Mabur.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah di sejumlah daerah ditemukan banyak makanan yang tidak dihabiskan oleh penerima manfaat.
Sisa makanan itu bahkan berakhir menjadi pakan ternak karena tidak memungkinkan lagi untuk disimpan atau didistribusikan ulang.
Di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Wakil Bupati Batang sekaligus Ketua Satgas MBG Kabupaten Batang, Suyono, mengungkapkan masih banyak makanan program MBG yang justru dibawa pulang untuk diberikan kepada ayam peliharaan.
Dalam Rapat Koordinasi Tata Kelola Pelaksanaan MBG di Kompleks Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Jumat (12/6/2026), sebagaimana dikutip Indoraya News, Suyono mengaku mendapat cerita dari keluarganya mengenai kebiasaan tersebut.
Pakan Ternak
Menurutnya, lauk seperti ayam dan telur yang seharusnya menjadi sumber protein bagi anak-anak justru dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena tidak dimakan penerima manfaat.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa menu yang disajikan memang telah memenuhi standar gizi, tetapi belum sepenuhnya sesuai dengan selera kalangan penerima.
“Yang dimakan itu mungkin memenuhi gizi, tetapi tidak disesuaikan dengan selera penerima,” ujarnya.

Temuan serupa juga terjadi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Dikutip dari IDN Times, Rabu (5/8/2026), ratusan porsi makanan MBG di SDN Caringin 1 tidak terserap menjelang akhir semester karena tingkat kehadiran siswa menurun drastis.
Guru Kelas V SDN Caringin 1, Armadi, mengatakan hanya sekitar separuh siswa yang hadir sehingga banyak paket makanan tidak diambil.
Karena makanan yang telah diproduksi tidak dapat disimpan terlalu lama, sekolah akhirnya menyerahkan sisa makanan tersebut kepada warga yang memiliki ternak ayam dan bebek agar tidak terbuang percuma.
Siswa Bosan Menu Tidak Variatif
Selain persoalan absensi siswa, Armadi juga mengungkapkan banyak siswa mulai merasa bosan karena menu MBG yang disajikan dinilai kurang bervariasi dan cenderung berulang dari hari ke hari.
“Iya mubazir. Daripada terbuang, kami kasih ke warga yang punya ternak. Ompreng juga harus kembali dalam keadaan bersih,” katanya.
Salah seorang orang tua siswa penerima manfaat program MBG di Kulon Progo, Risti Dwi, juga mengakui kurang minatnya siswa terhadap menu program MBG yang diberikan pihak SPPG.
Hampir setiap hari, menu MBG yang dibawa pulang ke rumah tidak dikonsumsi hingga berakhir basi dan menjadi pakan ternak.
“Hampir setiap hari dibuang. Karena anak tidak suka. Orang rumah mau makan juga kurang selera karena rasa tidak enak,” ujarnya.
Persoalan tingginya sisa makanan MBG juga mendapat perhatian kalangan ekonom.
Dikutip Kalsel Pos, ekonom Bhima Yudhistira Adhinegara, menyampaikan kritik tersebut saat menjadi ahli dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah di Mahkamah Konstitusi pada 28 Juli 2026.
Bhima memperkirakan nilai makanan yang terbuang dari program MBG bahkan diperkirakan mencapai sekitar Rp1,2 triliun apabila pemborosan terus terjadi.
Menurutnya, besarnya sisa makanan menjadi sinyal perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program, mulai dari perencanaan jumlah penerima, distribusi, hingga penyusunan menu yang lebih sesuai dengan kebiasaan makan di masing-masing daerah.
Ia mengingatkan bahwa apabila kondisi tersebut terus berlanjut, program yang bertujuan meningkatkan gizi anak justru berpotensi berubah menjadi pemborosan anggaran.
