Simbol 270 Tahun, Ganesha Menari di Malioboro

3 Min Read
Large crowd gathers around a lit monument in a town square during an evening festival with a stage and colorful lights.
Puncak perayaan 270 Tahun Kota Yogya dari Tugu hingga KM 0 menjadi lautan cahaya dan manusia. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Tadi malam, 7 Oktober 2026, Malioboro tidak tidur. Ia berubah menjadi sungai cahaya. Puncak HUT ke-270 Kota Yogyakarta yang baru saja usai itu bernama Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026.

Tahun ini istimewa karena WJNC memasuki usia penyelenggaraan ke-10, satu dekade perjalanan mempromosikan keindahan budaya pewayangan.

Jam 19.30 WIB, tepat saat azan Isya bersahutan dari Masjid Gedhe, 14 kemantren bergerak dari Gedung DPRD DIY menuju Titik Nol Kilometer.

Rute baru ini sengaja memanjang, tidak lagi berjejal di Tugu.

“WJNC tahun ini istimewa karena lokasinya berada di kawasan Malioboro. Start dari Gedung DPRD DIY, kemudian pertunjukan utama berada di Titik Nol Kilometer, dan jalur pawai melintas melalui Jalan Senopati serta Jalan KH Ahmad Dahlan,” jelas Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Muhammad Zandaru Budi Purwanto, dalam jumpa pers di Balaikota.

Dewa Gana Kalajaya

Tema tahun ini Dewa Gana Kalajaya atau Ganesha. Bukan asal pilih.

“Dewa Gana Kalajaya itu Ganesha yang melambangkan pengetahuan, kebijaksanaan, dan kepandaian. Ini sesuai dengan brand Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati.

Mitos Gana di Yogya itu berlapis. Di keraton, Ganesha dipercaya sebagai penjaga perempatan, penolak bala. Karena itu patung Ganesha kecil sering ditaruh di Pojok Beteng. Tadi malam, Ganesha raksasa itu diarak justru melewati perempatan Malioboro, seolah kota sedang diruwat ulang di usia 270.

Secara historis, angka 270 bukan angka bulat biasa. 13 Februari 1755 Perjanjian Giyanti, 13 Maret 1756 Hadeging Nagari Ngayogyakarta.

Artinya tadi malam publik merayakan sebuah kota yang lahir dari hutan Beringin di antara Kali Code dan Winongo, yang kini berumur hampir tiga abad. Yang menarik dari tadi malam adalah strategi kerumunan.

Pesan Terkait Lingkungan

Tadi malam bukan hanya 14 kemantren yang tampil, tapi sekitar 2.000 penampil yang turun ke jalan. Peserta menampilkan tokoh pewayangan melalui kostum, seni tari, properti pendukung dan musik, ditambah kontingen dari Kabupaten Bantul, Kota Magelang, DKI Jakarta, Kota Mojokerto, Kabupaten Sleman, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Ponorogo, sebagaimana dilansir dari zonajogja.com.

Uniknya, WJNC 2026 menyelipkan pesan lingkungan.

“Tidak sekadar menampilkan karnaval cerita pewayangan, tapi juga pesan terkait lingkungan seperti kebersihan dan pengelolaan sampah,” tulis Siaran Pers Pemkot. Bahkan tiap kemantren diimbau pakai properti dari bahan daur ulang.

Sejak kemarin siang rekayasa lalu lintas dimulai jam 13.00 WIB dari kawasan utara. Kantong parkir disiapkan di Taman Parkir Ngabean, Jalan KH Ahmad Dahlan, Suryotomo, Mataram, dan eks Menara Kopi.

Tadi malam, di antara penonton yang kebanyakan live TikTok, ada Mbah Rubiem, 72 tahun, buruh gendong Beringharjo yang pada Agustus lalu dapat apresiasi kerja bakti 270 titik.

Ia tidak menari, ia hanya menonton Ganesha lewat sambil bilang pelan: “Yogya itu kalau dihitung tuwa, tapi nek njoget isih enom.”

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar