Damkar Masa Kini Lebih dari Sekadar Pemadam Kebakaran: Menerima Curhat Patah Hati - Mabur.co

Damkar Masa Kini Lebih dari Sekadar Pemadam Kebakaran: Menerima Curhat Patah Hati

Mabur.co – Tanggal 4 Mei diperingati sebagai hari pemadam kebakaran (damkar) internasional. Peringatan ini pertama kali digagas oleh J.J. Edmondson pada 1999 silam, setelah tragedi tewasnya lima petugas damkar di Victoria, Australia.

Hadirnya hari damkar internasional ini bertujuan untuk menghormati dedikasi petugas yang telah berjuang di garis terdepan, guna memadamkan api dan menyelamatkan nyawa orang-orang yang berada di sekitar lokasi kebakaran.

Namun kini, petugas pemadam kebakaran (damkar) sepertinya sudah mulai melenceng jauh dari jobdesk utamanya sebagai pemadam kebakaran. Dimana salah satunya terjadi karena kasus kebakaran yang semakin berkurang (which is good news).

Di masa kini, peran mereka mulai beralih fungsi, dari yang awalnya hanya memadamkan api kebakaran di sebuah rumah atau gedung, kini tugas mereka mulai lebih beragam, dan tidak melulu berkaitan soal urusan kebakaran. Karena lagi-lagi, hal itu disebabkan karena kasus kebakaran sudah semakin berkurang, sehingga mereka pun gabut dan mencari sensasi petualangan baru, yang masih berkaitan dengan rescue (penyelamatan).

Dilansir dari laman Kalteng.co, Senin (4/5/2026) berikut adalah beberapa tugas unik damkar, di luar tugas utama sebagai pemadam kebakaran.

1. “Sampah” Curhat dan Laporan Darurat Unik

Entah siapa yang mengawalinya, yang jelas damkar “masa kini” sering menjadi tempat curhat dan rujukan utama untuk masalah-masalah sosial tertentu, yang tidak ada hubungannya dengan urusan api. Mulai dari masalah hewan, benda tersangkut, hingga evakuasi unik lainnya. Misalnya untuk melepaskan cincin/benda tersangkut, evakuasi hewan liar di suatu rumah, hingga kejadian konyol seperti menemukan kunci rumah yang jatuh di selokan, dan seterusnya.

2. Penyelamatan Lain di Luar Urusan Kebakaran

Damkar juga kerap melakukan aksi penyelamatan lain di luar urusan kebakaran, di antaranya penanganan kecelakaan lalu lintas (lakalantas), seperti memotong bodi kendaraan untuk mengevakuasi korban yang terjepit, menengahi adu mulut antara dua pihak yang terlibat lakalantas, dan lain-lain.

Selain itu, petugas damkar juga kerap dilibatkan langsung dalam proses penanganan bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, longsor, dan seterusnya.

Tidak hanya itu, mereka juga sering terlibat dalam penanganan kebocoran bahan-bahan berbahaya dan beracun. Baik itu bahan kimia, gas, serta bahan peledak.

Dari berbagai penanganan dan penyelamatan di atas, sudah selayaknya damkar mampu menggantikan tugas pihak kepolisian, yang di era presiden Prabowo saat ini lebih banyak ditugaskan untuk urusan-urusan “receh” lainnya, seperti mengurus perkebunan, menerima laporan terkait ucapan para pengamat yang mengkritik pemerintah, mengelola SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi) dan sebagainya.

3. Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Damkar juga aktif memberikan penyuluhan ke sekolah, perusahaan, dan permukiman penduduk, sepert cara penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), edukasi pencegahan kebakaran untuk skala rumah tangga, dan lain sebagainya.

***

Meskipun petugas damkar telah dilatih menjadi sosok yang serbabisa dan sigap dalam segala situasi, namun mereka tetaplah manusia biasa, sama seperti orang-orang yang dilayaninya. Terdapat beberapa risiko berbahaya yang bisa mengintai, jika mereka terus-menerus dimintai pertolongan untuk sesuatu yang di luar jobdesk utama mereka.

Sementara jobdesk utama sebagai pemadam kebakaran juga tetap harus berjalan sebagaimana mestinya, karena situasi kebakaran tetap bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa “diundang”, apalagi “diminta”. Karena tidak ada yang pernah mau menghadapi situasi kebakaran, bagaimanapun caranya.

Berikut adalah beberapa risiko yang bisa dialami oleh petugas damkar, jika pekerjaan mereka overload di luar esensi utama pekerjaan mereka.

1. Penurunan Kesiapsiagaan Darurat (Emergency Readiness) 

Dengan banyaknya tugas tambahan (job enlargement) di luar tugas utama sebagai pemadam kebakaran, hal itu dapat mengurangi konsentrasi petugas dari tanggung jawab utama untuk memadamkan api dan menyelamatkan nyawa orang-orang yang terjebak di dalamnya.

Selain itu, seperti kodratnya manusia pada umumnya, mereka juga rentan mengalami kelelahan akibat terlalu banyak mengerjakan jobdesk di luar tugas utama mereka, sehingga apabila sewaktu-waktu terjadi laporan kebakaran di suatu tempat, mereka justru tidak siap, atau sudah “menyerah” (fisiknya) akibat terlalu memforsir tenaga untuk urusan-urusan lain di luar pemadaman kebakaran.

Karena lagi-lagi, damkar juga manusia biasa, sama seperti kita semua.

2. Peningkatan Beban Kerja Mental dan Fisik

Banyak orang yang masih belum menyadari, bahwa profesi pemadam kebakaran adalah pekerjaan yang sangat berisiko tinggi. Mereka pun bisa ikut terbakar, bahkan kehilangan nyawa, akibat profesinya tersebut.

Oleh karena itu, penambahan load pekerjaan di luar jobdesk akan sangat berisiko membuat kondisi mental dan fisik mereka menurun, yang akan berimbas pada kinerja mereka saat mengerjakan tugas yang sesungguhnya sebagai pemadam kebakaran.

Tidak hanya itu, beban kerja yang terlalu tinggi di luar jobdesk juga berisiko menyebabkan penurunan kecermatan kerja otak, memperlambat waktu pengambilan keputusan, dan meningkatkan risiko kesalahan saat berada di lapangan.

Akibatnya, pemadaman api pun bisa jadi tidak benar-benar terselesaikan, lantaran sudah capek duluan dengan urusan-urusan receh di luar jobdesk utama mereka. 

3. Penurunan Kepuasan Kerja

Penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan tugas damkar di luar fungsi utama justru berkontribusi terhadap penurunan kepuasan kerja karyawan (saat melakukan tugas yang sebenarnya), yang akhirnya berdampak pada kinerja secara keseluruhan. 

***

Meskipun damkar bisa dibilang superhero karena mampu menyelamatkan segala situasi kemanusiaan, termasuk di luar urusan kebakaran sekalipun, namun tetap saja, fire extinguisher is fire extinguisher. Mereka adalah pemadam kebakaran. Masyarakat pun harus menghormati prinsip itu.

Kalaupun mereka gabut karena tidak ada kebakaran yang harus mereka padamkan, anggap saja itu sebagai “bonus” atas profesi mereka, yang memang hanya mengandalkan adanya kebakaran di lingkungan sekitar kantor mereka.

Sehingga mereka tidak perlu menyelamatkan hal-hal receh dari masyarakat, seperti menemukan cincin yang hilang, merayakan ulang tahun gadis yang baru saja diputusin pacarnya, atau bahkan mendadak jadi psikolog, yang menerima curhatan dari emak-emak yang ditinggal oleh suaminya, dan masih banyak lagi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *