Banyak yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai - Mabur.co

Banyak yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai

Mabur.co – Jika setiap orang ditanya, apakah mereka ingin melakukan perang? Tentu saja jawabannya “tidak akan”.

Siapapun manusia di bumi ini pasti tidak memiliki niatan sedikit pun, untuk mengajak orang lain melakukan perang, atau berperang kepada sesama manusia, atau makhluk hidup lainnya.

Namun akibat berbagai situasi dan keadaan (termasuk juga nafsu pribadi), kehadiran perang lagi-lagi sangat mungkin terjadi.

Meskipun tetap saja, jika ditanya jawabannya tidak akan berubah.

Ketika ego, kemampuan, dan niat itu sudah berkumpul menjadi satu, maka rasanya kesempatan untuk terjadinya perang sudah tidak bisa terhindarkan.

Sepertinya itulah yang terjadi di Timur Tengah selama kurang lebih satu bulan terakhir, situasi sulit yang dialami Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam urusan dometiknya masing-masing, telah membawa korban kemanusiaan baru, yang tidak dapat terelakkan lagi.

Perang itu sendiri sejatinya dipicu oleh kekhawatiran program nuklir Iran, yang mencapai pengayaan uranium 60% (hampir level senjata), kegagalan diplomasi kedua belah pihak, hingga pengaruh kuat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terhadap AS untuk menargetkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Jika diperhatikan dengan seksama, motif penyerangan tersebut murni merupakan egosentris pribadi masing-masing negara, dan lebih disebabkan karena luka lama di masa lalu antara kedua (atau ketiga) negara, serta sifat tamak untuk mempertahankan kekuasaan, mencuri kekayaan alam milik Timur Tengah, dan lain sebagainya.

Padahal jika kembali ke pertanyaan awal tadi, tentunya masing-masing negara juga tidak ingin menempuh jalur perang (untuk menyelesaikan masalah).

Namun akibat luka di masa lalu sekaligus egoisme pribadi, perang pun dianggap sebagai satu-satunya solusi, untuk menjatuhkan pihak lain.

Jika meminjam sebait lirik dari salah satu lagu milik band Gigi berjudul “Perdamaian”, yang cukup populer di era 2000-an, yakni “banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai“. Maka sudah sepantasnya, bahwa orang-orang “serakah” akan selalu berusaha menghalalkan segala cara, untuk dapat mewujudkan nafsu mereka.

Kondisi demonstrasi yang terjadi di Pati, Jawa Tengah, pada 13 Agustus 2025 lalu, yang kemungkinan besar akan menjadi “perang domestik” secara nasional dalam waktu dekat (Foto: kompas.com)

Sementara di dalam negeri, Indonesia juga kemungkinan akan segera menghadapi “perang”.

Bukan berperang menghadapi musuh atau penjajah dari “antek-antek asing”, melainkan perang melawan pemerintahan dalam negeri, yang semakin ke sini sudah semakin zalim kepada rakyatnya sendiri.

Dan lagi-lagi, seluruh rakyat Indonesia juga tidak ada yang menghendaki terjadinya perang, apalagi jika harus berperang melawan pemerintahannya sendiri.

Namun dengan keadaan demokrasi yang sudah semakin rusak akhir-akhir ini, rasanya peluang untuk terjadinya “perang” sudah semakin terbuka lebar.

Tinggal menunggu waktu saja, “perang domestik” itu akan menjadi kenyataan.

Bahkan bisa jadi lebih parah dari masa kelam 1998 silam, saat rezim Soeharto terpaksa dilengserkan oleh rakyat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *