Novel ‘Pemakan Buah’ karya Noorca M Massardi: Labirin Simbol, Mitos, dan Satir Pengetahuan - Mabur.co

Novel ‘Pemakan Buah’ karya Noorca M Massardi: Labirin Simbol, Mitos, dan Satir Pengetahuan

RESENSI BUKU

OLEH IKHSAN RISFANDI ZI

Pemakan Buah karya Noorca M. Massardi. Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada 2026 oleh Penerbit Buku Kompas. Ukuran 14 x 21 cm, tebal sekitar 232 halaman, dicetak PT Gramedia Jakarta.

Sebuah cerita kadang tampak sederhana di permukaan: seorang lelaki tertangkap karena memakan buah di taman kerajaan. Namun di tangan penulis seperti Noorca M. Massardi, tindakan yang terlihat sepele itu berubah menjadi semacam detonator simbolik yang membuka lapisan demi lapisan makna.

Pemakan Buah bekerja seperti labirin kecil yang penuh lorong rahasia. Semakin pembaca masuk ke dalamnya, semakin terasa bahwa buah yang dimakan lelaki misterius itu bukan sekadar buah, taman bukan sekadar taman, dan persidangan yang berlangsung di awal cerita bukan sekadar proses hukum biasa.

Novel ini dibuka dengan sebuah epigraf yang menarik dari Alquran, tepatnya QS. Al-Kahfi ayat 65, yang merujuk pada pertemuan Nabi Musa dengan sosok misterius yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Nabi Khidir.

Kutipan itu tampak sederhana, tetapi ia langsung memberi petunjuk kepada pembaca bahwa cerita yang akan dibaca memiliki dimensi spiritual sekaligus epistemologis.

Sosok Khidir dalam kisah tersebut dikenal sebagai figur yang memiliki pengetahuan langsung dari Tuhan, pengetahuan yang bahkan tidak dipahami oleh Nabi Musa sekalipun.

Dengan meletakkan ayat ini di halaman awal, penulis seolah memberi kode bahwa tokoh lelaki tanpa identitas dalam cerita ini mungkin berada dalam garis simbolik yang sama: seorang pengembara pengetahuan yang bergerak di luar logika formal dan hukum manusia.

Lelaki misterius itu kemudian memperkenalkan dirinya dengan satu kata sederhana: Hadir. Nama ini sangat menarik karena sebenarnya bukan nama dalam pengertian konvensional.

Kata “hadir” berarti berada di sini, ada pada saat ini. Dalam tradisi sufisme terdapat konsep hudhur, yaitu kesadaran penuh terhadap kehadiran diri dalam momen sekarang. Dengan memilih kata ini sebagai identitas tokoh utama, penulis seakan sengaja menghapus masa lalu dan masa depan tokoh tersebut.

Ia tidak memiliki asal-usul yang jelas, tidak memiliki dokumen, bahkan tidak memiliki tanggal lahir. Ia hanya ada, berjalan, dan mengalami dunia.

Ketiadaan identitas ini sekaligus menjadi satire yang cukup tajam terhadap konsep negara modern. Tuduhan pertama yang dilontarkan jaksa kepada Hadir adalah pelanggaran terhadap undang-undang kependudukan karena ia tidak memiliki identitas resmi. Dalam dunia yang sangat administratif, keberadaan manusia sering kali diukur dari dokumen, kartu identitas, atau nomor registrasi.

Novel ini seperti menggoda pembaca dengan pertanyaan yang sangat sederhana: apakah seseorang baru dianggap ada jika ia tercatat di dalam sistem negara?

Peristiwa pemakan buah yang menjadi pusat cerita segera membuka resonansi mitologis yang sangat luas. Tidak sulit melihat bayangan kisah Adam dan Hawa yang memakan buah pengetahuan di Taman Eden.

Dalam kisah tersebut, buah terlarang menjadi simbol kesadaran manusia terhadap pengetahuan, baik dan buruk, serta konsekuensi dari kebebasan. Dalam Pemakan Buah, motif yang sama muncul kembali tetapi dalam bentuk yang sangat berbeda.

Buah itu tumbuh di Taman Rahasia kerajaan dan bahkan sang Raja sendiri tidak pernah berani memakannya. Buah tersebut tidak pernah busuk, selalu matang, dan tetap harum sepanjang waktu. Ia tampak seperti objek biologis sekaligus simbol metafisik.

Keanehan itu semakin terasa ketika Hadir menjelaskan bahwa buah tersebut memanggilnya. Ia tidak sekadar melihat buah itu lalu memakannya, melainkan merasa dipanggil oleh sesuatu yang lebih dalam. Dalam tradisi mistik, pengetahuan sering digambarkan sebagai sesuatu yang memilih pencarinya.

Seseorang tidak sekadar menemukan kebenaran; kadang kebenaran justru menemukan orang yang siap menerimanya. Proses persidangan yang dialami Hadir juga memiliki nuansa yang sangat khas.

Tuduhan yang berlapis-lapis, kurangnya saksi mata, serta absurditas logika hukum yang digunakan mengingatkan pembaca pada atmosfer novel The Trial karya Franz Kafka. Dalam karya Kafka, seorang tokoh diadili oleh sistem hukum yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Dalam Pemakan Buah, suasana serupa muncul ketika Hadir menjawab setiap pertanyaan dengan logika yang membalikkan asumsi para hakim dan jaksa. Dialog yang terjadi di ruang sidang bahkan terasa seperti metode filsafat Socrates.

Socrates dikenal sering membongkar keyakinan lawan bicaranya dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang justru menggoyahkan dasar pemikiran mereka. Hadir melakukan hal yang mirip. Ketika jaksa mengatakan buah itu milik Raja, ia bertanya kembali: sejak kapan manusia benar-benar memiliki pohon yang tumbuh dari tanah, disiram hujan, dan disinari matahari?

Kerajaan tempat peristiwa ini terjadi memiliki nama yang menarik: Terrajannah. Nama ini terdengar seperti gabungan kata Latin “terra” yang berarti bumi dan kata Arab “jannah” yang berarti surga. Dengan demikian, kerajaan ini dapat dibaca sebagai metafora tentang surga dunia yang tampak sempurna tetapi sebenarnya menyimpan rahasia besar di dalamnya.

Menariknya lagi, ayah Raja Maha dalam cerita ini bernama Sri Baduga. Nama ini sangat mengingatkan pada tokoh sejarah Sunda, Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, yang sering dipandang sebagai simbol kejayaan kerajaan Pajajaran. Dengan menyisipkan nama ini, novel seakan menautkan dunia fiksi dengan ingatan sejarah Nusantara.

Taman Rahasia tempat tumbuhnya Buah Terlarang juga jelas merupakan variasi dari motif Garden of Eden. Namun berbeda dengan kisah Alkitab, di sini yang menjaga taman bukan Tuhan melainkan kekuasaan politik. Larangan untuk memakan buah itu tidak datang dari perintah ilahi, melainkan dari sistem kekuasaan yang menjaga rahasia tertentu.

Buah itu sendiri memiliki sifat yang sangat aneh. Ia tidak pernah busuk. Ia selalu matang. Keadaan ini membuat buah tersebut terasa seperti simbol pengetahuan yang selalu tersedia tetapi tidak pernah benar-benar disentuh oleh mereka yang berkuasa.

Perjalanan panjang Hadir dari timur menuju barat juga menyimpan simbolisme yang kuat. Timur sering dipandang sebagai tempat kelahiran matahari, lambang awal kehidupan dan kesadaran.

Barat adalah tempat matahari tenggelam, simbol akhir perjalanan atau pencapaian kebijaksanaan setelah perjalanan panjang. Dalam banyak mitologi dan karya sastra klasik, perjalanan dari timur ke barat sering digunakan sebagai metafora pencarian pengetahuan.

Sepanjang perjalanan itu, Hadir memakan bunga sebelum akhirnya beralih ke buah. Bunga melambangkan keindahan dan estetika, sedangkan buah melambangkan hasil, pengalaman, dan konsekuensi. Ia bahkan beberapa kali mabuk karena memakan bunga tertentu. Hal ini dapat dibaca sebagai sindiran halus terhadap romantisisme yang terlalu larut dalam keindahan tanpa pengetahuan.

Kemudian Hadir mulai memakan buah-buahan dan menamai setiap buah yang ia temui. Tindakan memberi nama ini memiliki resonansi mitologis yang kuat dengan kisah Adam dalam kitab Kejadian, ketika manusia pertama diberi tugas menamai makhluk hidup di bumi.

Buah-buah imajiner yang disebut Hadir dalam wawancara seperti Buah Fajar, Buah Senyap, atau Buah Cahaya Tersembunyi—membentuk semacam katalog metafora spiritual. Buah Senyap misalnya digambarkan mampu membuat seseorang memahami bahasa alam. Gagasan ini mengingatkan pada tradisi Taoisme dan sufisme yang sering menekankan pentingnya keheningan dalam memahami dunia.

Tokoh Raja Maha sendiri memiliki posisi yang cukup tragis. Ia menjaga rahasia besar tentang buah tersebut, tetapi tidak pernah benar-benar memahaminya. Ia hanya memegang kitab pusaka yang diwariskan ayahnya. Dengan kata lain, ia memiliki pengetahuan tradisional tetapi tidak memiliki pengalaman langsung.

Sementara itu muncul kelompok misterius bernama Sekte Aliran Kepercayaan yang berkumpul di bawah bangunan berbentuk piramida. Simbol piramida sering diasosiasikan dengan pengetahuan kuno dan organisasi esoterik seperti Freemasonry atau Rosicrucianism. Kehadiran kelompok ini menambah lapisan misteri pada cerita.

Nama kerajaan purba yang disebut dalam novel, Terratlantis, juga jelas menggemakan mitos Atlantis. Hal ini memberi kesan bahwa cerita ini tidak hanya berhubungan dengan sejarah manusia, tetapi juga dengan peradaban purba yang hilang.

Yang membuat novel ini terasa sangat kontemporer adalah kehadiran media sosial. Persidangan yang seharusnya tertutup justru menjadi viral. Potongan dialog Hadir menyebar ke seluruh negeri dan mengubahnya dari seorang terdakwa menjadi simbol perlawanan.

Dalam situasi ini muncul pertanyaan yang sangat modern: siapa yang mengendalikan kebenaran di era informasi? Apakah kebenaran ditentukan oleh hukum, oleh kekuasaan, atau oleh viralitas?

Salah satu pernyataan Hadir yang paling provokatif adalah ketika ia mengatakan bahwa penjara, dinding, dan bahkan kerajaan hanyalah ilusi. Pernyataan ini mengingatkan pada filsafat idealisme yang berpendapat bahwa realitas sangat bergantung pada persepsi manusia.

Konsep waktu yang ia jelaskan juga menarik. Bagi Hadir, waktu bukan garis lurus melainkan lingkaran yang terus berulang. Ide ini mengingatkan pada konsep eternal recurrence yang pernah dibahas oleh filsuf Friedrich Nietzsche.

Akhirnya, Buah Terlarang dalam novel ini ternyata bukan sekadar objek. Ia lebih mirip cermin yang memantulkan imajinasi kolektif manusia tentang pengetahuan. Ketika Hadir mengatakan bahwa bentuk buah itu persis seperti yang dibayangkan setiap orang, ia seakan mengisyaratkan bahwa larangan terhadap buah itu sebenarnya berasal dari ketakutan manusia sendiri terhadap pengetahuan.

Dalam kerangka ini, Pemakan Buah menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang lelaki yang memakan buah di taman kerajaan. Novel ini berubah menjadi alegori besar tentang hubungan antara pengetahuan, kekuasaan, dan keberanian manusia untuk melampaui batas yang telah ditentukan oleh sistem.

Ketika halaman terakhir buku ini ditutup, yang tersisa bukan hanya kisah tentang buah yang dimakan seorang pengembara misterius. Yang tertinggal justru sebuah pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: berapa banyak “buah terlarang” yang sebenarnya ada di dunia kita, dan berapa banyak dari kita yang cukup berani untuk memakannya.

MEKANIKA PLOT DAN STRATEGI TWIST

Dalam banyak novel alegoris, plot sering bergerak seperti kendaraan yang membawa gagasan filosofis Namun dalam Pemakan Buah karya Noorca M. Massardi, pergerakan plot terasa sedikit berbeda.

Cerita ini tidak hanya menjadi wadah gagasan, melainkan juga dirancang seperti mekanisme berlapis yang secara bertahap membuka rahasia melalui serangkaian twist kecil dan besar. Plotnya bergerak seperti spiral: kembali ke tema yang sama—buah, pengetahuan, rahasia—tetapi pada setiap putaran menghadirkan perspektif yang semakin luas.

Struktur awal novel dibangun dengan cara yang relatif klasik: sebuah insiden pemicu yang langsung menimbulkan konflik besar. Insiden tersebut sangat sederhana, bahkan hampir absurd dalam kesederhanaannya.

Seorang lelaki tanpa identitas tertangkap karena memasuki taman kerajaan dan memakan buah yang tumbuh di sana. Tuduhan terhadapnya langsung bertumpuk: pelanggaran wilayah, pelanggaran keamanan istana, pelanggaran simbol kerajaan, hingga pelanggaran terhadap harta milik Raja.

Seluruh sistem hukum kerajaan bergerak cepat untuk memproses kasus ini. Dengan demikian, plot langsung dimulai dalam situasi krisis.

Yang menarik adalah bahwa konflik awal ini tidak dibangun melalui aksi dramatis seperti pertempuran atau pengejaran. Sebaliknya, konflik muncul melalui percakapan di ruang sidang. Persidangan menjadi panggung utama tempat pembaca pertama kali mengenal tokoh utama.

Strategi ini penting karena sejak awal penulis memindahkan ketegangan dari tindakan fisik ke ketegangan intelektual. Pertanyaan dan jawaban antara hakim, jaksa, dan terdakwa menjadi semacam duel filosofis yang perlahan membuka misteri cerita.

Twist pertama muncul bukan melalui perubahan peristiwa, tetapi melalui karakter tokoh utama itu sendiri. Lelaki tanpa identitas yang dihadirkan sebagai terdakwa ternyata tidak menunjukkan rasa takut. Ia tidak membela diri secara konvensional, bahkan menolak bantuan pengacara. Alih-alih memohon keringanan hukuman, ia justru menggugat asumsi dasar sistem hukum yang mengadilinya.

Dalam satu momen yang sangat penting bagi arah cerita, ia mengatakan bahwa taman yang disebut Taman Rahasia oleh kerajaan baginya hanyalah kebun biasa, dan buah yang disebut Buah Terlarang baginya hanyalah buah biasa. Pernyataan ini menggeser konflik dari persoalan kriminal menuju persoalan epistemologis: siapa yang menentukan makna sebuah benda?

Ketika jaksa menuduhnya memakan buah milik Raja, tokoh tersebut justru mempertanyakan konsep kepemilikan itu sendiri. Ia menyatakan bahwa pohon tumbuh dari tanah, disirami hujan, dan disinari matahari—semua unsur yang tidak dimiliki manusia.

Dengan demikian, salah satu twist awal dalam plot adalah perubahan perspektif pembaca terhadap kejahatan yang dituduhkan. Tindakan memakan buah tidak lagi tampak sebagai pelanggaran hukum yang jelas, melainkan sebagai tindakan yang dipersoalkan oleh konstruksi sosial tentang kepemilikan.

Namun twist yang lebih besar muncul ketika tokoh tersebut menjelaskan mengapa ia memakan buah itu. Ia tidak mengatakan bahwa ia lapar. Ia tidak mengatakan bahwa ia mencuri. Ia justru mengatakan bahwa buah itu memanggilnya dan menjanjikan pengetahuan.

Kalimat ini mengubah seluruh arah cerita. Konflik tidak lagi hanya berkaitan dengan hukum, tetapi juga dengan rahasia pengetahuan yang disembunyikan oleh kekuasaan.

Setelah vonis mati dijatuhkan, plot mengalami perluasan skala. Jika bagian awal cerita berlangsung hampir sepenuhnya di ruang sidang, bagian berikutnya membawa konflik ke ruang publik. Rekaman persidangan yang seharusnya tertutup ternyata bocor dan menyebar melalui media sosial.

Peristiwa ini menjadi twist struktural dalam cerita karena mengubah konflik individu menjadi konflik sosial. Lelaki tanpa identitas yang sebelumnya hanya seorang terdakwa kini berubah menjadi simbol perlawanan bagi masyarakat.

Penyebaran rekaman sidang memicu gelombang reaksi yang tidak terduga oleh kerajaan. Demonstrasi mulai muncul, poster-poster bermunculan di kota, dan diskusi publik berkembang di berbagai tempat. Rakyat mulai mempertanyakan mengapa kerajaan menyembunyikan keberadaan Taman Rahasia dan Buah Terlarang. Dengan demikian, plot bergerak dari konflik personal menuju konflik politik yang lebih luas.

Di titik ini penulis memperkenalkan twist lain yang memperdalam misteri cerita: kegelisahan Raja Maha sendiri. Raja yang seharusnya menjadi simbol otoritas ternyata justru diliputi keraguan. Ia mengetahui rahasia buah tersebut, tetapi tidak sepenuhnya memahami maknanya. Ia hanya memegang kitab pusaka kecil yang diwariskan ayahnya, Raja Sri Baduga, yang berisi peringatan agar buah itu tidak pernah dimakan.

Kehadiran kitab pusaka ini menjadi elemen penting dalam mekanika plot karena memperkenalkan konsep ramalan. Dalam kitab tersebut disebutkan kemungkinan bahwa suatu hari seseorang akan memakan buah itu dan memicu perubahan besar. Dengan demikian, pembaca mulai menyadari bahwa tindakan Hadir mungkin bukan kebetulan, melainkan bagian dari pola yang lebih besar dalam sejarah kerajaan.

Plot kemudian berkembang melalui pengenalan kelompok rahasia bernama Sekte Aliran Kepercayaan. Kelompok ini telah lama mengawasi keberadaan Taman Rahasia dan Buah Terlarang. Mereka memiliki jaringan yang menyusup ke berbagai institusi kerajaan, dari birokrasi hingga militer.

Kehadiran sekte ini menjadi twist tambahan karena memperlihatkan bahwa konflik yang terjadi bukan hanya antara individu dan negara, tetapi juga melibatkan kekuatan-kekuatan tersembunyi yang telah lama bergerak di balik layar.

Sekte tersebut memandang Hadir dengan cara yang berbeda dari kerajaan. Bagi kerajaan, ia adalah pelanggar hukum yang harus dihukum mati. Bagi sekte, ia mungkin adalah figur yang disebut dalam ramalan kuno.

Perbedaan perspektif ini menciptakan ketegangan baru dalam plot. Nasib Hadir tidak lagi hanya bergantung pada keputusan Raja, tetapi juga pada strategi kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan terhadap pengetahuan yang ia bawa.

Salah satu bagian paling menarik dalam perkembangan plot adalah wawancara dengan Hadir di dalam sel penjara. Wawancara ini dilakukan oleh Tim Pencari Fakta dan Kebenaran yang dibentuk di tengah tekanan publik. Dari sudut pandang naratif, adegan ini berfungsi sebagai titik pengungkapan besar dalam cerita.

Dalam wawancara tersebut, Hadir mulai menjelaskan perjalanan hidupnya. Ia mengaku berasal dari wilayah paling timur dunia dan berjalan menuju barat selama waktu yang tidak ia hitung. Ia memakan bunga dan buah yang ia temui di sepanjang perjalanan, memberi nama pada banyak tanaman, dan mempelajari sifat-sifatnya.

Cerita ini memperluas horizon naratif novel. Tokoh utama tidak lagi tampak seperti pengembara biasa, melainkan seperti figur mitologis yang berjalan melintasi dunia.

Twist lain muncul ketika Hadir menjelaskan pengalamannya setelah memakan Buah Terlarang. Ia menggambarkan rasa buah itu sebagai ledakan pengalaman indrawi yang membuka pemahaman baru tentang alam semesta.

Ia merasa mampu memahami hubungan antara berbagai unsur kehidupan, seolah-olah buah tersebut membuka lapisan kesadaran yang sebelumnya tersembunyi.

Namun twist yang paling radikal dalam wawancara itu muncul ketika Hadir mengatakan bahwa banyak hal yang dianggap nyata oleh manusia sebenarnya hanyalah ilusi. Dinding penjara, batas kerajaan, bahkan konsep kepemilikan menurutnya hanyalah konstruksi pikiran manusia. Pernyataan ini tidak hanya mengguncang para pewawancara, tetapi juga menggeser fondasi filosofis cerita.

Dengan cara ini, plot Pemakan Buah terus bergerak melalui rangkaian pengungkapan bertahap. Setiap bab tidak hanya menambah informasi baru, tetapi juga mengubah cara pembaca memahami informasi yang telah diberikan sebelumnya. Ini adalah teknik yang sering digunakan dalam novel misteri, tetapi di sini diterapkan untuk eksplorasi gagasan filosofis.

Menuju bagian akhir cerita, ketegangan plot mencapai puncaknya ketika tekanan publik terhadap kerajaan semakin meningkat. Demonstrasi dan kerusuhan mulai menyebar di berbagai kota. Raja Maha harus mengambil keputusan yang sulit: mengeksekusi Hadir dan mempertahankan stabilitas melalui kekuatan, atau membuka rahasia yang selama ini dijaga kerajaan.

Pada saat yang sama, Sekte Aliran Kepercayaan mulai bergerak lebih aktif. Mereka melihat situasi ini sebagai momen penting untuk mengungkap pengetahuan yang telah lama tersembunyi. Bagi mereka, Hadir bukan hanya individu, melainkan katalis yang membuka era baru.

Dalam dinamika ini, plot novel bergerak menuju konflik tiga arah: antara kerajaan yang ingin mempertahankan rahasia, masyarakat yang menuntut kebenaran, dan sekte yang memiliki agenda sendiri terhadap pengetahuan yang terkandung dalam Buah Terlarang.

Twist terakhir yang sangat penting dalam novel ini berkaitan dengan identitas Hadir sendiri. Sepanjang cerita, ia tetap menjadi figur yang sulit didefinisikan. Ia tidak memiliki masa lalu yang jelas, tidak memiliki nama selain kata “Hadir”, dan tampaknya memiliki kemampuan memahami dunia dengan cara yang tidak biasa.

Ketidakjelasan ini bukan kelemahan naratif, melainkan strategi yang sengaja digunakan penulis. Dengan tidak memberikan jawaban pasti tentang siapa sebenarnya Hadir, novel ini menjaga aura misteri yang membuat pembaca terus mempertanyakan makna peristiwa yang terjadi.

Jika dilihat secara keseluruhan, mekanika plot Pemakan Buah dibangun melalui beberapa tahap yang jelas: insiden pemicu yang sederhana, pengungkapan konflik melalui dialog, perluasan konflik ke ruang sosial, pengenalan kekuatan tersembunyi, dan akhirnya pengungkapan filosofis yang mengguncang asumsi dasar cerita.

Setiap tahap menghadirkan twist yang tidak selalu berupa kejutan dramatis, tetapi lebih sering berupa perubahan cara pandang terhadap peristiwa yang sama.

Dengan strategi ini, novel tersebut berhasil mempertahankan ketegangan naratif meskipun banyak bagian cerita didominasi oleh dialog dan refleksi filosofis. Pembaca terus didorong untuk bertanya: apakah Buah Terlarang benar-benar memiliki kekuatan khusus, ataukah perubahan yang terjadi hanyalah akibat dari keberanian seseorang untuk mempertanyakan batas-batas yang selama ini dianggap pasti.

Plot Pemakan Buah bekerja seperti perjalanan intelektual. Cerita dimulai dari tindakan sederhana—memakan buah—dan perlahan berkembang menjadi eksplorasi besar tentang pengetahuan, kekuasaan, dan keberanian manusia menghadapi kebenaran. Dengan cara ini, setiap twist dalam novel bukan hanya kejutan naratif, tetapi juga undangan bagi pembaca untuk memikirkan kembali hubungan antara kebenaran dan kekuasaan dalam dunia mereka sendiri. ***

0

Share

By About

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *