Apakah Setiap Lebaran Harus Selalu Makan Ketupat? - Mabur.co

Apakah Setiap Lebaran Harus Selalu Makan Ketupat?

Mabur.co – Dalam setiap perayaan lebaran atau Idulfitri, biasanya akan muncul satu makanan khas, yang seolah-olah hanya muncul satu tahun sekali, yakni ketupat.

Ketupat adalah makanan khas dari Jawa, yang diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 silam.

Ketupat adalah simbol khas dari perayaan lebaran, yang melambangkan ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan kesucian hati, setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Selain itu, pembuatan anyaman janur kuning yang rumit mencerminkan manusia yang penuh dengan kesalahan, sementara beras putih yang ada di dalam ketupat melambangkan kemurnian jiwa yang kembali bersih, setelah saling memaafkan di hari raya.

Lalu, mengapa kemudian makanan ini seolah-olah hanya muncul saat periode lebaran saja? Dan apakah di setiap perayaan Lebaran, semua orang harus makan sekaligus menyediakan ketupat bagi setiap tamu yang berkunjung atau bersilaturahmi?

Dilansir dari laman Jatimtimes, Minggu (22/3/2026), berikut adalah sejumlah fakta menarik tentang ketupat, dan kehadirannya di tengah-tengah perayaan lebaran bagi umat muslim.

Bukan Kewajiban Agama

Mengonsumsi ketupat sejatinya adalah bentuk syukuran dan adat istiadat, khususnya bagi masyarakat di Pulau Jawa. Dan sama sekali bukan perintah agama, melainkan hanya sebagai ritual turun-temurun yang telah dijalankan masyarakat sejak lama, sehingga menjadi tradisi yang tak terpisahkan dari setiap perayaan idulfitri. 

Asal-Usul Tradisi

Sunan Kalijaga kerap menggunakan ketupat sebagai sarana dakwah, dengan cara menyatukan ajaran Islam dengan tradisi lokal.

“Lebaran Ketupat

Saking spesialnya ketupat dalam perayaan lebaran, banyak orang yang kemudian menggabungkan keduanya dengan istilah baru, yakni “lebaran ketupat”. Seolah-olah perayaan lebaran tidak akan lengkap tanpa adanya ketupat di atas meja makan.

Tradisi “lebaran ketupat” sendiri biasanya dirayakan seminggu setelah Idulfitri (tanggal 8 Syawal) sebagai penanda berakhirnya puasa sunnah Syawal.

***

Secara umum, tidak ada keharusan sedikit pun bagi umat muslim untuk makan atau menyediakan ketupat bagi para tamu selama lebaran. Ketupat hanyalah sebuah tradisi turun-temurun yang sudah berkembang sejak lama, dan turut dilestarikan dari generasi ke generasi.

Jadi bukan berarti perayaan lebaran tidak akan sah atau tidak afdol, jika tidak menyediakan ketupat di dalamnya. Karena semua itu hanyalah kebiasaan tertentu dari kalangan masyarakat di sebagian wilayah.

Sebaliknya, makan ketupat pun juga tidak perlu hanya dilakukan pada saat hari raya. Makanan ini bisa dinikmati kapan saja, dimana saja, dan bersama siapa saja, serta tidak perlu hanya sekali dalam setahun. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *