Panggung di Atas Sungai, Bedog Arts Festival Manunggaling Semesta

4 Min Read
Group of people walking along a water-lined path at night, illuminated by many small flames and hanging lights, creating a festival-like glow.
Konsep pemanggungan Bedog Arts Festival menyatu dengan alam. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Tidak ada gedung kesenian berdinding marmer di sini. Panggungnya adalah Sungai Bedog itu sendiri. Bedog Arts Festival ke-16 kembali digelar 2–10 Oktober 2026 di Studio Banjarmili, Kradenan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta, dengan tema (Nge) Rawat Rasa.

Jika tahun lalu digelar 17-19 Oktober 2025, tahun ini ia naik kelas: masuk dalam rangkaian Sleman Creative Weeks #6.

Slemankab.go.id mencatat, rangkaian SCW #6 resmi dibuka akhir September bersama Sleman Kite Festival di Ponpes Gus Muwafiq Minggir, lalu Bedog Arts Fest di Banjarmili, Pesta Boneka di Ruang Pana, serta Sinergi Sinema.

Regenerasi Nilai

Tema tahun ini: Sambung-Menyambung.

“Bedog Arts Fest bukan hanya sebuah festival, melainkan sebuah ruang budaya yang hadir sebagai wadah bertemunya seniman, warga, dan berbagai komunitas, yang menjunjung tinggi semangat regenerasi nilai, pelestarian lingkungan, serta keberlanjutan,” kata Bupati Sleman, Harda Kiswaya, saat pembukaan 2025, seperti dikutip Mojok.co.

Tahun 2026 kalimat itu diulang lagi, tapi dengan skala lebih besar: kolaborasi seniman dari 19 negara dan 28 daerah.

Pembukaan pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026, dimulai bukan dengan gunting pita, tapi dengan arak-arakan dan penyebaran bibit ikan di Sungai Bedog.

Warga Kradenan membawa ember berisi nila dan wader, ditebar di aliran yang jadi panggung.

Board of Creative, Sambung Penumbra, menjelaskan, seperti dikutip media lokal: “Panggung ini dibangun tepat di atas aliran Sungai Bedog, sebuah lanskap alami yang diolah menjadi ruang pertunjukan terbuka dengan latar memukau ribuan lampu senthir. Cahaya hangat menciptakan atmosfer magis.”

Memang magis. Ribuan senthir (lampu minyak kecil) digantung di tebing, pohon, hingga kolam mata air. Panggung kayu menjorok ke sungai, penonton duduk di tribun bambu.

Penari Reog Ponorogo membuka malam pertama dengan salto berulang di atas papan yang berderak.

Sungai Bedog sebagai Urat Nadi Mataram

Bedog Arts Festival lahir 2007, digagas penari Martinus Miroto, GRA Pembayun, kini GKR Mangkubumi, bersama Angger Jati Wijaya dan Agung Gunawan.

Media Budaya.jogjaprov.go.id menyebut BAF sejak awal dirancang sebagai peristiwa dialog antar-budaya, bukan sekadar tontonan. Residensi seniman, workshop, pasar warga, screening film, semua gratis.

Para penampil di panggung kemegahan Bedog Arts Festival. (Foto: Istimewa)

Di Sungai Bedog ada mitos yang dijaga warga. Sungai Bedog dipercaya sebagai urat nadi Mataram. Orang tua di Banyuraden masih bilang, “Jika Bedog kering, keraton akan panas”.

Karena itu menanam aren di bantaran, seperti dilakukan BAF sejak 2013, bukan sekadar penghijauan. Aren akarnya mengikat tanah, airnya menahan banjir.

Tugujogja.id melaporkan SCW #6 mengusung semangat ramah lingkungan dengan mengurangi plastik sekali pakai.

Di BAF, itu diterjemahkan jadi pasar warga tanpa styrofoam, jajan harus bawa sangu sendiri.

Manunggaling Semesta

Saat hujan turun deras pada pembukaan 2025 lalu, panggung di atas sungai sempat terendam dan acara ditunda dua jam. Panitia tidak panik.

Mereka bilang, “Saat alam menunjukkan gejalanya, manusia jangan takabur”.

Penundaan itu justru jadi pesan. Di Bedog, seni tidak di atas alam. Seni menyambung ke alam, manunggaling semesta.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar