Kalau iklan baliho film Aku Harus Mati mendapat perhatian khusus Pemprov DKI Jakarta dan harus diturunkan karena keluhan publik, apa mau dikata, bisa saja itu terjadi.
Meskipun keluhannya apa dan jumlahnya berapa kurang jelas juga. Tapi wajar dan sah saja kalau ada kekecewaan publik dan dituruti.
Namun jika peristiwa itu menjadi diskusi publik maka pertanyaannya bisa saja begini: bukankah di ponsel masing-masing orang sudah banyak juga iklan dan konten sarkasme yang mendominasi kehidupan sehari-hari?
Lebih dari sekadar kata-kata seperti ‘aku harus mati’ dengan gambar poster yang provokatif, di ponsel kita juga banyak konten anarkis. Nah, kenapa jika kemudian berada di ruang publik menjadi pergunjingan?
Padahal kata atau konten sejenis bahkan level di atasnya lagi sudah biasa kita jumpai di ponsel?
Saya sendiri kurang tahu jawaban pastinya. Tetapi fenomena ini memang menarik sebagai letikan wacana tersendiri.
Kalau menengok ke belakang sekian puluh tahun silam ketika bioskop masih merajalela dan belum ada ponsel, maka poster-poster film yang dijumpai bisa saja juga sarkas dan jumlahnya tentu saja banyak.
Bahkan di era saya remaja dulu, poster-poster film yang seronok dan erotis cukup cuek bertengger di ruang publik. Tidak hanya hitungan hari, bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun.
Apakah itu mengganggu psikologi publik? Tentu saja bukan hanya mengganggu namun bisa saja menjadi teror tersendiri.
Bagi saya sendiri, ketika melihat kenyataan bahwa ruang publik kadang diisi dengan teror visual semacam itu, rasanya kok sudah biasa saja.
Barangkali saja imunitas atau kekebalan pikiran dan psikis saya terbentuk dengan sendirinya karena sudah terbiasa melihat di layar ponsel.
Dengan sendirinya pikiran sudah bisa menyensor atau lebih tepatnya menyesuaikan sendiri. Karena ada visualisasi pembanding yang jumlahnya kini amat banyak. Di layar ponsel terbentang luas.
Itulah sedikit respons saya melihat fenomena diturunkannya baliho film yang dianggap mengganggu psikologi publik. Boleh jadi perlu ada penelitian yang komprehensif mengenai hal ini namun dalam tataran logika sederhana akal sehat biasa pun sudah bisa dirasakan juga.
Publik, termasuk saya di antaranya, juga boleh mengeluarkan analisa sesederhana mungkin. Begitu, bukan? ***



