Mabur.co- Upacara penobatan atau Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 dilaksanakan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Penobatan tersebut berlangsung pada 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rejeb 1921 kalender Jawa). Tanggal resmi menyandang gelar Hamengku Buwono X dan memimpin Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Prosesi Jumenengan Dalem merupakan peristiwa penting dan sakral yang secara rutin diperingati setiap tahunnya di Keraton Yogyakarta, dikenal pula dengan sebutan Tingalan Jumenengan Dalem. Rangkaian acara peringatan ini sering kali melibatkan prosesi adat lain, seperti upacara Labuhan di berbagai tempat yang memiliki nilai historis.
Dilansir dari keratonyogyakarta.com, ageman jumenengan adalah busana yang dikenakan oleh calon raja Keraton Yogyakarta dalam prosesi penobatan. Busana jumenengan setiap sultan memiliki pakem tertentu, namun pemilihannya disesuaikan dengan kehendak calon raja yang akan bertahta. Demikian pula, ageman jumenengan Sri Sultan Hamengku Bawono ka X disiapkan dan disesuaikan dengan pilihan yang disukai.
Saat Sri Sultan Hamengku Bawono ka X dinobatkan pada Selasa Wage 29 Rejeb Wawu 1921 atau 7 Maret 1989 Masehi, pada hari itu, sekitar pukul 06.00 WIB, enam Abdi Dalem dari Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhomardowo telah siap di Keraton Kilen.
Enam Abdi Dalem tersebut mendapat dhawuh menyiapkan serta membantu calon sultan mengenakan ageman untuk upacara penobatan.
Bagian Kepala/Rambut
Sultan mengenakan kuluk bareci atau wangkidan berwarna biru. Kuluk merupakan penutup kepala yang berbentuk kerucut terpancung. Pada ukelan atau gelungan rambut yang berada di belakang kuluk, disematkan pethat (hiasan rambut berwujud sisir), dan lancur, hiasan untuk rambut yang berasal dari bulu burung kuntul.
Atasan
Sultan mengenakan rasukan pethak asta panjang, semacam kemeja putih lengan panjang yang diberi sematan bros di sisi atas lajur kancing. Di luar busana ini, sultan mengenakan rasukan sikepan bludiran berwarna hitam dengan bordiran benang emas yang disulam di sepanjang tepi kain dan punggung bagian atas.
Bludiran tersebut membentuk pola sekar (bunga), ron (daun), dan lung-lungan (sulur-sulur). Rasukan sikepan bludiran yang dikenakan Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah busana baru, namun dibuat menyerupai ageman jumenengan sang ayah, Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Sangsangan karset atau perhiasan menyerupai rantai pengikat jam saku, dikalungkan di leher dan disematkan di sisi sebelah kanan dekat pinggang.
Bawahan
Untuk bawahan, sultan mengenakan lancingan cindhe atau celana panjang dari kain cindhe dengan lis bordiran emas di bagian tepi bawah. Cindhe merupakan kain tenun bermotif khas yang berasal dari India. Di atas lancingan cindhe, sultan mengenakan kampuh, kain bermotif yang memiliki ukuran lebih besar dari kain pada umumnya.
Kampuh yang dipilih Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk penobatan bermotif batik Parang Rusak Barong, sementara blumbangan bagian tengah terbuat dari kain sutra motif jumputan hijau kebiruan (turqoise). Motif Parang Rusak Barong merupakan induk dari semua pola parang. Ornamennya menampakkan pola jalinan menyerupai huruf “S” bergaris miring tegas 45 derajat.
Pola parang dalam kampuh yang dikenakan sultan berukuran lebih dari 15 cm. Sesuai pranatan di Keraton Yogyakarta, motif Parang Rusak Barong berukuran lebih dari 10 cm hanya boleh dikenakan oleh raja dan putra mahkota.
Panjang kampuh-nya kurang lebih 4,675 m dan lebar 3,175 m. Sementara blumbangannya berukuran 3,69 m kali 2,215 m. Kampuh tersebut merupakan warisan turun-temurun dari sultan sebelumnya.
Kain kampuh dipakai sedemikian rupa hingga membentuk konca serta kepuh. Konca merupakan ujung/pangkal kampuh yang menjuntai ke bawah, sedangkan kepuh adalah ujung satunya yang dibawa oleh sultan dengan tangan kiri saat berjalan.
Di atas kampuh, stagen dililitkan untuk menguatkan kain, lalu ditambahkan ikat pinggang kain berupa lonthong dari cindhe dan kamus bludiran, sabuk terluar berkepala pengait yang disebut timang.
Alas Kaki
Cenelo atau selop adalah alas kaki yang bagian depannya tertutup seperti sepatu, sementara bagian belakangnya terbuka seperti sandal. Cenelo yang dipakai sultan berwarna dasar hitam.
Bagian depan cenelo yang menutupi jari kaki dipenuhi bordiran benang emas dan disulam mengelilingi ornamen ceplok berlian di sisi tengahnya. ***



