Mabur.co- Pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Hajad Dalem Labuhan tidak diselenggarakan untuk memperingati Hari Penobatan (Jumenengan Dalem) melainkan untuk peringatan hari ulang tahun sultan (Wiyosan Dalem) berdasarkan kalender Jawa.
Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10, Hajad Dalem Labuhan dikembalikan untuk peringatan Jumenengan Dalem.
Setiap tahun, Upacara Labuhan digelar satu hari setelah puncak acara Jumenengan Dalem (29 Rejeb) sehingga jatuh pada 30 Rejeb. Upacara Labuhan diselenggarakan di beberapa lokasi yang disebut dengan petilasan.
Petilasan merupakan tempat yang dinilai penting dan memiliki nilai historis terkait keberadaan Keraton Yogyakarta. Dipilihnya petilasan sebagai lokasi upacara Labuhan adalah sebagai wujud menghargai, menghormati, merenungi, serta menapak tilas perjuangan raja-raja pendahulu Keraton Yogyakarta.
Dilansir dari laman Keraton Yogyakarta, ada jenis-jenis upacara Labuhan. Berikut ini bisa disimak.
1. Labuhan Parangkusumo
Parangkusumo terletak di pesisir selatan Yogyakarta atau lebih tepatnya berada di wilayah Kabupaten Bantul. Parangkusumo merupakan tempat yang dipilih Panembahan Senopati untuk bertapa, merenung dan memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar bisa menjadi pemimpin yang baik.
Menurut legenda, ketika bertapa Panembahan Senopati bertemu dengan penguasa laut selatan yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Dalam pertemuan tersebut Kanjeng Ratu Kidul berjanji akan membantu Panembahan Senopati dan keturunannya.
Pada akhirnya Panembahan Senopati berhasil mendirikan sebuah kerajaan, yaitu Mataram dan Keraton Yogyakarta yang merupakan salah satu kerajaan penerusnya. Hal inilah yang mendasari dipilihnya Parangkusumo sebagai salah satu lokasi Labuhan.
2. Labuhan Merapi
Gunung Merapi terletak di wilayah Kabupaten Sleman yang berada tepat di ujung utara wilayah DIY. Gunung Merapi menjadi salah satu lokasi Labuhan karena dianggap berperan dalam sejarah berdirinya Kerajaan Mataram.
Pada 1586, kondisi politis Kerajaan Pajang dan Mataram memanas. Hal ini disebabkan karena perkembangan Mataram sebagai wilayah otonom di bawah Kerajaan Pajang sangat pesat sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi penguasa Kerajaan Pajang yang kala itu dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya.
Keresahan itu membuat Kerajaan Pajang menggulirkan rencana perang untuk melemahkan Mataram. Ketika pasukan Pajang menyerbu Mataram, pada saat bersamaan Gunung Merapi meletus.
Letusan Merapi menghancurkan perkemahan pasukan Pajang di wilayah Prambanan. Perang pun berakhir dan selamatlah Mataram dengan mundurnya pasukan Pajang.
Macam-macam ubo rampe yang diperlukan pada upacara Labuhan Gunung Merapi di antaranya Sinjang Limar, Sinjang Cangkring, Semekan Gadhung, Semekan Gadhung Mlathi, Paningset Udaraga, Kambil Wathangan, Ses Wangen, Sela, Ratus, Lisah Konyoh, Yatra Tindhih, dan Dhestar Daramuluk.
3. Labuhan Lawu
Gunung Lawu dipercaya sebagai tempat pengasingan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Pada 1478, Majapahit diserang oleh Girindrawardhana dari Kerajaan Kaling. Karena tentara Majapahit tidak mampu menghalau serangan tersebut, Prabu Brawijaya V memutuskan untuk menyingkir ke Gunung Lawu dan hidup menjadi seorang pertapa dan bergelar Sunan Lawu.
Prabu Brawijaya V merupakan leluhur dari pendiri Kerajaan Mataram dan Keraton Yogyakarta sehingga sebagai bentuk penghormatan, Gunung Lawu dipilih menjadi lokasi upacara Labuhan. Gunung Lawu terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setiap dilaksanakan Upacara Labuhan, ubo rampe Labuhan diserah terimakan kepada Juru Kunci Gunung Lawu yang berada di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Macam-macam ubo rampe dalam upacara Labuhan Gunung Lawu, di antaranya, Kasepuh, Sinjang Limar, Semekan Gadhung Mlathi, Kampuh Poleng Ciut, Dhastar Banguntulak, Paningset Jingga, Pendherek, Sinjang Cangkring, Semekan Gadhung, Semekan Dringin, Semekan Songer, Semekan Teluh Watu, Semekan Jambin, Sonsong Pethak Seret Praos, Sela, Ratus, Lisah Konyoh, dan Yatra Tindhih.
4. Labuhan Dlepih Kahyangan
Perbukitan Dlepih Kahyangan terletak di Kecamatan Tirtamaya, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Selain Parangkusumo, Dlepih Kahyangan merupakan tempat yang digunakan Panembahan Senopati untuk bertapa sebelum membangun kerajaan dan pemerintahan yang kuat.
Selain Panembahan Senopati, tempat ini juga digunakan untuk bertapa raja-raja Mataram dan raja Kesultanan Yogyakarta, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusumo dan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I).
Berbeda dengan upacara Labuhan lainnya, upacara Labuhan Dlepih Kahyangan hanya dilaksanakan delapan tahun sekali pada tahun Dal atau setiap sewindu penobatan sultan.
Upacara ini digolongkan dalam Labuhan Ageng, sedangkan upacara Labuhan yang lain digolongkan dalam Labuhan Alit yang digelar setiap tahun.
Ubo rampe upacara Labuhan Dlepih Kahyangan antara lain: Sinjang Limar, Sinjang Lurik Kepyur, Sinjang Perkutut Pethak Seret Abrit, Semekan Solok, Semekan Dringin, Semekan Songe, Sela, Ratus, Lisah Konyoh, dan Yatra Tindhih. ***



