Mabur.co- Gelombang penolakan terhadap perang dengan Iran dilaporkan muncul di internal militer Amerika Serikat.
Sejumlah pengamat konflik menilai banyak prajurit Amerika Serikat sebenarnya tidak siap menghadapi perang melawan Iran.
Bahkan, menurut laporan dari kalangan aktivis anti-perang, sebagian tentara AS disebut mencari cara untuk menghindari keterlibatan langsung di medan tempur.
Direktur eksekutif organisasi tersebut, Mike Prysner, mengatakan, pihaknya menerima lonjakan panggilan dari personel militer.
“Telepon terus berdering. Jauh lebih banyak unit yang baru saja diaktifkan untuk dikerahkan daripada yang diketahui publik,” tulisnya di platform X.
Laporan ini keluar setelah adanya keinginan AS untuk mengirim pasukan khusus ke Iran. Muncul spekulasi tentang akan adanya mobilisasi yang lebih luas.
Meski begitu, dilaporkan pula pembatalan latihan besar AS untuk beberapa tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 AS, yang mengkhususkan diri dalam pertempuran darat.
Belum ada konfirmasi lebih lanjut apakah ini terkait dengan laporan penolakan militer bertempur di Iran.
“Kemarin saya menerima telepon dari seorang anggota militer yang akan dikerahkan, yang tidak hanya mengajukan diri sebagai penolak wajib militer karena alasan keyakinan, tetapi juga melaporkan adanya penentangan luas terhadap Perang Iran di dalam unit mereka dan akan membagikan nomor kami kepada semua orang,” kata organisasi tersebut, dilansir akun X, Minggu (15/3/2026).
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, tidak menutup kemungkinan diberlakukannya kembali wajib militer di Amerika Serikat.
“Terakhir kali AS menerapkan wajib militer adalah pada Desember 1972, di masa-masa akhir Perang Vietnam,” dikutip Fox News.
Center on Conscience & War merupakan organisasi nirlaba yang mendukung para penolak wajib militer, yaitu orang-orang yang menolak bertugas di militer atau menggunakan senjata karena alasan moral atau keyakinan agama.
Di Amerika Serikat, tradisi penolakan terhadap keterlibatan dalam perang di luar negeri sudah lama ada, terutama di kalangan komunitas berakar Kristen seperti Quaker dan Amish.
Organisasi tersebut mengatakan mereka menerima banjir panggilan telepon dari anggota militer yang khawatir pemerintah Presiden Donald Trump sedang mempersiapkan pengiriman pasukan ke Iran.
Mereka juga menilai penolakan terhadap perang ini jauh lebih luas daripada yang selama ini dilaporkan.



