Terlangka di Dunia, Babi Kutil Bawean, Hewan Endemik Dianggap Hama Pertanian - Mabur.co

Terlangka di Dunia, Babi Kutil Bawean, Hewan Endemik Dianggap Hama Pertanian

Mabur.co- Di Pulau Bawean, hutan, ladang, dan pemukiman berdiri berdekatan, seolah menyatu tanpa batas.

Pada ruang perjumpaan itulah babi kutil sering terlihat, menghadirkan relasi yang tidak selalu mudah.

Di sebagian pandangan, satwa ini dianggap sebagai pengganggu.

Namun bagi ekosistem pulau, kehadirannya sesungguhnya menyimpan peran yang jauh lebih penting.

Babi kutil Bawean (Sus blouchi) adalah satwa endemik yang hanya hidup alami di pulau kecil ini.

Populasinya terbatas, ruang jelajahnya tertekan, dan interaksi dengan manusia makin sering terjadi.

Ciri khusus hewan itu ialah terdapat surai yang memanjang dari kepala hingga ekor sepanjang tulang belakang.

Selain itu, sebagaimana namanya, babi kutil memiliki tiga pasang tonjolan daging yang mengeras seperti kutil di sekitar moncongnya.

‘Kutil’ yang besarnya seukuran buah anggur itu hanya terdapat pada babi jantan.

Bisa jadi kutil itu dapat menarik perhatian para betina.

Tonjolan itu mungkin juga punya peran dalam pertarungan atau pertahanan diri. Babi hutan saling bertarung dengan menubrukkan taring yang ada di bawah moncong.

Kutil itu mungkin bisa melindungi bagian wajah, khususnya mata. Babi kutil hidup di pedalaman hutan tropis.

Saat ini hutan tidak banyak tersisa di kawasan bekas gunung berapi yang punah di Laut Jawa itu.

Umbi-umbian dan akar tanaman merupakan makanan favorit babi kutil.

Belakangan ini, babi menghancurkan sawah para petani untuk mencari makanan. Sebagai akibatnya, petani memburu dan membunuh babi untuk menjaga sumber nafkah mereka.

Akibat banyaknya perburuan saat ini, babi kutil bawean diklaim sebagai babi paling langka di dunia.

Kepala Resor Konservasi Wilayah BKSDA Bawean, Nur Syamsi, mengatakan, populasi babi kutil di Pulau Bawean terancam punah karena sering diburu petani dengan ditangkap memakai jaring.

Setelah tertangkap, babi itu langsung dibunuh.

Petani menganggap babi kutil sebagai pengganggu dan perusak tanaman di lahan mereka sehingga hewan langka itu diburu dan dibunuh.

“Hutan masyarakat tampak sangat penting untuk babi agar dapat bertahan hidup,” ujarnya dilansir BKSDA Bawean, Sabtu (7/3/2026).

Nur Syamsi mengatakan, babi kutil lebih menyukai habitat lahan semi terbuka yang dibudidayakan karena lebih mudah mencari makan berupa akar dan umbi-umbian milik masyarakat.

“Saya menilai populasi babi kemungkinan tidak akan pernah jauh lebih tinggi daripada hari ini karena ukuran pulau habitat babi kutil yang begitu kecil,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *