BoP, Berhala Politik Syahwat Kuasa Amerika - Mabur.co

BoP, Berhala Politik Syahwat Kuasa Amerika

Dahulu, bergabung dengan Board of Peace (BoP) mungkin tampak seperti ijtihad politik yang cerdik, dan gagah—sebuah upaya merajut damai dari dalam gelanggang sebelum mesiu Amerika dan Israel menyalak ke arah Iran.

Dan, kita menunggu langkah-langkah konkritnya, terutama buat kemerdekaan Palestina. Namun, sejarah lekas melahirkan ironi.

Tak lama dari deklarasi BoP itu, Trump sang arsitek yang menawarkan konon jalan perdamaian, justru hadir sebagai penabuh genderang perang.

Maka wajar kita patut sangsi. Ini bukan sekadar kekeliruan diplomasi, melainkan sebuah luka pada hati nurani ‘Bebas Aktif’ kita.

Bagaimana mungkin kita menyesap kopi di meja yang sama dengan mereka yang tangannya masih berbau amis darah dengan pelanggaran kedaulatan?

Di sana, Iran dipaksa meringkuk sendiri dalam pertahanan, sementara BoP menjelma menjadi berhala politik bagi syahwat kuasa Amerika.

Bukankah, nama “perdamaian” kini hanya menjadi seonggok papan nama yang usang, menutupi mesin perang yang terus menderu?

Kehadiran Indonesia di sana, kini mungkin bukan lagi diplomasi, melainkan sebuah stempel bisu bagi agresi yang merobek jantung Timur Tengah.

Ada sejarah panjang dan harga diri kita sebagai bangsa besar yang berdaulat kini terlalu mahal dipertaruhkan, ketika kita memilih setia pada sekutu yang justru menginjak-injak janji sucinya sendiri.

Jadi pantas saja Iran amat sangat kecewa. Kekecewaan yang semestinya dan bisa kita mengerti.

Bertahan terus dalam “pelukan” BoP, di saat sang inisiator memamerkan keangkuhan larasnya, adalah cacat logika sekaligus bukankah ini sebagai bentuk pengkhianatan moral?

Kita, kini nyata sedang mungkin “menggadaikan” kehormatan UUD 1945 yang mengharamkan penjajahan di atas bumi.

Jika kita terus bungkam seperti ini, kita akan malu pada anak cucu kita nanti, sebab kita kini tidak sedang merawat kedamaian; kita hanya menjadi perawat bagi ambisi perang yang membawa dunia ke ambang resesi dan puing kemanusiaan.

Jadi, menunggu alasan apalagi? Barangkali, sudah saatnya kita melangkah pulang, menjemput keberanian bersama barisan Muhammadiyah? ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *