Mabur.co – Dalam setiap momen Lebaran seperti saat ini, biasanya orang-orang akan merayakannya dengan mudik ke kampung halaman.
Ketika mudik itulah, mereka akan bertemu dengan keluarga besar, sanak saudara, serta teman-teman lama di kampung, yang biasanya sudah jarang ditemui, akibat berbagai kesibukan masing-masing di kota perantauan.
Ketika sudah lama tidak bertemu keluarga, tentunya akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru, yang selama ini belum terpecahkan, atau belum menemukan jawabannya.
Biasanya pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah seputar pencapaian pribadi, entah itu “Sudah nikah belum/kapan nikah?”, “Mana anaknya/Kok belum punya anak?”, “Kerjanya sekarang apa/di mana?”, “Sekarang kesibukannya apa?”, “Kapan mau punya anak lagi?” dan berbagai macam pertanyaan sejenis lainnya.
Dengan dinamika kehidupan yang semakin sulit seperti sekarang, tentunya pertanyaan-pertanyaan di atas tidak bisa dijawab dengan mudah, apalagi jika harus menyenangkan si penanya, yang biasanya adalah orang tua, mertua, kakek/nenek, paman/bibi, atau mereka yang dituakan.
Anda tentu saja tidak bisa sembarangan merespons berbagai pertanyaan tersebut.
Karena jika tidak, reputasi Anda bisa hancur seketika. Jawaban Anda akan terus terngiang-ngiang dalam pikiran seluruh anggota keluarga di rumah.
Akibatnya momen silaturrahmi pun bisa jadi tidak nyaman, saling sungkan, dan bahkan bisa membuat Anda berusaha “kabur” dari kampung halaman Anda sendiri, atau lebih memilih untuk kembali ke kota perantauan, dan seterusnya.
Sayangnya memang, pertanyaan-pertanyaan semacam itu semakin tidak bisa dihindari. Karena orang tua/mertua/kakek/nenek/paman/bibi Anda pastinya berasal dari generasi yang berbeda, dan kemungkinan berjarak 30 tahun lebih dari usia Anda.
Di zaman mereka muda, mungkin pertanyaan semacam itu tidak perlu terjadi.
Karena fenomena mudik sendiri belumlah seramai sekarang. Media sosial dan teknologi informasi pun juga belum semasif saat ini.
Jenis pekerjaan pun masih tergolong sedikit. Serta yang tak kalah penting, mendapatkan pasangan juga tidak terlalu sulit.
Cukup menikah dengan teman kantor, teman sekampung, atau teman semasa kampus, pertanyaan soal “kapan nikah” pun sudah otomatis terjawab dengan sendirinya, dengan proses yang juga tidak terlalu rumit.
Namun di era saat ini, dengan segala kompleksitasnya, sangat tidak mudah untuk bisa menyediakan “jawaban terbaik” bagi para senior.
Karena memang zaman sudah berbeda, dunia pun sudah berubah dengan begitu cepatnya.
Sayangnya, hal itu tidak dipahami begitu saja oleh mereka, dengan tetap memaksakan pertanyaan yang sama setiap tahunnya saat mudik Lebaran tiba.
Dilansir dari laman MetroTVNews, Minggu (22/3/2026), berikut adalah beberapa tips jitu dan sederhana yang bisa Anda praktikkan, apabila menghadapi pertanyaan klasik atau random di setiap periode mudik Lebaran.
1. Siapkan Jawaban “Mode Santai” (Teknik Defleksi)
Setiap pertanyaan tidak perlu diambil hati alias baper. Sebaliknya, jawablah pertanyaan-pertanyaan random tersebut dengan santai. Anda bisa membalas pertanyaan-pertanyaan “klasik” dari orang tua atau mertua Anda secara ringan, disisipi bercanda, atau bahkan diplomatis, untuk dapat membelokkan topik secara perlahan.
Misalnya
- “Kapan nikah?”: “Doain aja ya, biar ketemu jodohnya pas lagi rest area,” atau “Santai, masih menikmati masa muda.”
- “Kapan punya anak?”: “Rencananya kalau sudah siap semuanya, doain ya.”
- “Kerja di mana sekarang? Gajinya berapa?”: “Alhamdulillah cukup buat beli tiket mudik dan bagi-bagi THR,”.
2. Kembalikan dengan Pertanyaan Balik (Teknik Reverse Question)
Anda juga bisa mengembalikan pertanyaan, atau balik bertanya kepada orang tua Anda. Cara ini tergolong efektif agar si penanya bisa berhenti bertanya, dan sebaliknya mulai bercerita tentang dirinya sendiri.
Misalnya
- “Kamu kok belum nikah-nikah sampai sekarang?”: “Pertanyaan yang menarik! Tapi kalau tante sendiri gimana tipsnya dulu kalau mau nikah?”
3. Gunakan Jawaban “Terserah” atau Jawaban Aman
Berikan saja jawaban umum (atau diplomatis) yang tidak perlu penjelasan secara panjang lebar, sehingga percakapan bisa segera usai.
Misalnya
- “Kapan nikah?”: “Ya, jalani saja dulu yang ada (status single),” atau “Nanti kalau sudah ada kabarnya, pasti dikasih tahu.”
4. Berikan Jawaban Singkat & Senyum (Teknik Grey Rock)
Tunjukkan bahwa pertanyaan mereka tidak menarik perhatian atau emosi Anda. Cukup balas dengan senyum, jawab secara singkat, lalu alihkan pandangan atau berpura-pura sibuk (dengan bermain ponsel atau ke kamar mandi).
Misalnya
- “Kapan nikah?”: “Belum, Bu/Pak.” (diikuti senyuman dan beralih mengambil kue).
5. Alihkan Topik Pembicaraan
Segera alihkan ke topik yang lebih umum atau menyenangkan, seperti makanan, perjalanan mudik, atau hobi.
Misalnya
- “Eh, ini rendangnya enak banget, resepnya apa tante?”.
6. Hindari Overthinking dan Bersikaplah Tenang
Jangan sampai Anda terpancing emosi atau merasa terintimidasi. Ingat, pertanyaan tersebut seringkali hanya basa-basi dari kerabat yang jarang bertemu. Fokus pada tujuan mudik, yaitu bersilaturahmi dan melepaskan rindu (yang akhirnya hilang ketika ditanya-tanya tentang pertanyaan random diatas).
7. Teknik Pamit Sopan
Jika pertanyaannya semakin menjurus ke arah yang tidak nyaman, gunakan alasan sopan untuk pergi.
Misalnya
- “Mohon maaf, saya ke kamar mandi dulu ya,” atau “Mau menyapa saudara yang di sana dulu sebentar.
***
Pada dasarnya, mereka (orang tua/mertua/dan lain-lain) itu hanya ingin mengobrol dengan Anda, tanpa benar-benar peduli dengan jawaban yang Anda berikan. Apalagi ketika Anda adalah orang yang sudah tidak ditemui selama bertahun-tahun lamanya.
Oleh karena itu, tetaplah tenang, jangan sampai terbawa suasana (baper), apalagi sampai memicu permusuhan baru. Karena tentunya bukan itu tujuan dari Anda melakukan perjalanan mudik, bukan? (*)



