Ayatollah Ali Khamenei Wafat, Nama Besar dalam Tangis Sejarah - Mabur.co

Ayatollah Ali Khamenei Wafat, Nama Besar dalam Tangis Sejarah

Ada sebuah kesunyian yang ganjil ketika sebuah nama besar berhenti disebut dalam waktu kini dan berpindah ke dalam tangis sejarah.

Di Teheran, mungkin di lorong-lorong pasar yang pengap atau di bawah kubah-kubah pirus yang megah, berita itu merambat seperti kabut musim gugur.

Ayatollah Ali Khamenei telah wafat. Ia telah menjemput apa yang dalam tradisi kaum beriman disebut sebagai syahadah —sebuah perjuangan yang dibayar dengan seluruh sisa napas.

Di dunia yang makin riuh oleh transaksi dan pengkhianatan, sosok Khamenei berdiri seperti sebuah menara tua yang menolak untuk miring.

Ia adalah pewaris Imam Husein, pahlawan Karbala yang mengajarkan bahwa kalah dalam angka bukan berarti kalah dalam kebenaran.

Bagi Iran, dan mungkin bagi mereka yang mendamba kedaulatan, kematiannya bukan sekadar akhir dari sebuah biografi, ia adalah sebuah apotheosis.

Etika di Tengah Prahara

Kita ingat bagaimana ia memimpin. Bukan dengan gertakan seorang diktator yang haus darah, melainkan dengan tutur kata yang lembut, selembut bait-bait puisi Persia yang ia cintai, namun mengandung ketegasan baja.

Di bawah bayang-bayang tekanan global, ketika negara-negara lain memilih untuk sujud demi sekerat keamanan ekonomi, ia memilih berdiri.

“Katakan yang benar meskipun itu pahit,” begitu pesan Imam Ali bin Abi Thalib yang ia dekap erat hingga akhir.

Pada Oktober 2025, ketika dunia menyaksikan konfrontasi 12 hari yang menggetarkan antara Iran dan Amerika Serikat, kita melihat sesuatu yang melampaui strategi militer. Kita melihat heroisme profetik.

Di saat itu, Iran bukan hanya sedang mempertahankan wilayah, tapi sedang membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan akhlak bisa menjadi perisai melawan arogansi yang tak tersentuh.

Khamenei membuktikan bahwa raksasa bisa goyah jika dihadapi oleh jiwa yang sudah selesai dengan urusan dunia.

Namun, mungkin legasinya yang paling mengharukan —dan yang paling sering disalahpahami— adalah upayanya menjahit luka lama antara Sunni dan Syiah.

Simaklah misalnya pada forum-forum Taqrib al-Madzahib al-Islamiyyah, di sana ada sebuah getaran ketulusan yang sulit dipalsukan.

Ia bukan pemimpin yang ingin menyeragamkan, melainkan yang ingin mempertemukan. Fatwanya yang mengharamkan penghinaan terhadap Siti Aisyah dan para sahabat nabi adalah sebuah langkah radikal dalam kebijaksanaan.

Di tangan pemimpin yang lebih kecil, perbedaan mazhab seringkali dijadikan komoditas kebencian. Tapi di tangan Khamenei, perbedaan itu diubah menjadi ruang dialog, mirip dengan cara Rasulullah SAW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar.

Ia menindak tegas mereka yang menjual caci maki atas nama agama, karena ia tahu bahwa persatuan bukan sekadar retorika politik, melainkan perintah langit.

Kini, sosok yang menjadi penerus api revolusi Imam Khomeini itu telah berpulang. Ia pergi meninggalkan sebuah bangsa yang tidak lagi menunduk.

Ia pergi setelah menunjukkan bahwa martabat tidak bisa dibeli dengan sanksi ekonomi.

Kematian seorang martir, dalam kosmologi Islam, bukanlah sebuah kehilangan yang sia-sia. Ia adalah benih.

Darah dan air mata yang tumpah hari ini akan menyirami sanubari generasi muda di Mashhad, di Isfahan, hingga ke pelosok dunia Islam lainnya.

Kita kehilangan seorang arsitek perlawanan, seorang pecinta ilmu, dan seorang pembela akhlak. Tapi mungkin, di suatu tempat di keabadian, ia sedang tersenyum, menyambut cahaya yang selama ini ia rindukan di jalan Allah.

Mari kita tundukkan kepala sejenak. Untuk sebuah keteguhan yang tak goyah, untuk sebuah keberanian yang berkata “tidak” pada penindasan, mari kita kirimkan doa, tahlil, dan Al Fatihah.

Kesedihan ini bisa mendalam, tapi harapan yang ia nyalakan akan tetap membara. Wallahu’alam bishawab. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *