Sepakbola Sarung, Ketika Olahraga Bertemu dengan Identitas Budaya

4 Min Read
Group of barefoot young boys playing soccer on a grassy field, wearing colorful wraparound skirts and chasing a yellow-and-pink ball.
Ilustrasi permainan sepakbola sarung saat menyambut perayaan 17-an (Foto: ANTARA FOTO)

Mabur.co – Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melestarikan salah satu identitas Nusantara seperti sarung.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menggabungkannya dengan salah satu olahraga terfavorit di Indonesia, yakni sepakbola.

Dengan kata lain, orang-orang berusaha melakukan permainan sepakbola konvensional (mirip seperti futsal), namun para pemain harus bermain dengan memakai sarung.

Sarung yang dipakai juga tidak boleh lepas (apalagi sengaja dilepas), agar tantangan saat bermain bola tetap terjaga, sekaligus tetap menjunjung semangat fair play dan sportivitas.

Permainan yang satu ini biasanya muncul saat perayaan 17-an di bulan Agustus, untuk menyemarakkan peringatan kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya.

Satu hal yang unik dari permainan sepakbola sarung adalah, bagaimana olahraga yang bersifat kompetitif dan berupaya saling mengalahkan, justru bisa diakulturasi dengan budaya Nusantara seperti sarung, yang sangat identik dengan pakaian khas umat muslim laki-laki.

Momen-momen semacam ini bisa menjadi sarana yang sangat baik, untuk lebih mendekatkan masyarakat sekitar, melalui permainan yang menarik namun tetap menjunjung tinggi identitas Nusantara.

Tidak Ada Aturan Baku

Two older men playfully contest a soccer ball on a grassy field, barefoot, with one in an orange vest.
Ilustrasi permainan sepakbola sarung yang bisa dimainkan semua kelompok usia (Foto: ANTARA FOTO)

Sebenarnya tidak ada batasan atau aturan yang baku terkait permainan sepakbola sarung, kecuali semua pemain harus mengenakan sarung saat bertanding.

Selain itu, pertandingan ini juga bisa diikuti oleh semua kalangan, termasuk perempuan sekalipun. Satu tim juga bisa diisi oleh orang tua, lansia, anak kecil, perempuan, atau siapapun juga, selama mereka berkenan dan siap menghadapi tantangan bermain bola dengan sarung.

Namun dalam perjalanannya, tidak semua pemain dapat memakai dan mempertahankan posisi sarungnya dengan benar, karena memang sulit menggerakkan kaki ketika memakai sarung, apalagi jika dipakai untuk berlari, membawa bola, menendang bola, dan sebagainya.

Mungkin satu pemain yang paling beruntung dalam permainan ini adalah penjaga gawang. Selain tidak banyak bergerak (hanya bergerak di sekitar gawang), sang kiper juga bisa dengan mudah menggunakan sarungnya untuk menghalau bola, sehingga sarung bisa menjadi “senjata tambahan” untuk melindungi gawang dari ancaman kebobolan, termasuk kemungkinan “dikolongin” (menendang bola di sela-sela kaki).

Meskipun sarung yang digunakan tidak pernah benar-benar paten terpasang sepanjang laga, namun biasanya tidak ada masyarakat yang terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Karena lagi-lagi, tujuan dari permainan sepakbola sarung bukanlah soal menang dan kalah (hasil), melainkan soal semangat kebersamaan, gotong royong, dan hiburan rakyat untuk menyambut hari-hari tertentu.

Sarana Promosi

Di beberapa daerah, permainan sepakbola sarung juga kerap digunakan sebagai sarana promosi produk sarung tertentu. Salah satunya terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah.

Dilansir dari laman Pemerintah Kota Pekalongan, warga setempat kerap menghadirkan kompetisi Batik Sarung Soccer, yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat, untuk memeriahkan pekan batik Nusantara.

Dalam turnamen tersebut, setiap peserta diwajibkan bermain bola dengan menggunakan batik khas Pekalongan. Hal ini dilakukan sebagai sarana untuk memperkenalkan batik khas Pekalongan kepada masyarakat luas.

***

Kehadiran sepakbola sarung adalah bukti bahwa kerukunan masyarakat Indonesia masih terus terjaga sampai saat ini, meskipun terus digempur dengan teknologi canggih yang tersedia di ponsel.

Masyarakat pun masih menyadari betul bahwa interaksi sosial sehari-hari masih sangat dibutuhkan. Dan permainan olahraga yang dipadukan dengan identitas Nusantara (seperti sepakbola sarung) adalah salah satu cara terbaik untuk mewujudkannya, tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu mahal, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment