Generasi muda banyak terlibat aktif di sebagian besar komunitas budaya di Kabupaten Bantul.
Kenyataan itu menandakan ada kesadaran dari Gen Z turut berkontribusi melestarikan budaya Jawa.
Sehingga, tumbuh harapan dari kalangan generasi tua akan lestarinya budaya Jawa di tangan generasi muda.
Kepala Disbud Kabupaten Bantul, Yanatun Yunadiana, S.Si, M.Si, menyampaikan dalam Dialog Budaya bertajuk “Tembang Macapat Korelasi dengan Ibadah Ramadan”, Sabtu (14/2) malam yang dihelat Komunitas Minggu Legi di Padukuhan Cungkuk IV, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Bantul, DIY.
Kegiatan budaya yang diinisiasi Dr. Akhir Lusono, SSn, MM tersebut berkorelasi dengan program Dinas Kebudayaan yang terkait implementasi seni budaya Jawa, seperti sesorah, panata adicara atau pambiwara.
“Bagaimana mengimplementasikan unggah-ungguh, tata krama bahasa dan budaya Jawa. Ini penting untuk Gen Z. Karena, kurangnya penerapan tata krama, unggah-ungguh, menyebabkan banyak kenakalan remaja, klithih, anak berani pada orang tua. Tata krama, budi pekerti masih sedikit diajarkan di sekolah,” ungkap Yanatun.
Sementara, Guru Besar UNY, Prof. Dr. H Suwardi Endraswara, dalam sesi dialog yang dipandu novelis R Toto Sugiharto mengilustrasikan, kebudayaan Jawa tidak bertentangan dengan agama.
Bahkan, para leluhur, di antaranya Sri Susuhunan Paku Buwono IV (1768-1820), Raja Kasunanan Surakarta yang bertahta dari 1788 hingga 1820, menyampaikan ajaran Islam melalui karya budaya tembang macapat.
Salah satu karyanya, Serat Wulangreh, memuat pitutur atau nasihat tentang mencegah nafsu amarah melalui tembang Mijil juga ajaran moral, etika, dan spiritualitas. Serta tata krama atau cara menyembah Tuhan, “trapsilane manembah marang Gusti” dengan benar.
Dikatakannya pula, salah satu pimpinan dan tokoh Muhammadiyah, KH AR Fachrudin, pun pernah menggunakan macapat untuk memasyarakatkan terjemahan surat-surat dalam Alquran agar lebih mudah diterima dan dipahami masyarakat.
“Budaya Jawa tidak bertentangan dengan agama Islam. Budaya justru dapat digunakan sebagai media menyampaikan ajaran agama, seperti melalui tembang macapat. Tingkatan dalam berbahasa, seperti ngoko, ngoko alus, krama madya, dan krama inggil juga bisa mencegah nafsu amarah,” terang Suwardi.
Pada kesempatan itu turut tampil menghibur audiens, sastrawan senior Mustofa W Hasyim membacakan dua puisinya, “Puasa” dan “Ngas Ngis Ngus Nges Ngos”.

Sedangkan inisiator dan pengurus Komunitas Minggu Legi berkesempatan menyampaikan proposal permohonan Nomor Induk Kebudayaan (NIK), cinderamata dan piagam kepada Kepala Disbud Bantul, Yanatun Yunadiana. ***



