Mabur.co– Fenomena langit spektakuler kembali menyapa Indonesia pada awal Maret 2026. Tepatnya Selasa, 3 Maret 2026, masyarakat di berbagai wilayah berkesempatan menyaksikan gerhana bulan total atau yang kerap disebut sebagai blood moon.
Peristiwa ini diprediksi menjadi salah satu tontonan astronomi paling memukau karena bulan akan tampak berubah warna menjadi merah tembaga selama lebih dari satu jam.
Kejadian ini terjadi ketika Bumi tepat berada di antara Matahari dan Bulan saat purnama. Bayangan Bumi sepenuhnya menutupi permukaan purnama dan memunculkan rona merah yang dramatis.
Berbeda dengan beberapa fenomena astronomi yang hanya bisa dilihat di titik tertentu, Gerhana Bulan Total (GBT) kali ini bisa dinikmati dari seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke.
Berikut jadwal fase puncak gerhana berdasarkan zona waktu:
WIB (Waktu Indonesia Barat): 18.33.39 WIB
WITA (Waktu Indonesia Tengah): 19.33.39 WITA
WIT (Waktu Indonesia Timur): 20.33.39 WIT
Karena puncaknya terjadi di sekitar pukul 18.33 WIB, warga di wilayah Barat dapat menyaksikan detik-detik Bulan memerah sesaat setelah membatalkan puasa.
Prof. Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama BRIN bidang Astronomi dan Astrofisika, menjelaskan bahwa fenomena Bulan Merah Darah disebabkan oleh pembiasan cahaya Matahari melalui atmosfer Bumi, yang menyaring cahaya biru dan memungkinkan gelombang merah yang lebih panjang membias ke bulan.
“Alih-alih menjadi gelap saat GBT, purnama berubah warna jadi memerah,” jelasnya dilansir dari situs BRIN, Minggu (1/3/2026).
Prof. Thomas Djamaluddin menjelaskan, hanya cahaya merah yang mencapai Bulan karena warna lain telah dihamburkan oleh atmosfer bumi.
Gerhana ini dapat disaksikan secara langsung dari seluruh wilayah Indonesia, menjadikannya kesempatan sempurna untuk mengamati langit malam tanpa alat khusus.
“Gerhana ini bisa terlihat tanpa bantuan alat, hanya dengan mata telanjang kita sudah bisa menikmatinya. Tentu saja bila ada teleskop dan kamera akan lebih baik lagi untuk mengabadikannya,” ujarnya.
Prof. Thomas Djamaluddin, menuturkan, fenomena GBT ini terbagi menjadi beberapa fase.
Fase penumbral (bayangan lembut yang tidak tampak jelas), gerhana sebagian, dan gerhana total. Lalu kembali ke fase gerhana sebagian dan penumbral.
Setiap tahapan menawarkan nuansa visual yang berbeda dan sangat memukau bagi pengamat langit.
Selain keindahan visual, GBT juga memiliki dimensi edukatif. Masyarakat bisa memanfaatkannya sebagai bahan belajar astronomi.
Keteraturan orbit Bulan mengitari Bumi dan Bumi bersama Bulan mengitari Matahari memungkinkan prakiraan waktu kejadian gerhana.
“Ini bukan sekadar tontonan, tetapi momentum untuk mengenal mekanika benda langit, orbit Bulan, dan konfigurasi Bumi-Matahari-Bulan. Selain itu, kelengkungan bayangan Bumi di Bulan membuktikan Bumi yang bulat. Bukan datar,” ujarnya.
Prof. Thomas Djamaluddin memaparkan, selain menjadi tontonan menarik, gerhana bulan total juga kerap dimanfaatkan sebagai sarana edukasi khusus astronomi.
Peristiwa ini memberi kesempatan bagi pelajar, komunitas astronomi, hingga masyarakat umum untuk memahami lebih jauh tentang pergerakan benda langit dan dinamika tata surya.
“Dengan durasi total hampir lima setengah jam dan fase totalitas lebih dari satu jam, gerhana bulan total 3 Maret 2026 menjadi momen langka yang sayang untuk dilewatkan. Jika cuaca mendukung, langit malam Indonesia akan dihiasi panorama merah tembaga yang memukau dan penuh makna ilmiah,” katanya. ***



