Mabur.co – Tak banyak yang tahu, masyarakat adat Sasak, di Lombok, Nusa Tenggara Barat, juga mengenal seni pertunjukan tradisional wayang.
Mereka bahkan memiliki jenis wayang tersendiri yang biasa dikenal dengan Wayang Sasak, memadukan seni pedalangan dengan kisah-kisah kepahlawanan dalam tradisi Islam.
Berbeda dengan Wayang Purwa yang banyak mengangkat kisah Mahabharata dan Ramayana dari India, Wayang Sasak atau juga dikenal Wayang Menak Sasak justru menampilkan cerita Menak sebagai salah satu sumber utama pementasan.
Dalam tradisi pementasan wayang ini, mengangkat perjuangan tokoh-tokoh Muslim yang kemudian berkembang dalam tradisi pewayangan masyarakat Lombok.
Dilansir dari buku Khazanah Budaya Nusantara IX yang disusun Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, Selasa (20/10/2026), Wayang Sasak diperkirakan berasal dari Jawa.
Dugaan ini didasarkan pada penggunaan pakem cerita Menak yang berkembang di Jawa, sebelum kemudian diadaptasi dan dikembangkan di Lombok.
Salah satu tokoh yang disebut dalam tradisi lisan setempat sebagai pembawa Wayang Sasak ke Lombok adalah Wali Nyoto.
Ia dikisahkan pernah berkelana ke Jawa ketika masih muda dan menyaksikan pertunjukan wayang kulit.
Bentuk Wayang yang Lebih Ramping
Dari segi bentuk, Wayang Sasak memiliki kemiripan dengan Wayang Kulit Purwa di Jawa. Tokoh-tokohnya dibuat dari kulit hewan, seperti kulit rusa atau sapi, kemudian diukir dan diberi warna sesuai karakter masing-masing.
Namun, Wayang Sasak memiliki ciri visual tersendiri. Bentuk tubuhnya cenderung lebih ramping dengan detail penampilan yang mengikuti pakem dalam naskah cerita.
Pembuatan tokoh wayang tidak dilakukan semata-mata berdasarkan imajinasi perajin. Penyungging merujuk pada kitab-kitab lontar dan Serat Menak yang memuat gambaran fisik para tokoh, mulai dari tinggi badan, lebar dada, hingga senjata yang digunakan.
Salah satu contohnya adalah tokoh Raja Saelan yang dikenal dengan nama Serandil, Macan Kuning, atau Raja Lamdahur.
Dalam Serat Menak, tokoh tersebut digambarkan memiliki tinggi badan sekitar 110 gas serta senjata yang begitu berat hingga disebut tidak mudah diangkat oleh 300 orang.
Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana deskripsi dalam naskah menjadi pedoman bagi seniman untuk membentuk karakter dan penampilan tokoh wayang.
Cerita Menak dan Pengaruh Islam
Cerita Wayang Sasak bersumber dari beberapa naskah, terutama Serat Menak yang terdiri atas tujuh jilid. Selain itu, terdapat pula bahan cerita dari Serat Nabi dan Serat Muhammad, meskipun sebagian kisah dari kedua sumber tersebut tidak lagi dipentaskan karena berkaitan dengan keyakinan Islam.
Wayang Sasak juga mengambil cerita dari kitab-kitab lontar karya pujangga Lombok. Kisah-kisah dalam lontar tersebut dikembangkan dari cerita Menak dan disesuaikan dengan kehidupan masyarakat setempat.
Salah satu cerita yang dikenal dalam tradisi ini adalah “Serandil Ngamuk”, yang mengangkat kisah tokoh Serandil.
Setiap Pementasan Diawali Pembacaan Mantra
Pementasan Wayang Sasak umumnya digelar dalam acara tanggapan atau hajatan masyarakat. Pertunjukan dipimpin oleh seorang dalang yang dibantu sekitar sepuluh penabuh gamelan.
Dalam tradisi pedalangan setempat, kegiatan ini dipandang sebagai bentuk pengabdian. Besarnya imbalan bagi dalang dan para penabuh diserahkan kepada pihak yang mengundang.
Sebelum pertunjukan dimulai, penyelenggara menyiapkan sesaji berupa beras, benang mentah, sirih, pinang, cabai, kemiri, telur ayam, kendi tanah liat, kelapa, pisang, buah-buahan, rengginang, dan uang sekadarnya.
Sesaji tersebut dimaksudkan sebagai permohonan keselamatan bagi pertunjukan, dalang, penanggap, dan penonton.
Rangkaian pementasan diawali dengan pembacaan mantra oleh dalang pada alat pemukul gamelan. Setelah itu, gamelan ditabuh dengan irama pembuka yang berfungsi menandai dimulainya pertunjukan sekaligus mengundang perhatian penonton.
Lampu pertunjukan atau blencong kemudian dinyalakan. Bentuknya khas, menyerupai kepala manusia yang sedang merokok, dengan sumbu dari benang sebagai sumber cahaya.
Ketika dalang hendak mengeluarkan tokoh wayang pertama, iringan gamelan beralih ke Gending Selutur. Dalang lalu membuka pertunjukan dengan menjelaskan maksud pementasan dan meminta izin kepada penonton.
Dalam pengantarnya, dalang menempatkan diri sebagai penyampai cerita, bukan pencipta kisah. Cerita yang dibawakan dipandang sebagai warisan para pendahulu dan bersumber dari kitab-kitab yang dipelajari.
Memadukan Seni, Sastra, dan Tradisi Lokal
Perlengkapan pertunjukan Wayang Sasak meliputi wayang yang dikelompokkan berdasarkan karakter, panggung, layar kain putih, blencong, alat pemukul untuk mengatur irama, kotak penyimpanan wayang, serta seperangkat gamelan.
Tokoh-tokoh berkarakter baik ditempatkan di sisi kanan dan dipimpin Wong Menak atau Wong Agung Menak. Sementara itu, kelompok tokoh berkarakter buruk ditempatkan di sisi kiri dengan Baktak sebagai pemimpinnya.
Seluruh unsur tersebut membentuk pertunjukan yang tidak hanya mengandalkan cerita, tetapi juga memadukan seni rupa, sastra, musik, ritual, dan keterampilan dalang.
Hingga saat ini wayang sasak masih tetap dimainkan dan ditampilkan dalam sejumlah acara. Keberadaannya juga menjadi kekayaan Warisan Budaya Takbenda yang telah diakui di tingkat nasional sehingga harus terus dilestarikan untuk generasi mendatang.
