Mabur.co – Keraton Yogyakarta dikenal memiliki beragam pusaka turun-temurun yang sangat dikeramatkan. Mayoritas pusaka itu berbentuk barang. Mulai dari senjata, songsong atau payung kebesaran, perangkat gamelan, hingga kereta tunggangan raja.
Namun tahukah kamu, ternyata Keraton Yogyakarta juga memiliki pusaka dalam bentuk tarian. Tarian itu dianggap sebagai pusaka karena memiliki nilai kesakralan tinggi yang tidak bisa sembarangan dipentaskan. Namanya Tari Bedhaya Semang.
Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan DIY, Tari Bedhaya Semang merupakan salah satu pusaka berupa tarian putri klasik yang diciptakan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Tari ini juga disebut sebagai induk dari semua tarian Bedhaya.
Tari Bedhaya Semang, sangat disakralkan oleh keraton, karena merupakan reaktualisasi hubungan mistis antara keturunan Panembahan Senopati sebagai Raja Mataram Islam pertama dengan penguasa Laut Selatan atau Ratu Laut Selatan, yaitu Kanjeng Ratu Kidul.
Dalam tradisi keraton, tarian ini menandai hubungan sakral antara raja, alam semesta, maupun kekuatan spiritual. Karena itu, Tari Bedhaya Semang tidak bisa sembarangan dipentaskan dalam setiap acara, melainkan hanya pada momen tertentu yang memiliki nilai kesakralam tinggi, termasuk prosesi jumenengan atau penobatan raja.
Dalam prosesi ini, Tari Bedhaya Semang dipentaskan dengan 3 fungsi utama. Yakni sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa keselamatan bagi sultan, simbolisasi legitimasi kekuasaan sultan, sekaligus sarana pelestarian nilai kepemimpinan Jawa.
Berdasarkan laman resmi Keraton Yogyakarta, Tari Bedhaya sendiri secara umum biasanya dibawakan oleh sembilan penari perempuan dengan gerakan halus, lambat, dan terkendali. Iringan gamelan serta tembang berbahasa Jawa halus menjadi bagian penting dalam memperkuat suasana khidmat pementasan.
Tari Bedhaya bukan sekadar tarian hiburan, melainkan tarian ritual yang mengandung pesan moral, spiritual, dan kepemimpinan.
Gerakan kesembilan penari dalam Tari Bedhaya melambangkan unsur batin manusia yang selalu terkendali.
Dalam konteks kepemimpinan, sembilan unsur tersebut dimaknai sebagai simbol bahwa seorang raja wajib mampu menguasai hawa nafsu, pikiran, emosi, dan kehendak agar dapat memimpin dengan adil.
Formasi penari yang selalu berubah namun tetap harmonis mencerminkan dinamika kehidupan yang harus dijalani dalam keseimbangan.
Dilansir dari situs resmi Dinas Kebudayaan DIY pula, penari tarian Bedhaya tidak dipilih sembarangan. Mereka menjalani proses latihan panjang, penghayatan makna, serta laku spiritual seperti puasa dan doa sebelum pementasan.
Proses ini bertujuan menjaga kesucian tarian sekaligus mempersiapkan penari sebagai pelaku ritual, bukan sekadar seniman pertunjukan.
Di era sekarang, beragam Tari Bedhaya telah banyak dipelajari di luar lingkungan keraton sebagai bagian dari pendidikan seni. Namun, Tari Bedhaya Semang versi keraton tetap dianggap memiliki nilai kesakralan paling tinggi yang tidak bisa direplikasi di luar lingkungan keraton begitu saja. ***



