Mabur.co – Meski menyandang nama besar yang melegenda, pohon mentaok kini justru harus mengalami nasib tragis yang tak semestinya.
Ia dibabat habis hingga hampir tak bersisa dan kini sekadar menjadi pohon langka yang sulit ditemukan di tempat asalnya.
Sejarah Mentaok
Memiliki nama ilmiah Wrightia javanica, mentaok dikenal sebagai pohon yang dulu sangat banyak tumbuh di kawasan yang kini disebut dengan Yogyakarta.
Saking banyaknya ditumbuhi pohon ini, kawasan itu kemudian disebut dengan Alas Mentaok atau Hutan Mentaok.
Wilayah ini berada di kawasan dataran Kuwu, tumbuhnya peradaban kuno Mataram Hindu-Buddha.
Setelah mencapai masa puncak kejayaannya dan menghasilkan puluhan candi, peradaban ini kemudian runtuh dan ditinggalkan masyarakatnya. Hingga akhirnya kawasan ini kembali menjadi hutan belantara.
Pada sekitar abad ke-16, Hutan Mentaok kembali dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan, dibantu oleh putranya Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati yang kemudian menjadi Raja Kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa.
Kini setelah hampir 5 abad berlalu, nama mentaok masih disebut-sebut sebagai cikal bakal berdirinya wilayah Yogyakarta. Sayangnya pohon mentaok itu sendiri sudah sangat langka dan sulit ditemukan keberadaannya.
Mentaok merupakan tanaman dari famili Apocynaceae. Pohon ini dapat tumbuh tinggi dengan batang yang relatif lurus dan bercabang banyak.
Dilansir dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Senin (5/10/2026), mentaok dapat tumbuh hingga sekitar 35 meter dengan diameter batang mencapai 50 sentimeter.
Kulit batangnya berwarna abu-abu kecokelatan hingga kuning kecokelatan dan memiliki alur. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing. Permukaan bagian bawah daun terasa agak kasar.
Pohon ini hanya berbunga setahun sekali. Bunganya tumbuh dalam bentuk malai di ujung ranting dengan warna putih kekuningan hingga merah muda atau merah tua.
Sementara buahnya berbentuk lonjong dengan kulit keras dan memiliki belahan di bagian tengah. Ketika matang, buah akan pecah sehingga bijinya tersebar dan tumbuh menjadi tanaman baru.
Mentaok memiliki sejumlah nama lain mulai dari bintaos, mentaos, bentawas, hingga dediteh. Kayunya yang keras namun memiliki serat halus kerap dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Mulai dari bahan konstruksi, papan, pensil, alat musik, warangka atau sarung keris, patung, perkakas rumah tangga hingga berbagai karya seni ukir termasuk wayang.
Meski memiliki hubungan erat dengan sejarah Mataram dan Yogyakarta pohon mentaok kini sangat sulit ditemukan tumbuh di kawasan yang dulu disebut sebagai Alas Mentaok.
Hanya Delapan Pohon Mentaok di Kotagede
Penelitian ahli dendrologi UGM, Atus Syahbudin, dan sejumlah peneliti pada November 2017 hingga Januari 2018, bahkan mencatat hanya menemukan sekitar delapan pohon mentaok di Kecamatan Kotagede, Yogyakarta.
Satu pohon berada di kawasan Makam Raja-raja Mataram Kotagede, sedangkan tujuh lainnya ditemukan di kawasan hutan kota.
Selain di Kotagede, pohon mentaok juga masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah Kabupaten Bantul. Di antaranya di kawasan Makam Raja-raja Mataram, Imogiri, dan Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret.
Upaya Konservasi
Melihat kondisi kelangkaan tersebut serta sejarahnya yang sangat kuat dengan Yogyakarta, Pemerintah DIY pun berupaya melestarikan kembali pohon mentaok lewat upaya konservasi.
Pembibitan atau persemaian hingga penanaman kembali digalakkan di beberapa lokasi seperti kawasan lereng Gunung Merapi, hutan Bunder Gunungkidul, hingga kawasan Kotagede.
Upaya ini diharapkan dapat melestarikan dan mengenalkan kembali pohon mentaok kepada generasi muda, yakni sebagai salah satu bagian dari sejarah alam dan budaya Yogyakarta. ***
