Mabur.co – Selama ini masjid hanya digunakan sebagai tempat melaksanakan ibadah bagi umat muslim, seperti salat, membaca Alquran, pengajian, dan sebagainya.
Namun, di tengah situasi politik yang semakin tidak menentu seperti sekarang, keberadaan masjid sepertinya sudah semakin bergeser, bahkan saat ini mulai difungsikan layaknya “institusi pendidikan”.
Hal ini terjadi karena masjid sanggup mengumpulkan jemaah dalam jumlah yang banyak sekaligus.
Selayaknya jika jumlah yang banyak ini dapat diberikan edukasi yang baik, mengenai isu-isu terkini di masyarakat, termasuk edukasi soal politik.
Dalam dialog kebangsaan bertajuk “Keadilan yang Dirindukan, Pilar Peradaban yang Hilang” yang berlangsung di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026) lalu, salah satu pembicara, Shofwan Al Banna Choiruzzad, seorang Profesor Hubungan Internasional di FISIP UI, yang juga mantan petugas remaja masjid di Masjid Jogokariyan, mengatakan, bahwa pihak Masjid Jogokariyan berencana mengadakan kegiatan dialog semacam ini secara rutin.
Untuk bisa mengedukasi jemaah terkait isu-isu terkini yang sedang berkembang di masyarakat.
“Kami dari Masjid Jogokariyan berencana mengadakan kegiatan seperti ini secara rutin. Nanti kita akan bikin semacam Jogokariyan Institute, dan kita harap kegiatan ini bisa lebih meluas ke masjid-masjid lainnya di seluruh Indonesia,” ucap Shofwan Al Banna di Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026).
Menurut Shofwan, saat ini Indonesia memiliki sekitar 800 ribu sampai 1 juta masjid, yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dari jumlah tersebut, jika seluruh jemaahnya bisa diedukasi secara politik, memiliki kesadaran politik, dan seterusnya, maka seharusnya keadilan yang seadil-adilnya akan lebih mudah diperjuangkan bersama-sama.
“Kita juga ingin buat dialog-dialog semacam ini di masjid-masjid lainnya (tidak hanya Masjid Jogokariyan), agar semakin banyak masyarakat yang tercerahkan akan edukasi politik, sehingga keadilan bisa benar-benar layak kita dapatkan,” ungkap Shofwan.
Dengan lebih banyak masjid yang mengadakan dialog kebangsaan seperti yang dilakukan oleh Masjid Jogokariyan, bagi Shofwan, hal itu tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi politik, namun juga mampu mencerdaskan para jemaah, terkait bagaimana bersikap dalam kehidupan sehari-hari.
Karena sejatinya berpolitik bukan hanya tentang kekuasaan di ranah pemerintahan, tapi juga melekat dalam kehidupan masyarakat di daerah-daerah terpencil hingga pelosok setiap harinya. (*)



