Mabur.co — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merencanakan revitalisasi Anjungan DIY di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai bagian dari upaya memperkuat promosi budaya dan pariwisata daerah.
Rencana tersebut dibahas dalam audiensi antara manajemen TMII dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dikutip dari RRI.co revitalisasi diarahkan untuk menjadikan Anjungan DIY sebagai etalase budaya yang lebih representatif dan adaptif terhadap konsep baru TMII.
Sri Sultan menekankan bahwa anjungan tidak hanya berfungsi sebagai pajangan fisik, tetapi juga harus mampu menyampaikan nilai sejarah, filosofi, dan dinamika budaya Yogyakarta kepada pengunjung. Gubernur DIY menyebutkan bahwa anjungan harus menjadi sarana promosi aktif, bukan sekadar ruang pamer statis.
Revitalisasi sendiri nantinya direncanakan akan mencakup pembaruan desain interior, penguatan konten edukatif, serta pemanfaatan teknologi digital. Ruang pamer akan memuat informasi tentang Keraton Yogyakarta, batik, wayang, gamelan, serta tradisi adat, yang dikemas dalam bentuk panel multimedia dan instalasi interaktif.
Revitalisasi ini bertujuan menarik minat generasi muda agar lebih mengenal budaya lokal melalui pendekatan visual dan teknologi.
Penataan ulang ruang rencananya juga akan mengatur alur kunjungan agar lebih nyaman. Area masuk, ruang pamer, panggung pertunjukan, dan ruang cinderamata juga akan diintegrasikan sehingga aspek aksesibilitas khususnya bagi penyandang disabilitas dapat lebih terakomodir.
Menurut laporan In Journey Destination Management, revitalisasi dilakukan sejalan dengan kebijakan pengelolaan baru TMII yang menekankan fungsi edukasi, rekreasi, dan konservasi budaya.
Pemda DIY sendiri berencana melibatkan seniman, budayawan, dan akademisi dalam proses kurasi konten. Langkah ini bertujuan menjaga keaslian nilai budaya yang ditampilkan sekaligus memastikan relevansi dengan perkembangan zaman.
Dikutip dari KabarBUMN, kolaborasi tersebut juga membuka ruang bagi pameran temporer dan pertunjukan seni rutin di Anjungan DIY.
Salah satu pengamat sekaligus pelaku budaya asal Kulon Progo, Yogyakarta, Singgih Wibisono, menilai revitalisasi Anjungan DIY di TMII merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan diplomasi budaya di tingkat nasional.
Menurutnya, keberhasilan revitalisasi tidak hanya ditentukan oleh desain fisik, tetapi juga oleh kekuatan narasi budaya serta beragam kegiatan yang diselenggarakan untuk publik.
Singgih juga menekankan pentingnya konsistensi pengelolaan setelah revitalisasi selesai. Tanpa agenda kegiatan yang berkelanjutan, anjungan berpotensi kembali menjadi ruang simbolik tanpa daya tarik signifikan bagi pengunjung.
“Menurut saya, penyelenggaraan kegiatan yang menampilkan potensi seni dan budaya di daerah-daerah termasuk Kulon Progo menjadi sangat penting. Agar seni budaya yang belum begitu dikenal bisa semakin dikenal luas,” katanya kepada mabur.co, belum lama ini.
Selain itu, Singgih juga berharap agar pelibatan komunitas seni lokal dalam setiap kegiatan promosi itu juga harus lebih sering dilakukan, karena dapat menjadi kunci agar Anjungan DIY tidak kehilangan ruh kebudayaannya dan tetap menjadi representasi autentik Daerah Istimewa Yogyakarta.
Revitalisasi Anjungan DIY sendiri rencananya akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan dengan anggaran dan operasional TMII. Setelah rampung, anjungan diharapkan dapat menjadi pusat promosi budaya Yogyakarta yang lebih hidup, modern, dan informatif.
Dengan revitalisasi ini, Anjungan DIY di TMII diharapkan tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga ruang pembelajaran sekaligus ruang promosi yang mampu memperkuat identitas dan memajukan seni budaya Daerah Istimewa Yogyakarta di tingkat nasional. ***



