Mabur.co– Di balik gang-gang sempit Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogyakarta, terselip sebuah bangunan yang memiliki sejarah bagi umat muslim di wilayah itu.
Langgar Dhuwur adalah sebuah tempat ibadah keluarga yang memiliki sejarah panjang dan arsitektur unik, terletak di rumah kediaman Ibu Syafaatun di Kotagede.
Bangunan ini merupakan bagian dari tata ruang rumah tradisional Jawa yang mencakup pendapa, longkangan, pringgitan, dan rumah induk.
Meskipun usianya sudah ratusan tahun, Langgar Dhuwur masih difungsikan sebagai tempat ibadah hingga kini, menjadikannya salah satu warisan budaya yang penting di Kotagede.
Langgar Dhuwur dibangun oleh Haji Ibrahim, seorang tokoh masyarakat Dukuh Celenan yang dikenal sebagai perajin emas.
Setelah Haji Ibrahim meninggal, kepemilikan langgar ini diwariskan kepada anaknya, Haji Adnan. Selanjutnya, Haji Adnan mewariskan langgar ini kepada putrinya, Maslikhah, yang kemudian meneruskannya kepada anaknya, Ibu Syafaatun.
Meskipun mengalami kerusakan akibat gempa pada tahun 2006, Langgar Dhuwur tetap berdiri kokoh dan berfungsi sebagai tempat ibadah keluarga.
Pemilik Langgar Dhuwur Purbayan, Achmad Charris Zubair, menjelaskan, bangunan yang dididirkan pada 1870 oleh kakeknya itu merupakan pusaka keluarga sekaligus saksi bisu akulturasi budaya di tanah Mataram.
Sebab, secara arsitektur Langgar Dhuwur merupakan anomali yang indah, berbentuk panggung, dan bangunan ini tidak menapak tanah, sebuah ciri khas yang mulai punah di Kotagede.
“Tata ruangnya tak lepas dari konsep Hindu Tri Hita Karana. Ada bawangan (rumah), palemahan (halaman), dan pahiyangan (langgar),” katanya, Jumat (13/3/2026).
Charris, menuturkan meski fungsinya memang untuk salat, Langgar dhuwur memiliki akulturasi yang sangat kuat. Mengingat, kata langgar sendiri berasal dari sanggar atau tempat sembahyang.
“Di masa lalu, orang Jawa menyebut salat sebagai sembahyang di langgar,”katanya.
Charris, mengatakan, dulu di Kotagede sendiri setidaknya memiliki tujuh Langgar Dhuwur. Kini jumlahnya menyusut drastis.
“Hanya tersisa dua, satu di Kampung Buharen dan satunya lagi di Celenan, Jagalan, Banguntapan,” katanya.



