Jelang Terjangan Siklon Narelle, Fenomena Langit Merah Darah Terjadi di Australia Barat - Mabur.co

Jelang Terjangan Siklon Narelle, Fenomena Langit Merah Darah Terjadi di Australia Barat

Mabur.co- Langit di wilayah barat Australia berubah menjadi merah darah yang dramatis pada akhir pekan lalu, menimbulkan suasana seperti akhir zaman di beberapa kota pesisir.

Fenomena langit merah pekat ini terjadi terutama di Shark Bay dan Carnarvon, Western Australia, pada 27–28 Maret 2026.

Warga setempat menggambarkan kondisi tersebut sebagai “sangat eerie” dan “apocalyptic”, di mana seluruh langit dan daratan tertutup debu merah tebal sehingga jarak pandang sangat terbatas.

Penyebab utama adalah Tropical Cyclone Narelle yang mendekat dari Samudra Hindia.

Angin kencang dari siklon ini mengangkat debu merah khas wilayah Pilbara dan Gascoyne ke udara dalam jumlah sangat besar, sehingga sinar matahari tersaring dan langit berubah menjadi warna merah-oranye gelap.

Badai ini sempat mencapai kategori 3 sebelum diturunkan menjadi subtropical low.

Rekaman video dari Shark Bay Caravan Park dan warga setempat menunjukkan pemandangan langit yang benar-benar merah darah, dengan debu menyelimuti mobil, rumah, dan jalanan.

Beberapa area juga mengalami gangguan listrik dan kerusakan ringan akibat angin kencang yang menyertai siklon.

Fenomena serupa pernah terjadi di Australia ketika badai debu besar atau kebakaran hutan terjadi, tetapi kali ini disebabkan langsung oleh siklon tropis yang jarang melanda wilayah tersebut dengan intensitas tinggi.

Para ahli cuaca menyatakan bahwa kombinasi angin kencang dan tanah merah yang kering di wilayah tersebut menjadi faktor utama penciptaan pemandangan langit merah yang dramatis ini.

Perdana Menteri Queensland, David Crisafulli, mengatakan, fenomena langit merah darah ini disebabkan angin kencang yang mengangkat tanah kaya oksida besi ke atmosfer, sebuah proses yang telah didokumentasikan di wilayah kering Australia.

Siklon Narelle sebelumnya merupakan Topan Tropis kategori tiga, membawa hembusan angin merusak melebihi 105 mph dan curah hujan lebat.

“Dalam banyak kasus, ini akan menjadi angin terkuat yang pernah dialami warga di bagian negara bagian ini dalam waktu yang sangat lama,” melansir The Sun, Senin (30/3/2026).

David Crisafulli, mengatakan, dalam fenomena ini, ada kerusakan pada bangunan, SPBU, dan Bandara Learmonth, meskipun tidak ada laporan korban luka.

“Angin kencang juga mengancam wilayah pertanian, termasuk perkebunan pisang di dekat Carnarvon,” katanya.  

Petani Doriana Mangili mengatakan jika angin bertiup sesuai perkiraan yang saat ini diperkirakan mencapai 180-190 km/jam, maka kemungkinan besar tidak akan ada pisang yang tersisa.

“Pohon-pohon itu tidak memiliki sistem akar yang besar, jadi kecepatan apa pun di atas 100 km/jam akan menjatuhkan pohon pisang dan Anda harus memulai dari awal lagi,” dilansir News.com.au.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *