BPS Sebut Pendapatan Penduduk Indonesia Rp7 Juta per Bulan, Orang Yogya Geleng Kepala

Mabur.co – Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu mengelurkan data yang mencatat rata-rata pendapatan penduduk Indonesia pada 2025 mencapai Rp83,7 juta  atau sekitar Rp6,97 juta per bulan. 

Menurut BPS jumlah tersebut naik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sebesar Rp78,6 juta per tahun atau Rp6,55 juta per bulan. 

Bagi orang Yogya, data statistik tersebut jelas sukar untuk bisa dipercaya.

Bagaimana mungkin dari sekitar 3,7 juta penduduk DIY mayoritas berpenghasilan hampir Rp7 juta setiap bulannya?

Sementara UMR/UMP DIY tahun 2026  tercatat hanya berkisar sebesar Rp2.417.495. Angka ini bahkan termasuk salah satu UMP/UMP terendah di Indonesia.  

Melihat mata pencaharian penduduk DIY, BPS DIY juga pernah mencatat mata pencaharian utama penduduk DIY didominasi dari sektor informal.

Itu artinya sebagian penduduk DIY saat ini bekerja dengan penghasilan tak tetap setiap harinya, baik itu dengan menjadi petani atau pembudidaya ikan, pedagang makanan, hingga penjual jasa. Misalnya saja seperti tukang becak hingga tukang bangunan.

Belum lagi jika melihat dari tingkat kemiskinannya.

Berdasarkan data per Maret 2025, BPS sendiri menyebut jumlah penduduk miskin di DIY mencapai 425,82 ribu jiwa atau sekitar 10,23 persennya adalah orang miskin.

Tingkat kemiskinan di DIY ini bahkan termasuk yang tertinggi di Jawa dan menempati urutan ke-16 secara nasional atau se-Indonesia. 

Penduduk miskin ini umumnya memiliki pengeluaran di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan, yang merupakan indikator tidak langsung dari pendapatan yang berada di bawah standar layak, atau di bawah UMR. 

Jika para pegawai toko rata-rata berpenghasilan UMR, lalu para buruh bangunan juga berpenghasilan tak jauh berbeda maka bagaimana mungkin orang Yogya akan menerima data statistik BPS yang menyebut rata-rata orang Indonesia berpenghasilan Rp7 juta per bulan? 

Kalaupun iya, mungkin data statistik itu muncul akibat saking jauhnya gap ketimpangan penghasilan, antara si miskin dan si kaya. Sehingga segelintir penghasilan si kaya, sampai-sampai bisa mengalahkan semua penghasilan mayoritas masyarakat di Indonesia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *