Mabur.co – Kehadiran Sekolah Rakyat (SR) pada awal tahun ajaran 2025-2026 menjadi terobosan baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sekolah ini menerapkan sistem Boarding School atau asrama (dari tingkat SD hingga SMA) yang diperuntukkan bagi anak-anak kurang mampu hingga kurang mampu tingkat ekstrem. Saat ini tercatat sudah ada sebanyak 166 SR yang beroperasi di seluruh Indonesia.
Kurikulum yang diterapkan SR pun cukup berbeda bila dibandingkan dengan sekolah konvensional pada umumnya. Dikutip dari infopublik.id, Sekolah Rakyat menggunakan sistem kurikulum yang memadukan pendidikan formal, pembinaan karakter, dan pelatihan keterampilan sesuai minat dan bakat siswa. Hal ini dilakukan guna memfasilitasi kebutuhan masing-masing siswa, sekaligus menyesuaikan dengan dinamika perkembangan zaman.
Siswa-siswi lulusan SR juga diproyeksikan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi formal atau bisa langsung bekerja sesuai bidang yang dikehendaki. Semuanya sudah disediakan jalurnya oleh negara.
Tidak Semudah yang Direncanakan
Sekilas SR tampak mampu menjawab kebutuhan mendasar generasi masa depan bangsa, yakni pendidikan. Namun apakah keberadaan SR bisa benar-benar menjawab tantangan besar pendidikan dan SDM secara umum? Terutama yang berkaitan dengan kualitas lulusan yang dihasilkan oleh SR. Apakah sanggup menjawab tantangan industri yang semakin cepat dan dinamis. Bagaimana karakter lulusan yang dibentuk oleh lulusan SR dan sebagainya.
Pertanyaan tersebut belum bisa terjawab secara pasti, selama belum ada contoh konkret dari hasil penerapan SR, dan itu baru bisa diketahui dalam beberapa tahun mendatang.
Belum lagi soal ketersediaan lapangan pekerjaan yang kian waktu kian menipis (khususnya pekerjaan formal). Apakah program SR yang diluncurkan Presiden Prabowo bisa benar-benar menjawab kebutuhan tersebut? Karena yang terjadi saat ini, semakin banyak PHK terjadi di mana-mana, yang lantas memunculkan penduduk miskin baru, akhirnya ketika penduduk miskin ini memiliki anak, kemudian terpaksa mengikuti program SR (jika masih bertahan). Begitu seterusnya sampai menjadi rantai setan yang tak berkesudahan.
Oleh karena itu, mendirikan SR bukan satu-satunya solusi yang dapat memecahkan semua masalah pendidikan. Karena pendidikan bukan hanya tentang mendirikan sekolah dan pemerataan, tapi yang lebih penting dari itu, yakni bagaimana produk dari pendidikan ini benar-benar mampu menjawab tantangan dinamika zaman, sekaligus bersaing secara global, dengan tentu saja memiliki karakter yang kuat dan tidak destruktif. (*)



