruh dunia bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada dan TNI sudah hancur.

Di Yogyakarta yang menjadi pusat negara saat itu, terdapat penjagaan ketat Belanda di mana-mana. Kediaman Sultan Hamengku Buwono IX turut dijaga ketat karena ia menjadi tahanan rumah.

Meski demikian, ia tetap berperan penting dalam komunikasi antara satuan-satuan Indonesia yang ada di dalam dan luar kota.

Pada Januari 1949, Sultan HB IX mendengar siaran di radio bahwa pada awal Maret akan ada rapat Dewan Keamanan PBB. Salah satu topik yang dibahas adalah persoalan Indonesia dan Belanda.

Pada awal Februari, Sultan kemudian bersurat kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman agar mengadakan Serangan Umum pada siang hari.

Usulan tersebut diterima. Jenderal Sudirman meminta Sultan melakukan koordinasi dengan Komandan WK III yaitu Letkol Soeharto.

Sultan kemudian menjalin komunikasi dengan Soeharto secara rahasia melalui kurir. Letkol Soeharto lalu berkoordinasi dengan jajaran TNI di wilayahnya.

Ia memerintahkan agar setiap komandan wilayah menempatkan pasukan di dalam Kota Yogyakarta secara sembunyi-sembunyi sejak malam hari. Hal ini membuat mereka telah dalam keadaan siap menyerang begitu sirine pergantian jam malam pada pukul 06.00 1 Maret 1949.

Taklukkan Belanda Selama Enam Jam

Setelah dilancarkan, Serangan Umum ini berhasil menaklukkan kedudukan Belanda dalam waktu 6 jam. Dalam Serangan Umum ini, pasukan Indonesia tidak hanya terdiri dari TNI.

Sejumlah laskar dan rakyat biasa juga turut ambil bagian. Berita Serangan Umum 1 Maret tersebut kemudian menyebar secara berantai di berbagai negara hingga akhirnya terdengar PBB.

Perjuangan berdarah itu berhasil membantah berita berita bohong yang disebarkan Belanda bahwa sebenarnya Indonesia masih ada dan TNI belum hancur.

Di dalam negeri, moral perjuangan militer dan sipil juga kembali menguat. Salah satu yang menjadi sorotan dalam sejarah Serangan Umum 1 Maret adalah perdebatan mengenai siapa yang lebih berperan antara Letkol Soeharto dan Sultan HB IX. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar