Meneruskan Perjuangan Sultan HB IX di Era Modern - Mabur.co

Meneruskan Perjuangan Sultan HB IX di Era Modern

Mabur.co – Tepat 18 Maret 1940 lalu, Gusti Raden Mas (GRM) Dorojatun dinobatkan sebagai Putra Mahkota Kasultanan Yogyakarta, dengan gelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibya Raja Putra Narendra Mataram, yang kemudian dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Meskipun telah wafat pada 2 Oktober 1988 silam, atau hampir 38 tahun silam, namun perjuangan Sri Sultan HB IX masih sangat layak untuk diteruskan oleh para generasi muda sampai hari ini.

Apalagi dengan tahtanya sebagai Sultan, membuat jejak warisannya begitu abadi, khususnya bagi masyarakat DIY.

Dilansir dari laman Tempo, berikut adalah beberapa aspek penting yang bisa diteruskan dari sosok GRM Dorojatun atau Sri Sultan HB IX kepada generasi muda, dalam kehidupan modern saat ini.

Berikut adalah bentuk penelusuran jejak perjuangan Sultan HB IX di era modern:

1. Menjaga Kedaulatan dan Persatuan (Nasionalisme)

Sri Sultan HB IX menegaskan Yogyakarta sebagai bagian dari RI, tak lama setelah proklamasi.

Di era modern, hal ini bisa menjadi warisan yang sangat penting untuk memperkuat persatuan, menolak polarisasi, dan menjaga NKRI dari segala ancaman, termasuk ancaman dalam negeri.

Selain itu, bentuk kedaulatan yang sejati tidak hanya bertarung melawan penjajah fisik, tetapi juga membangun ketahanan pangan, ekonomi, dan budaya. 

2. Kepemimpinan yang Melayani (Sederhana dan Merakyat)

Sri Sultan HB IX dikenal sering turun langsung ke pasar (blusukan), menanyakan harga beras, dan berbaur dengan rakyat kecil. Hal ini tentunya bisa ditiru oleh calon pemimpin masa depan, agar mereka bisa mengetahui secara langsung permasalahan yang dialami rakyatnya.

Tidak hanya itu, HB IX juga menggunakan kekuasaannya untuk membantu rakyat kecil, bukan untuk memperkaya diri sendiri ataupun kelompoknya (prinsip “tahta untuk rakyat”).

Hal ini justru sangat bertolak belakang dengan pemerintahan presiden Prabowo saat ini, yang terlihat jelas hanya menguntungkan pejabat-pejabat yang berafiliasi dengan pemerintah, namun justru semakin menyengsarakan rakyat. 

3. Dedikasi Tinggi pada Pendidikan dan Pembentukan Karakter (Pramuka)

Sri Sultan HB IX juga dikenal sebagai “bapak pramuka”, yang menggagas peralihan kepanduan menjadi pramuka (Praja Muda Karana), dengan fokus pada pembangunan masyarakat.

Sebagaimana pramuka hari ini, tentunya warisan dari HB IX sangat baik untuk diteruskan oleh para generasi muda. Dengan menjadikan pramuka sebagai modal pendidikan karakter, kemandirian generasi muda, dan semangat menolong sesama (prinsip relawan).

4. Menjunjung Tinggi Integritas

Berbeda jauh dengan kepemimpinan presiden Soeharto yang sarat dengan unsur KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme), Sri Sultan HB IX dikenal jujur dan disiplin dalam pengawasan aparatur negara. Selama memimpin DIY, ia tidak pernah terlibat sedikitpun dalam praktik-praktik korupsi, dan semacamnya.

Dengan situasi pemerintahan yang semakin tidak bisa diharapkan saat ini, baik di tingkat nasional maupun daerah, tentunya sangat penting bagi para generasi muda untuk terus menanamkan jiwa integritas di dalam dirinya masing-masing. Dan tidak mudah tergiur dengan iming-iming proyek atau apapun, yang berpotensi menjadi ladang korupsi, sekaligus menyengsarakan rakyat, terutama rakyat kecil.

***

Dengan meneladani karakter seorang Sultan HB IX, tentunya kepercayaan publik terhadap pemerintah bisa kembali ke jalur yang benar.

Publik pun tidak perlu cemas dengan segala potensi kecurangan (atau korupsi) yang terjadi, lantaran pemerintah bisa mengemban amanah dengan sebenar-benarnya, dan bertindak sebagai “pelayan rakyat” (bukan raja). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *