Jakarta – Beragam karya teknik grafis dari drawing, aquatint, mezzotint, kolagraf, dry point hingga digital print, terpampang di lantai dua Rumah Cetak Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur. Di ruang galeri berukuran 40 meter ini, terlihatlah puluhan karya grafis dengan berbagai ukuran.
RW Mulyadi telah lama menguasai kesemua teknik ini. Penguasaan itu membuat dia bebas dalam berkreasi di momen yang berbeda.

“Kalau saya bosan menggunakan pakai lino (linocut print, cetakan relief atau blok, red), saya menggunakan dry point, etching (etsa, teknik, red). Saya tak mau hanya menangani satu teknik saja,” ujarnya, Kamis (12/3/32026).
Perjalanan kreatifnya sudah panjang. Kendati berkreasi dan berimajinasi lewat berbagai teknik yang memerlukan keahlian khusus itu, dia juga memiliki kekhasan dalam menuangkan obyek visual yang dihasilkan.
“Ya kekhasan setiap orang itu tentulah berdasarkan pengalaman yang panjang. Dia mengalir begitu saja. Tapi saya ingin jelaskan ada satu teknik yang agak spesifik yaitu teknik mezzotint, yang bertolak dari gelap ke terang. Semua teknik masing-masing memiliki karakter dan kesulitan masing-masing,” ujarnya.
Selain itu, kesan hitam putih yang dominan nampak dalam setiap “eksekusi” karyanya. Dia juga mengatakan bahwa dalam teknik grafis, berbeda dengan teknik lukisan, bahkan hitam atau gelap pun bukan sebuah blok, melainkan hasil dari pertemuan garis-garis.
Karya dengan teknik grafis memang berbeda dengan seni lukis karena banyak pengerjaan yang dia lakukan adalah kerja dua kali. Pertama saat membuat cetakan, barulah hasil cetak itu yang kemudian jadi karya yang dipamerkan.
“Bahkan saya pun tak merasa tabu menggunakan digital karena saya hidup di tujuh presiden, hingga ke zaman terkini. Setiap zamannya kan teknik berubah terus. Tapi bagi saya tidak masalah. Meski saya berangkat dari lukis, saya sudah grafis sejak lama, meski kadang tetap saja rindu untuk melukis,”ujarnya.
Dapat dibayangkan bagaimana ketekunan karya seniman grafis ini, bahkan ketika membuat teknik drawing sekali pun.
Pasar Seni Ancol dan “Bangkitnya” Galeri
RW Mulyadi adalah orang yang telah lama malang-melintang di jagat seni rupa bahkan sejak tahun 1975 di Ancol.
Dia hampir bersamaan dengan sosok seniman Hatta Hambali, Amrus Natalsya, hingga dia keluar pada tahun 1990-an.
Dari gemblengan kekhasan, keterampilan teknik para seniman di sana, pada tahun 1986 dia kemudian membeli areal tanah yang luasnya 800 meter ini, lalu menjadikanya sebagai rumah, galeri dan studio berkarya.
Dari situlah, dia mulai mengembangkan galeri meski gaungnya dia rasakan masih kurang. Di tahun ini, dia menjadikan Rumah Cetak Balekambang ini fokus sebagai tempat diskusi, workshop dan menjadikannya sebagai galeri yang direncanakan rutin berpameran.
“Ya, nama itu tetap saya pertahankan menjadi nama galeri di masa mendatang. Cita-cita para seniman kan menjadikan ini sebagai galeri. Kalau dapat terwujud, ya saya bersyukur. Banyak kawan mendukung dan hadir saat pameran kemarin digelar.
Setelah pameran karya saya ini, galeri akan terbuka untuk semua seniman. Dari grafis, patung, fotografi, termasuk karya seni rupa lainnya. Tinggal menghubungi manajemen galeri, bukan lewat saya ya. Saya fokus berkarya saja, di bawah galeri ini (lantai 1) studio dan ruang kerja saya,” pungkasnya. ***



