Prof. Nyoman Kertia: Pengembangan Industri Jamu di Indonesia Hadapi Aneka Tantangan 

5 Min Read
Close-up of an elderly man in a white turban outdoors, with greenery in the background and a smartphone visible in the foreground.
Ketua Dewan Jamu Indonesia (DJI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Nyoman Kertia. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Dunia industri jamu Indonesia dinilai masih menghadapi berbagai tantangan untuk bisa terus berkembang dan menjadi pilihan utama masyarakat. 

Masih adanya pandangan negatif soal jamu tradisional, dominasi obat-obatan modern, hingga tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Jamu Indonesia (DJI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof Nyoman Kertia, saat peringatan Hari Jamu Nasional 2026 yang digelar di Taman Jamu Naturindo, Sedayang, Pengasih, Kulon Progo, Minggu (7/6/2026).

Menurut Prof Nyoman, tantangan terbesar pengembangan jamu selama ini bukan terletak pada ketersediaan bahan baku maupun manfaatnya, melainkan pada persepsi masyarakat yang belum sepenuhnya percaya terhadap khasiat jamu.

“Dulu tantangannya berat karena kalangan ilmiah kurang begitu percaya. Padahal, apa yang dikatakan atau dipercaya oleh komunitas ilmiah biasanya akan langsung diikuti masyarakat awam. Namun sekarang tantangan itu mulai berkurang,” ujarnya.

“Kami tidak memaksakan kehendak, melainkan membuktikan. Kami tunjukkan, kami yakinkan, dan kami buktikan lewat data serta praktik nyata bahwa jamu itu aman dikonsumsi dan memiliki khasiat yang teruji,” lanjut Prof. Nyoman.

Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun jamu sering dipandang sebagai pengobatan tradisional yang belum memiliki dasar ilmiah yang kuat. Akibatnya, sebagian masyarakat lebih memilih obat-obatan modern meskipun Indonesia memiliki warisan pengetahuan herbal yang sangat kaya.

Cegah Aneka Penyakit dengan Jamu

Padahal, menurutnya, berbagai penyakit tidak menular yang saat ini menjadi penyebab kematian terbesar, seperti penyakit jantung, stroke, kolesterol tinggi, dan asam urat, dapat dicegah melalui pola hidup sehat yang salah satunya didukung konsumsi jamu secara rutin.

Prof. Nyoman menilai perubahan pola hidup masyarakat yang semakin menjauh dari kearifan lokal menjadi salah satu faktor yang membuat budaya minum jamu terus menurun. Jika kondisi ini dibiarkan, Indonesia berpotensi kehilangan salah satu warisan budaya sekaligus sumber kesehatan alami yang telah diwariskan turun-temurun.

Selain persoalan kepercayaan, ia juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap produk farmasi impor.

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan jamu dan obat herbal berbasis sumber daya lokal.

“Indonesia masih sangat bergantung pada obat-obatan impor. Bahkan untuk beberapa bahan baku obat herbal pun masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Padahal kita memiliki kekayaan tanaman obat yang luar biasa,” katanya.

Ia menilai pengembangan industri jamu bukan hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya petani tanaman herbal, perajin, hingga pelaku usaha kecil menengah.

Kota Herbal

Di sisi lain, keberlangsungan industri jamu juga berkaitan erat dengan upaya pelestarian lingkungan. Semakin banyak tanaman herbal yang dibudidayakan, semakin besar pula dorongan untuk menjaga keanekaragaman hayati yang menjadi sumber bahan baku jamu.

Karena itu, Prof. Nyoman mendorong Yogyakarta agar terus memperkuat identitasnya sebagai kota herbal melalui gerakan penanaman tanaman obat di lingkungan masyarakat.

“Harapan kami, seiring masyarakat semakin maju, kesehatannya pun semakin terjaga dengan baik. Selain itu, pengembangan jamu juga harus mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, terutama para petani dan perajin. Tak kalah penting, lingkungan pun ikut terjaga karena bahan baku jamu bersumber dari kekayaan alam yang kita rawat bersama,” tambahnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Prof. Nyoman optimistis masa depan jamu masih sangat terbuka. Inovasi produk terus berkembang, mulai dari jamu siap minum hingga kombinasi jamu dengan minuman modern yang lebih dekat dengan generasi muda.

Namun ia menegaskan bahwa inovasi harus tetap menjaga nilai utama jamu sebagai produk kesehatan berbasis bahan alami.

Menurutnya, jamu bukan sekadar warisan budaya, melainkan bagian dari strategi membangun masyarakat yang sehat, mandiri, dan produktif.

Melalui peringatan Hari Jamu Nasional 2026, Dewan Jamu Indonesia DIY mengajak masyarakat untuk kembali mengenal, mengonsumsi, dan melestarikan jamu sebagai bagian dari identitas bangsa.

Sebab di tengah tantangan kesehatan global dan ketergantungan pada produk impor, jamu dinilai dapat menjadi salah satu kekuatan lokal yang layak dikembangkan untuk masa depan.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment