Ketika Biaya Hidup Jadi Bara, Paris Akhirnya Membara

4 Min Read
Silver sedan engulfed in flames on a city street as protesters stand nearby with a statue in the background.
Ketika Paris Prancis membara. (Foto: Antara)

Mabur.co – Sabtu 17 Oktober 2026, Paris tidak romantis. Boulevard Voltaire berasap. Di Place de la République, patung Marianne dipakaikan rompi kuning bertuliskan: “2026 police maims school girls”.

Gelombang demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik di Prancis berubah menjadi kerusuhan pada Sabtu 17/10/2026 tersebut.

Aksi yang melibatkan ratusan ribu orang di Paris dan sejumlah kota lain itu diwarnai pembakaran, penjarahan, serta bentrokan dengan polisi.

Sementara pemerintah melaporkan sekitar 1.200 orang ditangkap, tulis harianbasis.co, dikutip mabur.co, Selasa (20/10/2026).

Hidup Terlalu Mahal, Kata Mereka

Pagi hari, semua masih damai. Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 550.000 orang turun, CGT serikat buruh klaim 800.000.

Mereka bukan satu komando: pelajar SMA yang sejak September protes karena kekurangan guru dan kelas bocor, pekerja yang gajinya tidak naik tapi sewa apa saja naik, petani, eks Rompi Kuning 2018, aktivis iklim. Semua ketemu di satu titik: hidup terlalu mahal, kata mereka.

Di Paris, ribuan demonstran berjalan melalui kawasan timur dan utara kota. Sebagian peserta menyampaikan tuntutan secara damai, tetapi kelompok lain melakukan perusakan, lanjut harianbasis.co.

Sore, kelompok bertopeng hitam masuk. Kamera CCTV diputus, etalase Galeries Lafayette dibobol, butik Lacoste di Le Marais dijarah, supermarket Carrefour dijarah.

Di Lyon, kantor pariwisata dibakar. Di Limoges, balai kota abad ke-19 dari 1883 terbakar sampai atap runtuh.

Gelombang demonstrasi nasional yang melanda berbagai kota besar di Prancis pada Sabtu, 17 Oktober 2026, berubah menjadi kerusuhan massal yang destruktif.

Seluruh Ruas Jalan di Paris Telah Hancur Lebur

Hingga Senin 19/10/2026, otoritas melaporkan sedikitnya 1.800 orang telah ditangkap dan sekitar 1.500 toko serta gerai ritel mengalami kerusakan parah, tulis jabarnews.id.

Seperti ditulis Victor Hugo dalam Les Misérables: “Ketika rakyat lapar, jalanan berbicara.”

Di Paris, jalanan berbicara dengan kembang api dilempar ke polisi CRS 8, dengan gas air mata dibalas batu paving.

Ada suara yang sering dilupakan. Seorang demonstran 19 tahun bernama Lola: “Kami berjuang karena biaya hidup terlalu tinggi, karena harga bahan bakar terlalu mahal, karena siswa sekolah menengah diserang dan dilukai secara brutal di seluruh negeri hanya karena mencoba memprotes dan meminta lebih banyak guru dan kondisi belajar yang layak,” ujarnya dikutip harianbasis.co.

Di Strasbourg, guru Regine Monfroid: “Kami sudah muak bekerja keras dengan upah sangat rendah, sementara biaya sewa terus naik.”

Presiden Emmanuel Macron Minggu malam posting di X: “Tidak ada tempat bagi kekerasan di republik kita. Mereka yang melakukan perusakan akan dituntut dan dihukum.”

Wakil Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire bilang: “Seluruh ruas jalan di Paris telah hancur lebur.”

Paris punya sejarah kerusuhan tiap krisis: 1789 Bastille, 1968 mahasiswa, 2005 banlieue, 2018 Rompi Kuning.

Setiap kali demontrasi massal terjadi, selalu ada mitos yang sama: kota cahaya padam sejenak, lalu menyala lagi dengan janji baru.

Kali ini menjelang Pilpres 2027, janji itu ditagih dengan bara. Senin pagi, petugas kebersihan menyapu pecahan kaca di Rue de Rivoli.

Seorang nenek di Paris, Alice 62 tahun, bilang ke Reuters, “Heartbreaking melihat kota kami seperti ini”.

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar