Kenang Datuk Madjoindo, Fadli Zon: Sastra Bagian Penting Pemajuan Kebudayaan

4 Min Read
Black-and-white portrait of a man with short dark hair, looking to the right.
Aman Datuk Madjoindo (Sumber: RRI)

Mabur.co – Generasi saat ini mungkin tak mengenal siapa Aman Datuk Madjoindo. Padahal sastrawan asal Minang Sumatera Barat ini merupakan sosok di balik novel terkenal Si Doel Anak Betawi yang kemudian di dibuat menjadi sinetron legendaris berjudul Si Doel Anak Sekolahan.

Pada era 90-an, film yang tayang di televisi ini begitu merajai panggung hiburan tanah air hingga melambungkan nama Rano Karno yang menjadi pemeran utama yang kini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta saat ini.

Ensiklopedia Sastra Indonesia Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat novel Si Doel Anak Betawi pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada 1932. Namun karena begitu populer novel ini masih diterbitkan hingga cetakan ke-23 pada 2006.

Aman Datuk Madjoindo dikenal sebagai pengarang produktif yang memberikan kontribusi penting bagi perkembangan sastra Indonesia. Ia menulis berbagai cerita, novel, menyadur, dan menerjemahkan karya dari beragam genre.

Dikutip dari laman resmi Kemendikdasmen, Aman mengawali kariernya di Balai Pustaka dan mengabdi hingga 30 Juni 1958. Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya di penerbit Djambatan. 

Sejumlah karya Aman antara lain Si Doel Anak Betawi, Si Cebol Rindukan Bulan, Rusmala Dewi, Perbuatan Dukun, Pak Janggut, Srigunting, dan Putri Rimba Larangan. Ia juga menyadur sejumlah cerita klasik, termasuk Cindur Mata dan Tambo Minangkabau dan Adatnya.

Salah satu keistimewaan karya Aman adalah kemampuannya menggambarkan kehidupan masyarakat Betawi melalui bahasa dan kebiasaan sehari-hari.

Meskipun berasal dari Sumatera Barat, Aman yang pergi merantau dan menjalani kehidupan di Jakarta mampu merekam berbagai kehidupan sosial masyarakat Betawi dengan baik dalam sebuah karya sastra populer. Dari karya itulah masyarakat di berbagai daerah di Indonesia bisa mengenal budaya Betawi.

Kontribusi Aman Datuk Madjoindo kembali mendapat perhatian dalam acara Mengenang 130 Tahun Aman Datuk Madjoindo di Graha Utama Kompleks Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjadi pembicara utama sekaligus meluncurkan buku Tambo Minangkabau.

Dilansir rilis remai Kementerian Kebudayaan, Fadli Zon mengapresiasi kiprah Aman sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan sastra Indonesia. Menurutnya, karya sastra merupakan bagian penting dari pemajuan kebudayaan dan perlu diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat internasional.

“Aman Datuk Madjoindo merantau dan hidup di Jakarta, menjadi orang Jakarta, bahkan dalam novel-novelnya termasuk Si Doel Anak Betawi, percakapannya menggunakan bahasa dan dialek Betawi serta membawa gaya hidup budaya Betawi. Sastra merupakan bagian yang sangat penting dalam pemajuan kebudayaan.” ujarnya.

Fadli mengatakan, Kementerian Kebudayaan akan terus mendorong penerjemahan karya sastra klasik agar dapat dibaca masyarakat internasional.

Kementerian Kebudayaan menargetkan penerjemahan 15 buku kontemporer dan enam buku klasik terbitan Balai Pustaka ke berbagai bahasa asing. Salah satu karya yang didorong untuk diterjemahkan adalah Si Doel Anak Betawi.

Upaya tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang mencakup sepuluh objek pemajuan kebudayaan, termasuk tradisi lisan, manuskrip, pengetahuan tradisional, dan seni.

Peringatan 130 tahun Aman Datuk Madjoindo menjadi momentum untuk mengenalkan kembali sosok dan pemikirannya kepada generasi muda.

Lebih dari sekadar pengarang Si Doel Anak Betawi, Aman merupakan bagian penting dari perjalanan sastra Indonesia. Karyanya memperlihatkan bagaimana pengalaman merantau dan kehidupan masyarakat lokal dapat diolah menjadi cerita yang bertahan melampaui zamannya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar