Tak Hanya Tinggalkan Kanvas: Refleksi 100 Hari Kepergian Nasirun

5 Min Read
Profile of a man with long hair and beard smoking a cigarette, close to the lips, with an orange-lit bookstore or shelves in the background.
Pelukis Nasirun di depan lukisannya (Sumber: VOI M. Asrian Mirza)

            Pada 1 Agustus 2026, pukul 05.58 WIB. di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta, Nasirun berpulang. Sabtu Kliwon. Usia 60 tahun.

            Hari ini, 9 November 2026, tepat 100 hari. Dalam tradisi Jawa, 100 hari adalah nyatus, saat arwah sudah benar-benar dilepas, dan yang tinggal adalah cerita. Dan cerita tentang Nasirun ternyata belum habis. Justru setelah ia pergi, cerita-cerita tercecer itu bermunculan di media sosial, di balai budaya, dan di warung kopi Bayeman.

Seniman Miliuner yang Hidup Seperti Petani

            Cerita pertama datang dari Jumat sore, 31 Juli 2026, sehari sebelum ia wafat. Jumaldi Alfi, tetangga sekaligus sahabatnya di Perum Bayeman Permai, Wates, melihat Nasirun masih menyapu halaman rumah seperti biasa. Tidak ada firasat. Pukul 02.00 dini hari sesaknya kambuh, dibawa ke rumah sakit, pukul 05.50 jantung berhenti berdetak. Keluarga baru tahu ia mengidap pneumonia dan asam lambung. Tiga hari sesak, hilang timbul, tapi tidak pernah ia keluhkan.

            Jumaldi mengaku hanya sekali melihat Nasirun tidak tertawa, saat operasi hemoroid. Besoknya, ia tertawa lagi sambil bawa bantal ke mana-mana. Itulah Nasirun, seniman miliuner yang hidup seperti petani. “Kebesaran Nasirun ternyata tidak hanya tertinggal di atas kanvas. Di balik lukisan-lukisannya yang menyerap tradisi, spiritualitas, dan pergulatan zaman, ada kehidupan yang ia bangun bersama banyak orang,” dilansir inilahmojokerto.com dari diskusi “Mewicarakan Nasirun” di Balai Budaya Surabaya, 17 Oktober 2026, bersama Ugo Untoro, Jumaldi Alfi, dan Sarah Monica, dipandu Nirwan Dewanto, dikutip Mabur.co (6/11/2026).

            Dalam diskusi itu, Ugo Untoro yang satu angkatan ISI Yogyakarta 1987-1988, mengenang Nasirun sebagai Bawor. Tokoh Punakawan Banyumasan yang egaliter, kritis, suka mendobrak kemapanan. Nasirun memang suka mendalang di acara among-among tetangga, bukan di panggung besar. Ia menyebut dirinya “petani seni rupa”. Tidak punya HP sejak tahun 2000, tidak bisa menyetir, padahal di garasinya ada koleksi mobil. Tidak punya medsos, tidak baca koran daring, tapi kutipan ayat Al-Qur’an-nya membuat Jumaldi Alfi yang berlatar Muhammadiyah terheran-heran.

Nasirun Berzikir Pakai Kuas dan Kanvas

            Cerita kedua yang tercecer: hadiah lukisan untuk tukang reparasi antena. Medi, kerabat dari jalur istri Nasirun, masih menyimpan lukisan topeng pemberian Nasirun. Dulu, saat Nasirun masih tinggal di Soragan, ia minta Medi memperbaiki antena TV untuk menonton Piala Dunia. “Setelah saya betulkan, saya diberi lukisan topeng itu, jadi kenang-kenangan untuk mengenang kebaikan almarhum,” dikutip mojok.co.

Bagi orang lain, lukisan Nasirun bernilai ratusan juta. Bagi Nasirun, lukisan adalah ucapan terima kasih. Begitu juga Didi Nini Thowok yang diberi kopiah dan dua manekin lukis tangan. Begitu juga 30 ekor kucing yang dipeliharanya, dan siapa pun yang datang ke studionya tanpa janji, selalu disuguhi teh dan cerita.

            Nasirun lahir pada 1 Oktober 1965 di Cilacap, dari ayah pengamal Tarekat Naqsyabandiyah dan ibu pendongeng Sunda Wiwitan. Ayahnya berzikir, ia melukis. “Bapakku zikir untuk dekat dengan Tuhan, aku zikir pakai kuas dan kanvas,” katanya. Karya-karyanya Persembahan untuk Batara Guru (1999) yang ia hibahkan ke Galeri Nasional, Sultan Seni Rupa (2014), 24 mobil mewah yang dilukis wayang hingga pecahkan Rekor MURI 2016, semua berbicara tentang wayang, buraq, topeng, dan kekuasaan.

Namun, mitos yang paling kontekstual hari ini adalah, di zaman ketika seniman berlomba viral, Nasirun memilih tidak mempunyai HP. Di zaman ketika karya dijual lewat NFT, ia memilih memberi lukisan untuk tukang antena. Sudah 100 hari kepergianmu orang baik. Makamnya di Girisapto, Imogiri, berdampingan dengan para maestro. Tapi di Bayeman, orang masih merasa ia belum pergi. Karena setiap kali ada yang datang, mereka masih mendengar tawa itu.

Bagi Nasirun, “Saya berkesenian tak pernah ambisi untuk menjadi populer, ambisi menjadi kaya raya, apalagi ambisi untuk mengalahkan orang lain.” Katanya selalu. Nasirun sudah membuktikan semua itu, lewat cerita kebaikannya yang terus diceritakan orang lain setelah ia tiada.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar