Yogyakarta-Bali, Ruang, Rasa, Sesama: 44 Tahun Bentara Budaya

4 Min Read
Audience seated around a circular stage for an outdoor performance at dusk, with temple buildings in the background.
Rangkaian acara 44 tahun Bentara Budaya di Bali. (Foto: Bentara Budaya)

Mabur.co – Bentara Budaya genap berusia 44 tahun. Lembaga kebudayaan yang didirikan Jakob Oetama dan PK Ojong pada 26 September 1982 itu merayakan dengan cara paling Bentara: bukan pesta kembang api, tapi dialog.

Di Gianyar, Bentara Budaya Bali menggelar Beranda Bentara bertajuk “Ruang, Rasa, Sesama: Refleksi Seni dan Kepedulian Hari Ini” di Gedung Unit 1 Kompas Gramedia Ketewel, Jumat 25 September 2026, pukul 17.00 WITA.

Seperti dicatat baliprawara.com, forum ini menghadirkan penulis Dr. Jean Couteau, penari Dayu Ani, dan perupa Made Kaek. Forum ini menjadi bagian dari peringatan 44 tahun Bentara Budaya yang jatuh pada 26 September 2026.

Yogyakarta sebagai Rumah Pertama Bentara

Di Yogyakarta, rumah pertama Bentara di Jl. Suroto 2 Kotabaru, peringatan diisi pameran “Olah Rasa Visual Masa Lalu, Kini, Masa Datang”.

Kurator Sindhunata dan Hermanu mengajak perupa mencermati sumbu imajiner Merapi-Tugu-Keraton-Panggung Krapyak-Parangtritis dalam karya yang memadukan tradisi dan teknologi.

“Di tengah gempuran informasi dan berita bencana, seni menjadi titik jeda bagi kita. Dari perenungan dan titik jeda tersebut, kita tergerak untuk berbuat sesuatu melalui media karya, sekecil apa pun itu, guna menyebarkan getaran kasih dan pengingat kemanusiaan,” ujar Dayu Ani, penari dan koreografer ISI Bali, seperti dikutip OborDewata.com.

Made Kaek menambahkan: “Kunci utama dalam hidup dan berkesenian bukanlah sekadar kepintaran, melainkan kedisiplinan, fokus, dan keberanian untuk tekun berproses. Hal yang paling mendasar adalah rasa ‘sesama’ dan empati”.

Rangkaian acara 44 Tahun Bentara Budaya di Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Di Jogja acara yang berlangsung sebagai bagian dari 44 tahun Bentara Budaya: Pameran “Mbesuuk”, Olah Rasa Visual Masa Lalu, Kini, Masa Datang. Berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto No. 2 Kotabaru. Telah dimulai sejak 26 September – 9 Oktober 2026, sesuai dengan hari jadi Bentara Budaya 26 September 1982, seperti dilansir dari  dialoguejakarta.com.

Pameran itu menampilkan 19 perupa dengan garis imajiner Merapi–Tugu–Keraton–Panggung Krapyak–Parangtritis sebagai bentangan waktu.

Salah satu karya ikonik patung Nita Azhar “BATIK, The Second Skin Serat” tubuh berhiaskan batik transparan sebagai gambaran fashion 2076.

Utusan Budaya Kompas Gramedia

Jurnal Pariwisata Terapan UGM mencatat, Bentara Budaya awalnya adalah utusan budaya Kompas Gramedia, dibawahi Corporate Communication.

Didirikan untuk menampung koleksi lukisan, keramik, wayang yang dikumpulkan GM Sudarta sejak Gramedia Art Gallery di Pintu Air Jakarta pada 1974.

Pada 1980 ruang pamer di Yogyakarta minim, hanya Taman Budaya dan Karta Pustaka. Bentara mengisi kekosongan itu.

Yang menarik, bangunan Bentara Budaya Jakarta di Palmerah Selatan 17 justru dirancang Romo Mangunwijaya, arsitek pastur yang terkenal.

Sesawi.net mengutip GM Bentara Ilham Khoiri: bangunan itu adaptasi Rumah Kudus, perpaduan estetika Cina-Hindu-Jawa. Di dalamnya tersimpan 573 lukisan Affandi, Sudjojono, Hendra Gunawan, hingga 625 keramik Dinasti Yuan-Ming-Ching, 400-an patung Papua-Bali, dan 120 wayang golek.

Mitos Bentara bukan mistik, tapi kekeraskepalaan. Di saat banyak galeri tutup karena sepi sponsor, Bentara tetap buka tanpa tiket masuk.

Sejak 40 tahun lalu, ketika Kompas TV mencatat pameran Ajur Ajer dengan 26 seniman seperti Djoko Pekik dan Nasirun, para seniman diminta bawa karya lama, tapi mereka malah buat karya baru karena cinta.

44 tahun, Bentara masih menjadi beranda: tempat seniman senior dan pemula saling menyapa, tempat publik belajar bahwa seni bukan hiasan dinding, tapi ruang jeda untuk tetap menjadi manusia. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar