Saatnya Lagu Religi Berkumandang di Bulan Ramadan - Mabur.co

Saatnya Lagu Religi Berkumandang di Bulan Ramadan

Mabur.co – Di bulan Ramadan, seluruh umat muslim berusaha menjadikan momen ini spesial dan berkesan.

Tidak hanya melalui ibadah seperti tarawih, tadarus, dan seterusnya, tapi juga melalui berbagai konten yang dapat dinikmati oleh khayalak luas.

Salah satunya adalah kehadiran lagu-lagu religi, yang kerap berkumandang melalui speaker-speaker masjid, kantor, maupun di lingkungan masyarakat dalam menjalankan aktivitas, khususnya di kawasan perkotaan.

Lagu-lagu itu seolah menjadi penanda, bahwa bulan Ramadan telah tiba, dan hendaknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, untuk meningkatkan ibadah kepada-Nya.

Ada pun beberapa lagu religi yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, antara lain Ramadhan Tiba (dipopulerkan oleh Opick), Marhaban Ya Ramadhan (Haddad Alwi), Tombo Ati (Opick), Puasa (Bimbo).

Selain itu adalah Ramadhan Datang (Tompi), Ramadhan Penuh Cinta (Budi Doremi), Ramadhan (Maher Zain), Ya Romadhon (Anisa Rahman), Selamat Datang Ramadhan (Qhutbus Sakha), dan masih banyak lagi.

Tidak Banyak Beredar di Pasaran

Sayangnya memang, keberadaan lagu-lagu religi cenderung hanya musiman saja, alias hanya diputar dalam beberapa momen tertentu, khususnya di bulan Ramadan seperti saat ini.

Selain itu, lirik-lirik merdu nan syahdu dari lantunan lagu-lagu religi tersebut, tidak serta merta membuat masyarakat benar-benar meresapi atau menghayati setiap pesan yang terkandung di dalamnya.

Atau bisa dibilang hanyalah “angin lalu” saja (masuk kuping kiri, keluar kuping kanan).

Di tahun 2026 ini saja, tidak banyak ustaz, ustazah, artis maupun public figure lainnya, yang memanfaatkan momen Ramadan ini dengan memproduksi single baru khusus Ramadan.

Karena memang, dari tahun ke tahun, nuansa Ramadan kurang lebih selalu mirip-mirip saja, sehingga dirasa tidak perlu untuk membuat single khusus Ramadan setiap tahun.

Apalagi, masyarakat juga sudah terbiasa dengan lagu-lagu religi yang dinyanyikan oleh figur semacam Opick, Maher Zain, Nissa Sabyan, dan seterusnya.

Padahal di awal tahun 2000-an silam, setiap musisi atau band seperti berlomba-lomba memproduksi lagu religinya masing-masing, bahkan ikut membuat album khusus religi, dan seterusnya.

Mereka rela melakukan itu semua, karena pada saat itu, musik religi di Indonesia sedang berkembang pesat, sekaligus diminati oleh banyak kalangan.

Pada akhirnya, keberadaan lagu religi tidak lebih dari sekadar produk karya seni semata, tidak banyak orang yang benar-benar mampu mengamalkan pesan-pesan islami yang terkandung di dalamnya (mungkin termasuk penyanyinya sendiri).

Sehingga lambat laun industri lagu religi juga mulai ditinggalkan, akibat minimnya inovasi dan kreativitas dari para pelakunya.

Selain itu, selera musik masyarakat di zaman sekarang juga telah bergeser menuju ke arah yang lebih modern.

Tidak lagi menjadikan “dakwah melalui musik” sebagai alternatif hiburan, termasuk di bulan Ramadan sekalipun. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *